Sadopa adalah sandal tradisional masyarakat Bima yang digunakan berabad-abad lamanya. Mereka (nenek moyang masyarakat Bima) hidup menyatu dengan alam dan rata-rata berusia lebih dari seratus tahun. Kenapa usia mereka bisa seperti itu ? menurut penelitian, salah satunya adalah karena sandal Sadopa yang dipakainya sehari-hari yang cukup efektif untuk melancarkan peredaran darah terutama mulai dari kaki. Sadopa yang cukup keras dan berpadu dengan jalanan yang berbatu dan kerikil sangat membantu pijatan telapak kaki untuk memompa darah terutama ketika beraktifitas.
Sadopa Sandal Anti Rematik
Syair Kehidupan Lereng Lambitu
Masyarakat Sambori dan sekitarnya adalah masyarakat yang memiliki cita rasa seni tinggi. Syair – syair kehidupan dan keluguan peradaban tercecer dari mulut-mulut damai laki dan perempuan Sambori. Hampir seluruh aktifitas hidup di Sambori tidak terlepas dari syair dan nyanyian yang berisi pantun, nasehat, petuah serta pujian terhadap yang Maha Kuasa.Salah satu contoh adalah syair Belaleha yang berarti Hidup Mati Dengan Tuhan. Setelah Islam masuk di Sambori, syair Belaleha pun disesuaikan dengan ajaran dan aqidah Islam.
Kreajinan Dan Kreasi Masyarakat Sambori
Pada umumnya Kerajinan tradisional adalah proses pembuatan atau pengadaan
peralatan dan perlengkapan hidup mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, alat-alat transportasi dan lain sebagainya. Proses pembuatannya harus berpedoman pada nilai dan norma budaya, sebab semua perlengkapan hidup yang dibuat merupakan salah satu unsur budaya.Ketrampilan yang dimiliki oleh para pengrajin diperoleh dari warisan leluhur tanpa melalui pendidikan formal. Bermodalkan ketrampilan yanng dimiliki, mereka mampu membuat berbagai jenis barang walau dengan peralatan yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan, mudah diperoleh disekitar lingkungannya, antara lain Tumbuh-tumbuhan, Logam, Batu-batuan, tulang dan Kulit hewan dan sebagainya.
Ragam Tata Busana Sambori
Salah satu peralatan dan perlengkapan hidup yang sangat diperhatikan oleh masyrakat Sambori dan sekitarnya adalah “Kani Ro Lombo” (pakaian). Pengadaan pakaian harus berpedoman pada adat shahih (adat yang baik). Cara berpakaian, warna, bentuk serta jenisnya tidak boleh bertentangan dengan nilai dan hormat adat. Bagi Masyarakat Sambori, pakaian merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat. Fungsi utamanya adalah untuk menutup aurat, memilihara kesehatan, sebagai symbol status sosial dan untuk menambah kewibawaan bagi si pemakai.
Rumpun Budaya INGE NDAI
Lambitu adalah nama sebuah gugusan pegunungan di sisi tenggara Bima. Dalam Bahasa Bima lama, Lambitu berarti Runcing Menjulang. Di lereng gunung ini didiami oleh orang-orang –orang Donggo Ele yang menyebar mulai dari sisi utara hingga selatan yang kini menjadi desa-desa yaitu Desa Tarlawi ( masuk dalam wilayah kecamatan Wawo), Desa Kuta, Desa Teta, Desa Sambori, Kaboro, dan Kaowa. Pada tahun 2006, sesuai amanat Peraturan Daerah Kabupaten Bima Nomor 2 Tahun 2006 tentang pemekaran wilayah kecamatan Palibelo, Lambitu, Parado dan Soromandi Kabupaten Bima, Lima Desa yaitu Teta, Kuta, Sambori, Kaboro dan Kaowa masuk dalam wilayah kecamatan Lambitu.
La Lino
Satu lagi kekayaan warisan leluhur Dana Mbojo yang luput dari pengetahuan public.Kekayaan tak ternilai itu adalah sebuah Mushaf Alqur’an yang dijuluki La Lino. Saat ini, warisan dari abad 17 M itu menjadi koleksi Museum Baitul Qur’an Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. La Lino ditulis oleh Syekh Subur, seorang Imam Masjid Kesultanan Bima sekaligus guru dari Sultan Alaudin yang memerintah pada 1731 -1748 M. Selanjutnya jejak syekh Subur dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Abdul Gani Bima, guru besar di Madrasah Haramayn Masjidil Haram di penghujung abad 19.
Mpa’a Ngge’e Dan Kali Amba
Mpa’a Ngge’e terdiri dua kata, yaitu Mpa’a dan Ngge’e. Mpa’a berarti bermain, Ngge’e artinya “Tinggal”, dalam pengertian “Tempat Tinggal” dalam hal ini “Rumah”.Jadi Mpa’a Ngge’e adalah jenis dolanan yang meniru cara Ibu bersama Putri-putrinya dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti Mbako Ro Lowi (Memasak), atau sedang menyuguhkan hidangan untuk Orang tua dan keluarga. Sedangkan Kali Amba terdiri dari dua kata “Kali” dalam hal ini adalah “Bagai” atau ‘Seperti”, Amba berarti “Pasar”. Jadi Mpa’a Kali Amba berarti permainan yang bertemakan kegiatan jual beli seperti dipasar.
Rapuh Di Tiang Peradaban
Bangunan ini adalah sebuah Langgar(Mushalla) yang diperkirakan dibangun pada tahun 1608 M(sesuai tulisan pada papan nama yang dibuat Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Bima). Berarti usia bangunan ini sudah mencapai 404 tahun pada tahun 2012 ini. Langgar Kuno, demikianlah warga RT 14 RW 06 Kelurahan Melayu Kecamatan Aso Kota Kota Bima menyebut bangunan yang bertiang 16 dengan ukuran 8 x 8 meter ini. Berdiri rapuh menanti roboh di pinggir teluk Bima yang indah, tenang dan damai.
Karya Alan Malingi
Kembalinya Sang Putera Mahkota
Buku ini adalah sebuah Roman Sejarah yang erat kaitannya dengan sejarah hubungan Bima-Makassar di masa lampau. Buku setebal 146 halaman dan dicetak Megatama Mandiri Jakarta pada tahun 2007 ini mengisahkan tentang proses peralihan antara masa kerajaan dan kesultanan Bima dan hubungan yang harmonis antara Bima-Makassar. Antara Abad 16 hingga 17 Masehi, Kerajaan Bima diguncang prahara. Salisi yang bergelar Mantau Asi Peka yang dibantu Belanda merebut paksa tahta kerajaan dari pewaris yang sah. Salah seorang Putra Mahkota yang bernama La Ka’I sebagai pewaris tahta yang baru berusia 9 tahun dalam kondisi terancam. Pamannya Salisi merencanakan pembunuhan atas La Ka’i. Rencana itu tercium oleh para pejabat kerajaan dan panglima perang yang masih setia kepada kerajaan. La Ka’i diungsikan dan bergerilya di hutan belantara.
Komodo Dalam Surat Sultan Bima
Saat ini publik mengetahui bahwa Komodo, reptile terbesar di abad ini yang telah menjadi “The Seven Wonder “ versi UNESCO itu berada di wilayah Propinsi NTT. Tapi pada masa lalu pulau Manggarai, Flores dan sekitarnya, termasuk pulau kecil Rinca dan Padar, tempat Komodo itu tinggal merupakan bagian dari teritorial kerajaan Bima.Tulisan ini sebenarnya mempertegas kembali infomasi yang dihimpun adinda Ko’o Sumiyati, mahasiswi Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Angkatan 2007 berkaitan dengan kiprah Sultan Ibrahim ( Ma Wa’a Taho Parange, 1881-1915) untuk menjaga,merawat dan melestarikan ekosistim dan spesies Komodo dari kepunahan. Dengan kata lain bahwa upaya pelestarian Komodo sebenarnya sudah dilakukan oleh kearifan local tempo dulu melalui surat dan peraturan hadat yang dibuat Sultan Ibrahim bersama masyarakat di wilayah Manggarai dan sekitarnya.