Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang

Mendampingi tim jejak petualang Trans 7 di beberapa tempat di Bima selama akhir pekan dan liburan kali ini, saya mendapat oleh oleh berharga untuk berbagi. Ya, sebuah pengalaman menarik sekaligus menantang tentang kekayaan khasanah budaya Mbojo yang masih banyak yang belum diekspose dalam balutan keindahan alam Dana Mbojo. Menyambangi kampung Sangiang darat, saya mendapatkan duaLanjutkan membaca “Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang”

Sagele telah didaftarkan Makembo sebagai salah satu Pranata Adat melalui Dinas Budpar Propinsi NTB tahun 2016. Tradisi menanam masyarakat Bima dengan bersenandung yang diiringi alat music Biola dan Gambo ini belakangan ini telah menarik perhatian public. Perlengkapan Sagele adalah Cu a, Tongkat kayu yang diruncingkan ujungnya, Bajo Dei atau kadudu dei dan busana Rimpu sertaLanjutkan membaca

Gemulai Sanggar

Dalam balutan keindahan Senja di pantai So Tengke desa Boro kecamatan Sanggar, tim Majelis Kebudayaan Mbojo,Mecidana dan Birokrat Jalan Jalan mendokumentasikan 2 Tarian klasik Sanggar yaitu Ngona Ngona sama atau Sampola Winen dan Tari Toja Ro Dewa. Ngona ngona sama berarti bermain bersama.Sebuah persembahan tari klasik yang dimainkan oleh remaja puteri sebagai ungkapan kegembiraan atasLanjutkan membaca “Gemulai Sanggar”

Seni Bela Diri Gantao

Mpa’a Gantao adalah salah satu jenis tarian rakyat dan adu ketangkasan bela diri menggunakan tangan kosong. Mpa’a Gantao diperkirakan hadir di Bima akibat kontak budaya dengan Makassar. Mpa’a Gantao digelar untuk hajatan-hajatan warga dan acara hiburan. Mpa’a Gantao  diiringi alunan musik Gendang, Gong, Serunai(Sarone), dan Tawa-tawa. Penabuhnya ada 5 orang terdiri dari 2 orang penabuhLanjutkan membaca “Seni Bela Diri Gantao”

Makembo Data Pranata Adat Bima

Bima atau yang juga dikenal dengan Dana Mbojo kaya akan pranata adat yang tersebar bak di Kota Bima, kabupaten Bima bahkan di Kabupaten Dompu. Pranata adat adalah  norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. Norma/aturan dalam pranata berbentuk tertulis (undang-undang dasar, undang-undang yang berlaku, sanksi sesuai hukum resmi yang berlaku) dan tidak tertulis (hukum adat, kebiasaan yang berlaku, sanksinyaLanjutkan membaca “Makembo Data Pranata Adat Bima”

Uma Panggu Mbojo

Bagi masyarakat Bima Rumah atau Uma Ngge’e Kai  merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan keluarga. Dalam falsafah masyarakat Bima lama bahwa orang yang baik itu  yang berasal dari keturunan yang baik, harus mempunyai istri yang berbudi mulia, rumah yang kuat dan indah, senjata pusaka yang sakti dan kuda tunggang yang lincah. Dari ungkapan di atas,Lanjutkan membaca “Uma Panggu Mbojo”

Wajah Kesenian Donggo

Para Antropolog dan sejarahwan bependapat bahwa Dou Donggo atau orang Donggo yang hidup di dataran tinggi di sebelah barat teluk Bima dan sebelah tenggara teluk Bima adalah penduduk asli Bima. Mereka adalah pendukung kebudayaan awal di Dana Mbojo(Tanah Bima). Orang Donggo di sebelah barat Teluk Bima disebut Dou Donggo Ipa. Sementara orang Donggo di sebelahLanjutkan membaca “Wajah Kesenian Donggo”

Menari Bersama Awan

Gerakan dalam tarian ini adalah gerakan melayang bersama selendang. Gerakan ini mengingatkan kisah percintaan antara Raja Indra Zamrut dengan puteri Kayangan. Indra Zamrut dalam kisah itu bernama Sangaji dan puteri kayangan bernama puteri Indah. Kisah cinta itu diabadikan dalam alunan gerakan tari yang disebut dengan tari Toja. Tarian ini adalah salah satu jenis Tari KlasikLanjutkan membaca “Menari Bersama Awan”

Tarian Pelapas Arwah

Tarian ini merupakan atraski tarian tertua di tanah Bima. Kalero merupakan tarian pelepasan arwah yang berawal dari tradisi masyarakat Donggo lama untuk menghormati dan melepas kepergian anggota keluarga, sahabat dan kerabatnya keharibaan Yang Maha Kuasa. Kalero adalah tarian dan nyanyian yang berisi ratapan, pujian, pengharapan dan penghormatan terhadap arwah. Hal ini dapat dilihat dari atributLanjutkan membaca “Tarian Pelapas Arwah”

Pakaian Adat Wanita Mbojo

Pada masa lalu, wanita Mbojo memiliki tata busana harian yang terdiri dari Baju Bodo atau Baju Poro yaitu baju berlengan pendek yang mendapat  pengaruh dari Makasar. Warna baju Bodo  melambangkan status pemakaianya. Baju Poro berwarna merah adalah untuk para gadis. Baju Poro berwarna hitam dan ungu adalah untuk kaum ibu. Sedangkan warna kuning dan hijauLanjutkan membaca “Pakaian Adat Wanita Mbojo”