Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang

18157475_10203287325939445_3022708551580206071_nMendampingi tim jejak petualang Trans 7 di beberapa tempat di Bima selama akhir pekan dan liburan kali ini, saya mendapat oleh oleh berharga untuk berbagi. Ya, sebuah pengalaman menarik sekaligus menantang tentang kekayaan khasanah budaya Mbojo yang masih banyak yang belum diekspose dalam balutan keindahan alam Dana Mbojo. Menyambangi kampung Sangiang darat, saya mendapatkan dua sarung yang usianya sudah tua dan bahannya murni dari kapas di pulau sangiang dan proses pembuatannya melewati 12 tahapan secara tradisional dengan alat yang sederhana dan pewarna alami yang dikenal dengan Ro o Dau.

Baca lebih lanjut

Iklan

sagele2Sagele telah didaftarkan Makembo sebagai salah satu Pranata Adat melalui Dinas Budpar Propinsi NTB tahun 2016. Tradisi menanam masyarakat Bima dengan bersenandung yang diiringi alat music Biola dan Gambo ini belakangan ini telah menarik perhatian public. Perlengkapan Sagele adalah Cu a, Tongkat kayu yang diruncingkan ujungnya, Bajo Dei atau kadudu dei dan busana Rimpu serta Tutupan kepala seperti sarau atau camping. Dulu setiap sagele menggunakan rimpu.Tapi sekarang sudah berbusana bebas dengan trening atau baju kaos lengan panjang.

Baca lebih lanjut

Gemulai Sanggar

gemulai-sanggarDalam balutan keindahan Senja di pantai So Tengke desa Boro kecamatan Sanggar, tim Majelis Kebudayaan Mbojo,Mecidana dan Birokrat Jalan Jalan mendokumentasikan 2 Tarian klasik Sanggar yaitu Ngona Ngona sama atau Sampola Winen dan Tari Toja Ro Dewa. Ngona ngona sama berarti bermain bersama.Sebuah persembahan tari klasik yang dimainkan oleh remaja puteri sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah.Sedangkan Toja ro Dewa adalah tarian persembahan untuk Raja dan Roh Halus. Tapi saat ini tarian klasik Sanggar dipersembahkan sebagai hiburan biasa.

Baca lebih lanjut

Seni Bela Diri Gantao

SONY DSCMpa’a Gantao adalah salah satu jenis tarian rakyat dan adu ketangkasan bela diri menggunakan tangan kosong. Mpa’a Gantao diperkirakan hadir di Bima akibat kontak budaya dengan Makassar. Mpa’a Gantao digelar untuk hajatan-hajatan warga dan acara hiburan. Mpa’a Gantao  diiringi alunan musik Gendang, Gong, Serunai(Sarone), dan Tawa-tawa. Penabuhnya ada 5 orang terdiri dari 2 orang penabuh gendang kecil, satu orang pemukul Gong, peniup Sarone (Serunai Khas Bima), dan pemukul Tawa-tawa( katongga).

Baca lebih lanjut

Makembo Data Pranata Adat Bima

14369855_10207532135001667_4862156163432700627_nBima atau yang juga dikenal dengan Dana Mbojo kaya akan pranata adat yang tersebar bak di Kota Bima, kabupaten Bima bahkan di Kabupaten Dompu. Pranata adat adalah  norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. Norma/aturan dalam pranata berbentuk tertulis (undang-undang dasar, undang-undang yang berlaku, sanksi sesuai hukum resmi yang berlaku) dan tidak tertulis (hukum adat, kebiasaan yang berlaku, sanksinya ialah sanksi sosial/moral (misalkan dikucilkan)). Pranata bersifat mengikat dan relatif lama serta memiliki ciri-ciri tertentu yaitu simbol, nilai, aturan main, tujuan, kelengkapan, dan umur.

Baca lebih lanjut

Uma Panggu Mbojo

uma-pangguBagi masyarakat Bima Rumah atau Uma Ngge’e Kai  merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan keluarga. Dalam falsafah masyarakat Bima lama bahwa orang yang baik itu  yang berasal dari keturunan yang baik, harus mempunyai istri yang berbudi mulia, rumah yang kuat dan indah, senjata pusaka yang sakti dan kuda tunggang yang lincah. Dari ungkapan di atas, jelaslah bahwa rumah merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh diabaikan. Karena itu dalam membangun rumah  harus memilih PANGGITA atau arsitek yang memiliki Loa Ra Tingi yang tinggi dan berakhlak mulia. Panggita juga harus memahami SASATO (Sifat atau pribadi) pemilik  rumah. Baku Ro Uku atau bentuk dan ukuran dalam arti tata ruang harus disesuaikan dengan sifat dan kepribadian pemilik rumah.

Baca lebih lanjut

Wajah Kesenian Donggo

mpisi
Mpisi

Para Antropolog dan sejarahwan bependapat bahwa Dou Donggo atau orang Donggo yang hidup di dataran tinggi di sebelah barat teluk Bima dan sebelah tenggara teluk Bima adalah penduduk asli Bima. Mereka adalah pendukung kebudayaan awal di Dana Mbojo(Tanah Bima). Orang Donggo di sebelah barat Teluk Bima disebut Dou Donggo Ipa. Sementara orang Donggo di sebelah tenggara teluk Bima disebut Dou Donggo Ele. Orang Donggo Ele juga menyebut dirinya rumpun Inge Ndai atau dalam bahasa Bima disebut Angi Ndai yang berarti orang-orang sesaudara dan serumpun. Donggo Ipa meliputi orang-orang yang mendiami kecamatan Donggo dan Soromandi sekarang. Sedangkan Donggo ele adalah orang-orang yang mendiami kecamatan Wawo, La Mbitu dan di pegunungan Langgudu yaitu di desa Kalodu dan Kawuwu sekitarnya.

Baca lebih lanjut

Menari Bersama Awan

tojaGerakan dalam tarian ini adalah gerakan melayang bersama selendang. Gerakan ini mengingatkan kisah percintaan antara Raja Indra Zamrut dengan puteri Kayangan. Indra Zamrut dalam kisah itu bernama Sangaji dan puteri kayangan bernama puteri Indah. Kisah cinta itu diabadikan dalam alunan gerakan tari yang disebut dengan tari Toja. Tarian ini adalah salah satu jenis Tari Klasik Istana Bima yang tertua. Para penari perempuan mengenakan selendang dan memperagakan gerakan gerakan melambai dan terbang seperti kisah percintaan antara Indra Zamrut dengan puteri Khayangan. Dengan gerakan lemah gemulai seakan mereka menari bersama awan.

Baca lebih lanjut