Meja Peninggalan Raja Sanggar

19512267_10203553251187410_198493576_nMeja ini berada di kediaman Syafiun Maman 65 Tahun,pensiunan Penilik Kebudayaan dan kepala cabang Dinas Dikbud Kecamatan Sanggar, Menurut Ode, sapaan akrabnya, Meja ini adalah meja sultan Sanggar yang terakhir yang bernama Raja Abdullah. Meskipun sudah pecah dibagian pinggirnya, namun masih bisa dipasang kembali. Dari tulisan dibelakang meja marmer ini terlihat tuisan S.G.E, 8901 SOERABAJA PROD OF ITALY.

Baca lebih lanjut

Sarata Dan Karya Besar Sultan Ismail

19225691_10203516669152882_6764038813551471780_nSarata adalah nama kompleks pemukiman di tepi tleuk Bima di sebelah barat pasar Bima. Kompleks ini masuk dalam lingkungan kelurahan Paruga Kota Bima. Lain dulu lain sekarang.Pada eta hingga tahun 1990 kompleks Sarata adalah tambak tambak atau yang dikenal dengan Ombo. Tetapi sekarang kompleks tambak ini telah beubah fungsi menjadi hunian dan kompleks pemukiman. Sarata adalah salah satu karya dan kerja keras Sultan Ismail Muhammad Syah. Sultan Bima ke 10 yang memerintah tahun 1819 – 1854. Masa pemerintahan sultan ismail adalah masa yang teramat sulit bagi kerajaan Bima dan sekitarnya. Karena paska letusan dahsyat Tambora 1815, Bima mengalami keterpurukan ekonomi.

Baca lebih lanjut

Jejak-Jejak Pabise

19247792_10203512124519269_2236924555840897960_nMemandang teluk Bima angan pun melayang ke masa silam. Membayangkan jejak jejak kejayaan armada laut Bima yang dikenal dengan Pabise. Abad ke 15 menjadi momentum penting perluasan wilayah kerajaan Bima ke Manggarai dan sekitarnya hingga Solor Perluasan wilayah itu tidak terlepas dari kehebatan Pabise dan 2 putera Bilmana yaitu La Mbila dan La Ara. Berbekal Keris La Kalilo, La Mbila melakukan ekspedisi ke timur hingga menguasai Manggarai. La Mbila pun mendapat julukan Ma Kapiri solor atau yang menguasai Solor.

  Baca lebih lanjut

Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang

18157475_10203287325939445_3022708551580206071_nMendampingi tim jejak petualang Trans 7 di beberapa tempat di Bima selama akhir pekan dan liburan kali ini, saya mendapat oleh oleh berharga untuk berbagi. Ya, sebuah pengalaman menarik sekaligus menantang tentang kekayaan khasanah budaya Mbojo yang masih banyak yang belum diekspose dalam balutan keindahan alam Dana Mbojo. Menyambangi kampung Sangiang darat, saya mendapatkan dua sarung yang usianya sudah tua dan bahannya murni dari kapas di pulau sangiang dan proses pembuatannya melewati 12 tahapan secara tradisional dengan alat yang sederhana dan pewarna alami yang dikenal dengan Ro o Dau.

Baca lebih lanjut

Nuru, Mutiara Yang Hilang

nuruMutiara Mbojo yang mulai hilang saat ini adalah Nuru. Nuru atau Ngg’e Nuru sebagai tradisi turun temurun masyarakat Bima-Dompu mengandung pengertian sebagai bentuk pengabdian. Nuru merupakan satu kata yang memiliki dua pengertian. Pengertian Pertama adalah calon suami tinggal bersama di rumah calon mertua. Setelah pria sudah diterima lamarannya dan bila kedua belah pihak menghendaki, sang pria diperkenankan tinggal bersama calon mertua di rumah calon mertua. Selama ngge’e nuru, sang pria harus memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik kepada calon mertuanya. Bila selama ngge’e nuru ini sang pria memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang tidak sopan, malas dan sebagainya, atau tak pernah melakukan shalat, lamaran bisa dibatalkan secara sepihak oleh keluarga perempuan. Ini berarti ikatan sodi angi diantara dua remaja tadi putus.

Baca lebih lanjut

Ladang Jodoh

so-oi-naa2Pak Ismail pemilik ladang di So Oi Na’a di kawasan Ncai Kapenta Kota Bima menuturkan bahwa di sekitar kawasan ini dulu merupakan tempat persinggahan warga Bima yang menuju ke Wera dan demikian pula sebaliknya. Dulu, perjalanan ke Wera Timur ditempuh dalam satu minggu menggunakan kuda.. Kuda tersebut dilengkapi pelana besar karena memuat beban berupa padi dan perbekalan selama perjalanan. Kuda berpelana besar ini dikenal dengan istilah Jara Kapa Na e. Yang juga dapat mengangkut kaum wanita yang tidak kuat jalan.

Baca lebih lanjut

Salam Lestari Dari Makembo

salam-lestari-makemboMendokumentasikan dan meliput kesenian dan budaya adalah salah satu upaya menggali, mengangkat, memperkenalkan dan mempromosikan serta melestarikan kesenian dan budaya. Tanpa itu, kesenian dan budaya tidak akan pernah dikenang dan dikenal. Sejak awal terbentuk, Komunitas Budaya Makembo berpatner dengan Kosambo, Mecidana dan BJJ serta Armada Finance. Hasilnya, memang telah banyak melakukan pendokumentasian kesenian baik di kota maupun Kabupaten Bima. Kegiatan itu sama sekali berlatarbelakang kepedulian atas eksistensi kesenian dan kebudayaan Mbojo dan pendanaannya adalah murni swadaya Makembo dan patnernya serta para donatur . Selama kegiatan itu, Makembo tidak pernah melayangkan proposal ke Pemerintah.

Baca lebih lanjut

sagele2Sagele telah didaftarkan Makembo sebagai salah satu Pranata Adat melalui Dinas Budpar Propinsi NTB tahun 2016. Tradisi menanam masyarakat Bima dengan bersenandung yang diiringi alat music Biola dan Gambo ini belakangan ini telah menarik perhatian public. Perlengkapan Sagele adalah Cu a, Tongkat kayu yang diruncingkan ujungnya, Bajo Dei atau kadudu dei dan busana Rimpu serta Tutupan kepala seperti sarau atau camping. Dulu setiap sagele menggunakan rimpu.Tapi sekarang sudah berbusana bebas dengan trening atau baju kaos lengan panjang.

Baca lebih lanjut

Makna Sera Suba Bagi Masyarakat Bima

serasuba
Foto : Fahru Rizki 

Mungkin belum begitu banyak yang tahu kenapa tanah lapang yang berada di pusat Kota Bima atau di sebelah barat Museum Asi Mbojo ini dinamakan Sera Suba. Kebanyakan orang mengetahui bahwa lapangan itu bernama lapangan Merdeka Bima. Tapi latar belakang penamaan lapangan Merdeka pun mungkin juga belum banyak orang yang mengetahui. Berikut ini catatan ringan tentang Sera Suba yang senantiasa menjadi Saksi bisu pasang surut sejarah tanah Bima.

Baca lebih lanjut