Jejak Ma Kapiri Solor Di Manggarai

Pada Abad 15, kerajaan Bima mengalami kesulitan ekonomi. Kelaparan dan kemiskinan merajalela. Bajak laut merajalela dan mengancam eksistensi kerajaan. Perdana Menteri Bilmana melakukan gebrakan dan terobosan dengan membuka dan mencetak sawah-sawah baru. Bilmana memberikan tugas berat kepada kedua puteranya yaitu    La Mbila  dan adiknya La Ara untuk menumpas Bajak Laut. Bilmana memberikan keris pusaka yangLanjutkan membaca “Jejak Ma Kapiri Solor Di Manggarai”

Raja Masa Kini

Sejak tahun 1994 telah digagas Festival Keraton Nusantara oleh Forum Komunikasi Dan informasi Keraton Nusantara(FKIKN). Bima adalah salah satu penggagas event budaya nusantara itu. Menurut Almarhumah Dr.Hj. Siti Maryam Salahuddin, syarat untuk bergabung di FKIK kala itu cukup ketat yaitu khusus untuk lembaga kerajaan dan kesultanan yang masih memiliki istana, memiliki Raja atau Sultan, memilikiLanjutkan membaca “Raja Masa Kini”

Surat Dari Manggarai

Senin pagi, (28/8/2017 ) warga Desa Lale kecamatan Welak kabupaten Manggarai Barat dihebohkan dengan penemuan beberapa helai naskah yang beraksara Arab Melayu di masjid desa Lale. Naskah itu disimpan oleh Imam masjid setempat. Naskah ini sebagaimana sering dikatakan oleh almarhumah Dr.Hj. Siti Maryam Salahuddin sebagai naskah BO yang tercecer di berbagai tempat yang dulu memangLanjutkan membaca “Surat Dari Manggarai”

Ranjang Bung Karno

Salah satu koleksi unik Museum Asi Mbojo adalah keberadaan 8 ranjang di lantai dua. Salah satu kamar dan ranjang itu pernah menjadi tempat peristirahatan Sang Prokolamator Kemerdekaan RI Soekarno. Untuk mengabadikan kenangan kunjungan Bung Karno, Museum Asi Mbojo memberikan nama kamar itu dengan Kamar Bung Karno. Ranjang berkelambu putih memiliki panjang 212 cm, lebar 182Lanjutkan membaca “Ranjang Bung Karno”

Lonceng Koleksi Museum Asi Mbojo

Loncemg Peninggalan masa kolonial yang menjadi salah satu koleksi Museum Asi Mbojo. Terbuat dari besi berangka tahun 1735 M. Sezaman dengan masa pemerintahan Sultan Bima ke 6 Alauddin Muhammadsyah antara tahun1731-1742 M. Pada masa lalu, lonceng ini dipukul sebagai penanda waktu dan pada acara penting di Istana Bima. Lonceng serupa juga disimpan di Lare Lare(Lanjutkan membaca “Lonceng Koleksi Museum Asi Mbojo”