Pusaka Sastra Bima

sastra mbojoTidaklah berlebihan saya memberi label bahwa Bima( Mbojo) adalah tanah pusaka. Bima memiliki warisan yang lengkap mulai dari pesona alam, sejarah dan budaya. Keindahan yang terbentang mengelilingi Bima adalah anugerah sang pencipta yang tiada tara. Laut dan pantai,lekukan teluk, memanjakkan mata selama kita mengelilingi tanah Bima.Pusaka dalam bahasa Bima adalah Pasaka. Sedangkan Dana Mbojo adalah tanah Bima.

Lanjutkan membaca “Pusaka Sastra Bima”

Kue Gempa

pangaha epuSepintas kue ini mirip Jalangkote. Tapi yang membedakan isinya lho. Kalau Jalangkote isinya toge. Cara makan Jalangkote dengan air cabe atau oi saha. Pangaha Epu isinya kelapa parut yang dicampur gula merah dan gula putih. Pangaha berarti jajan atau kue. Epu berarti gempa. Pangaha Epu berarti Kue Gempa.

Lanjutkan membaca “Kue Gempa”

Menyelamatkan Bahasa Inge Ndai

inge ndaiSelasa siang, 23 Juni 2020 di ruang lobi Sultan Nuruddin Museum Asi Mbojo, saya menerima dua tamu yaitu Drs. H.Anwar Hasnun dan Rahmatia Ardila. Anwar Hasnun adalah budayawan, tokoh bahasa dan sastra yang telah banyak menulis buku tentang sastra lisan Bima.Rahmatia Ardila adalah mahasiswa paska sarjana Universitas Negeri Semarang yang sedang menyelesaikan tesis dengan judul
“Pemertahanan Bahasa Inge Ndai dalam Ranah Keluarga pada Masyarakat Lambitu”

Lanjutkan membaca “Menyelamatkan Bahasa Inge Ndai”

Butir Pancasila Dalam Falsafah Maja Labo Dahu

1200px-National_emblem_of_Indonesia_Garuda_Pancasila.svgPada tulisan sebelumnya, saya menguraikan tentang Maja Labo Dahu sebagai pancasila bagi Dou Mbojo yang mencakup beberapa nilai falsafah yang berkaitan dengan aspek nilai pancasila seperti Su’u Sawa’u Sia Sawale, Nggahi Rawi Pahu, Tohompa ra Nahu Sura Dou Labo Dana serta nilai dari kata Maja dan Dahu itu sendiri.

Lanjutkan membaca “Butir Pancasila Dalam Falsafah Maja Labo Dahu”

Pancasila Dan Maja Labo Dahu

101061054_10207547816209039_6258190889881960448_oPancasila adalah kristalisasi nilai yang tumbuh bersemi dalam kehidupan masyarakat nusantara selama berabd lamanya. Pancasila lahir dari buah pemikiran orang orang yang cerdas dan tercerahkan dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau golongan. Salah satu pengorbanan itu adalah penghapusan 7 kata dalam Piagam Jakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Lanjutkan membaca “Pancasila Dan Maja Labo Dahu”

Tio Wura Tradisi Ramadan Dan Syawal Di Bima

fase bulanTio berarti melihat. Wura berarti bulan. Dalam hal ini Tio Wura berarti mengamati bulan untuk menetapkan awal ramadan dan 1 syawal setiap tahunnya. Dulu sebelum ditemukan tekhologi canggih untuk menetapkan awal ramadan dan syawal, orang orang Bima pergi ke pegunungan Lambitu untuk mengamati bulan. Kesultanan Bima pun mengutus pejabat kerajaan dan ulama untuk mengamati bulan. Hasil pengamatan itu dilaporkan kepada sultan dan diumumkanlah secara serentak awal ramadan dan syawal setiap tahunnya.

Lanjutkan membaca “Tio Wura Tradisi Ramadan Dan Syawal Di Bima”

Ajaran Dua Belas

ilustrasi ajaran dua belasSelasa, 22 Dzulkaidah 1203 Hijriah atau bertepatan dengan 15 Agustus 1789, Sultan Bima Abdul Hamid Muhammadsyah mengeluarkan sebuah dekrit penetapan lambang kesultanan Bima yaitu garuda berkepala dua yang menoleh ke kiri dan ke kanan sebagai lambang keseteraan hukum adat dan hukum islam. Pada sayap kanan burung garuda memiliki 12 helai yang merupakan lambang hukum islam. Bulu luar sebanyak 7 helai melambangkan ilmu fiqih dengan 7 buah kitab sebagai sumber. 5 helai pada bulu bagian dalam melambangkan 3 ilmu tauhid dan 2 ilmu tasawuf. 12 kitab sumber itu didasari oleh buah pikiran ulama ulama besar dari abad ke 7 hingga abad ke 13 yang dikenal dengan ajaran dua belas atau ahlus-Sunmah wal jama’ah. Ajaran Dua belas ini tentunya tidak sama dengan imam dua belas dalam ajaran syiah.

Lanjutkan membaca “Ajaran Dua Belas”

Baeneba, Kue Super Manis Dari Bima-Dompu

96280973_577338782894001_4548926186771709952_nKue tradisional Bima-Dompu ini disebut Baeneba. Kadang disebut Baeba. Sampai saat ini saya belum menemukan arti baeneba. Menurut saya, kue ini adalah kue yang super manis dalam jajaran kue tradisional Bima Dompu. Dibutuhkan banyak gula dalam pembuatan Baeneba. Sedikitnya dibutuhkan 400 gram gula untuk pembuatannya. 150 gram gula merah untuk pembuatan adonan kue baeneba dan 250 gram gula merah untuk saos atau kuahnya.

Lanjutkan membaca “Baeneba, Kue Super Manis Dari Bima-Dompu”

Prahara Kerajaan Bima Abad 17

salisi.suasana kehidupan masyarakat Donggo tempo dulu.Abad pertengahan adalah antara abad 16 dan 17. Abad ini juga dikenal dengan zaman penjelajahan samudera dan kontak orang orang Eropa mulai marak di Bumi Nusantara yang kaya rempah rempah. Mulai memasuki abad ke 17, utusan Steven Van Hagen melakukan kontak dengan kerajaan Bima dibawah Raja Salisi di pelabuhan Ncake ( sekarang Cenggu).

Siapakah Raja Salisi?

Lanjutkan membaca “Prahara Kerajaan Bima Abad 17”