Potensi Olahan Garam Yodium Di Bima

Foto udara kawasan tambak ikan bandeng di Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, NTB, Selasa (9/6).
Foto : beritadaerah.co.id

Produksi garam di Kabupaten Bima pertahun berkisar 152.739 ton dengan luas area 1.743.02 Ha yang tersebar di sejumlah wilayah yang merupakan sentra garam seperti di Kecamatan Bolo, Woha, Palibelo, Lambu dan Monta. Berawal dari pertanian di ladang-ladang garam secara tradisional, industri Garam di Kabupaten Bima terus berkembang hingga menjadikan garam sebagai salah satu komoditi unggulan Kabupaten Bima. Komoditi ini menjadi salah satu sektor industri yang memberi penghidupan bagi banyak masyarakat di sentra-sentra produksi, hal ini disebabkan oleh tingkat kebutuhan dan rangkaian kegiatan yang menyertai keberadaan garam.

Baca lebih lanjut

MahasiswaUI Teliti Uma Lengge

19894622_10203636246942252_6140194400549769895_nBima kaya akan warisan seni arsitektur tradisional seperti Uma Lengge, Uma Panggung, serta bangunan berbentuk Nggusu Waru. Kekayaan itu harus terus dilestarikan sehingga akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal itu diungkapkan oleh Asisten Administrasi Umum Setda kabupaten Bima H. Makruf,SE.MM saat menerima Tim peneliti Uma Lengge dari ikatan mahasiswa Tehnik Arsitektur Universitas Inonesia pada Rabu, 12 Juli 2017 di ruang Rapat Bupati Bima.

Baca lebih lanjut

Ekskursi Uma Lengge

19732146_10203621624176692_7305632621434943326_nKeunikan desain arsitektur Uma Lengge mendapat perhatian dari Ikatan Mahasiswa Tehnik Arsitektur Universitas Indonesia untuk melakukan penelitian di tiga lokasi yaitu di Donggo,Wawo dan Sambori. Tim Advance Ekskursi, Raka dkk telah melakukan survey awal dan serangkaian koordinasi dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Bima untuk persiapan kedatangan Tim peneliti yang berjunlah 26 orang Pada tanggal 11 Juli 2017 dan pwnerimaan resmi oleh Bupati Bima pada tanggal 12 Juli 2017 yang selanjutnya akan menyebar di Wawo, Donggo dan Sambori.

Baca lebih lanjut

Meja Peninggalan Raja Sanggar

19512267_10203553251187410_198493576_nMeja ini berada di kediaman Syafiun Maman 65 Tahun,pensiunan Penilik Kebudayaan dan kepala cabang Dinas Dikbud Kecamatan Sanggar, Menurut Ode, sapaan akrabnya, Meja ini adalah meja sultan Sanggar yang terakhir yang bernama Raja Abdullah. Meskipun sudah pecah dibagian pinggirnya, namun masih bisa dipasang kembali. Dari tulisan dibelakang meja marmer ini terlihat tuisan S.G.E, 8901 SOERABAJA PROD OF ITALY.

Baca lebih lanjut

Sarata Dan Karya Besar Sultan Ismail

19225691_10203516669152882_6764038813551471780_nSarata adalah nama kompleks pemukiman di tepi tleuk Bima di sebelah barat pasar Bima. Kompleks ini masuk dalam lingkungan kelurahan Paruga Kota Bima. Lain dulu lain sekarang.Pada eta hingga tahun 1990 kompleks Sarata adalah tambak tambak atau yang dikenal dengan Ombo. Tetapi sekarang kompleks tambak ini telah beubah fungsi menjadi hunian dan kompleks pemukiman. Sarata adalah salah satu karya dan kerja keras Sultan Ismail Muhammad Syah. Sultan Bima ke 10 yang memerintah tahun 1819 – 1854. Masa pemerintahan sultan ismail adalah masa yang teramat sulit bagi kerajaan Bima dan sekitarnya. Karena paska letusan dahsyat Tambora 1815, Bima mengalami keterpurukan ekonomi.

Baca lebih lanjut

Menghimpun Jejak Islam Di Dana Mbojo

19366577_279831432483061_2872547718516603969_nPeradaban Islam di Dana Mbojo banyak meninggalkan jejak, baik berupa makam, masjid, naskah, ornamen dan ragam hias, hingga tradisi dan seni budaya. Kiprah kesultanan Bima selama 311 tahun telah memberikan banyak jejak yang perlu dilakukan inventarisasi kembali untuk diteliti dan menjadi bahan kajian-kajian tentang keberadaan situs-situs kejayaan islam di tanah Bima. Salah satunya adalah Langgar Kuno Melayu yang saat ini sedang gencar ditata dan diperbaiki oleh elemen-elemen masyarakat yang peduli. Mereka datang dari berbagai organisasi dan profesi serta perorangan. Langgar Kuno Melayu memang minim perhatian pemerintah. Apalagi pasca banjir bandang Kota Bima Desember 2016.

Baca lebih lanjut

Jejak-Jejak Pabise

19247792_10203512124519269_2236924555840897960_nMemandang teluk Bima angan pun melayang ke masa silam. Membayangkan jejak jejak kejayaan armada laut Bima yang dikenal dengan Pabise. Abad ke 15 menjadi momentum penting perluasan wilayah kerajaan Bima ke Manggarai dan sekitarnya hingga Solor Perluasan wilayah itu tidak terlepas dari kehebatan Pabise dan 2 putera Bilmana yaitu La Mbila dan La Ara. Berbekal Keris La Kalilo, La Mbila melakukan ekspedisi ke timur hingga menguasai Manggarai. La Mbila pun mendapat julukan Ma Kapiri solor atau yang menguasai Solor.

  Baca lebih lanjut

Panorama Di Bibir Nggelu

18342787_259734434492761_1696693080374578739_nDebur ombak, nyanyian burung laut yang berpadu dengan desir angin adalah senandung alam di bibir pantai Nggelu yang eksotik ini. Menurut cerita warga, teluk mungil yang diapit dua tanjung inilah pintu gerbang pertama kedatangan mubaliq di tanah Sape. Para mubaliq berlabuh di di bibir teluk ini yang langsung berhadapan dengan hilir Sungai Nanga Nae. Jika diamati keadaan sekitar, teluk Nggelu dan Nanga nae memang sangat strategis dan tersembunyi. Teluk Nggelu diapit oleh dua Tanjung atau Toro yaiitu Toro Ta’a dan Toro Sobu Nasi.

18300938_10203340611191543_8324378046671563162_nTeluk Nggelu diapit oleh dua gugusan pegunungan yang masih rindang. Di gugusan pegunungan sebelah selatan terdapat rumah tua yang dibangun Belanda dan menjadi tempat pemantauan lalu lintas laut. Di sekitar pegunungan ini banyak pohon Sawo yang tumbuh secara alami.

Disamping eksotisme pantainya, Nggelu memilik potensi budaya dan tradsi yaitu Bulang Kalu dan atraksi budaya lainnya. “ Jika dikemas dengan apik oleh elemen masyarakat di Nggelu,maka desa diujung timur kecamatan Lambu ini akan menjadi destinasi wisata yang lengkap.” Ucap Haeruddin,salah seorang warga Nggelu.

Penulis : Alan Malingi