Oleh: Alan Malingi | Mei 3, 2016

Tiang Pabise

12961670_10201691732010594_2984907748437469504_nTiang yang masih berdiri tegak di depan Asi Mbojo bukanlah hiasan atau asesoris. Namun memiliki pesan dan arti penting bagi perjalanan panjang sejarah Mbojo. Tiang ini bernama tiang kasipahu, yang terilhami dari nama tiang kapal terakhir armada laut kerajaan Bima. Tiang Kasipahu adalah momentum penting yang mengakhiri perjalanan panjang angkatan laut kerajaan Bima yang disebut Pabise.Pabise  dipimpin oleh Rato Pabise. Dalam menjalankan tugasnya, Pabise dibantu oleh Dari Pabise yang merupakan kelompok ahli kelautan dan kemaritiman yaitu para nahkoda, pendayung dan pelaut pilihan, juru mudi kapal dan perangkat pasukan angkatan laut yang memiliki ketrampilan berenang,menyelam dan tahan terhadap berbagai rintangan di laut.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Maret 31, 2016

Pasukan Suba Ngaji

12910784_10205831765865100_936656482_n Empat tahun setelah letusan dahsyat Tambora, perairan laut utara pulau Sumbawa dan sekitarnya dipenuhi para bajak laut atau yang dikenal dengan “Tabelo”. Perairan Sulawesi juga tak luput dari serangan Tabelo. Suasana di laut semakin kacau. Kampung-kampung dan pulau-pulau tak luput dari serangan. Harta benda dijarah. Jiwa manusiapun berguguran. Akibat dari keadaan itu, para penghuni pulau banyak yang mengungsi mencari tempat yang aman.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Maret 20, 2016

Datuk Raja Lelo

21500_10201596171661645_5244418851889182284_nFoto ini adalah foto makam Datuk Raja Lelo, penghulu Melayu, di sebuah bukit di tanjakan pertama kawasan Ule. Makam Datuk Raja Lelo ini bermotif Nggusu Waru yang menunjukkan eksistensi filosofi kepemimpinan di tanah Bima harus berdasarkan delapan sendi kepemimpinan berdasarkan Nggusu Waru. Makam berbentuk Nggusu Waru menunjukkan bahwa dia adalah pemimpin ummat, apakah dia raja atau ulama.Siapakah Datuk Raja Lelo dan bagaimana hubungannya dengan Hanta UA PUA di dana Mbojo ? berikut ulasannya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Maret 8, 2016

Mengenal Mpa’a Karumpa

12646975_926867374064874_3936134957232362837_n

 

Mpa’a Karumpa, demikianlah nama permainan yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Engrang ini. Pada masa lalu, permainan ini ditemukan di berbagai daerah di nusantara. Mpa’a Karumpa cukup terkenal di Bima. Permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak usia 7 sampai 13 tahun(anak SD, SMP). Tetapi tidak jarang anak yang duduk di bangku TK pun sudah bisa memainkannya dan orang dewasa pun ikut memainkan permainan Karumpa ini. Cara memainkan permainan ini sebenarnya beragam, yang dilakukan anak-anak di desa Sambori ini hanyalah salah satu dari banyak cara yang lainnya. Mpa’a Karumpa ini dipandang sebagai permainan yang menyenangkan, menantang, dan tidak memakan biaya yang mahal untuk membuat alat permainan tersebut.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Maret 4, 2016

Senandung Inambaru

12795353_1160393844001421_6067719128866478948_nSyair dan senandung adalah bagian dari kehidupan masyarakat Bima tempo dulu. Di peradaban tanah Donggo, syair dan senandung melingkupi seluruh rangkaian prosesi daur hidup masyarakatnya. Salah satu syair dan senandung yang masih eksis hingga saat ini adalah Inambaru. Senandung ini adalah ratapan yang menyayat hati sebagai ritual pelepasan terhadap seseorang yang dicintai yang pergi jauh dan meninggal dunia.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Februari 10, 2016

Bukit-Bukit Kesetiaan

12540840_1140805335959545_5766729289622416238_nDunia telah mengenal kisah cinta sejati Romeo and Juliat, Taj Mahal dan sederet kisah yang mengabadikan cinta dan kesetiaan manusia. Keabadian cinta dan kesetiaan juga telah ditorehkan lewat legenda Wadu Ntanda Rahi di Dana Mbojo. Dalam drama kehidupan, cinta dan kesetiaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.Karena tidak akan mungkin kesetiaan lahir tanpa cinta, dan cinta pulalah yang mendorong kesetiaan itu menjadi monumental. Di Dana Mbojo, bukit sebagai bukti kesetiaan itu ada di berbagai wilayah. Wadu Ntanda Rahi atau Batu yang memandang dan mengenang suami yang telah pergi merantau adalah bukti bahwa wanita Bima masa lalu adalah figur-figur setia. Sebagaimana sikap hidup La Nggini dalam Novel Wadu Ntanda Rahi yang ditulis Alan Malingi. Diakhir hayatnya La Nggini mengabadikan hidup dan cintanya menjadi batu. “ Sebab cinta dan kesetiaan tak harus berkata-kata, dia diam,dingin,bisu seperti batu itu. “ demikian kata-kata terakhir ditorehkan dalam novel itu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Januari 2, 2016

Pako Tana Selalu Dinanti

ani-ani4Setelah  meletus dahsyat pada tahun 1815 , tanah Tambora dan Pekat menjadi  tidak bertuan. Sejarahwan Dr. Helius Sjamsuddin menyebutkan bencana itu justru menjadi  The blessing in disquess ( Rahmat Tuhan Yang Tersembunyi)  bagi kerajaan Sanggar, Dompu  dan Bima. Karena penduduk di dua kerajaan(Tambora dan Pekat) sudah tidak ada lagi. Mereka hilang(meninggal) dari peradaban baik pada saat letusan maupun akibat penyakit dan kelaparan yang merajalela pasca letusan. Ada juga yang bermigrasi ke luar Tambora seperti di Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok dan bahkan di negeri lainnya.Tanah Tambora dan Pekat yang tidak berpenghuni itu mengundang  migrasi orang-orang Bima Dompu ke negeri yang dulu dikenal dengan Aram-aram itu. Namun pada dekade awal belum begitu banyak arus migrasi ke Tambora dan Pekat, karena masyarakat meyakini sebagai kawasan bekas bencana, Tambora masih dinilai angker.  111 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1926 , kerajaan Sanggar bergabung dengan Bima yang secara otomatis wilayah Tambora bagian utara dan sebagian baratnya masuk wilayah kerajaan Bima. Disusul pada tahun 1930 an Kerajaan Dompu sempat digabungkan dengan kerajaan Bima hingga tahun 1949.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Desember 26, 2015

Penghangat Nasi Tradisional

12399103_10201330086129673_2032845813_n

Saduku

Jauh sebelum diciptakan alat pemanas nasi yang beredar saat ini, para pendahulu kita sesungguhnya telah menemukan dan memanfaatkan perkakas tradisional untuk menghangatkan nasi. Penghangat nasi ini cukup alami dan jauh dari efek bahan-bahan sintetis yang berbahaya bagi tubuh. Perkakas ini hanya terbuat dari daun lontar yang dianyam khusus sebagai wadah penyimpanan nasi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Desember 26, 2015

Wisata Musim Tanam Di Bima

1931341_10201324534110876_2544547628214239977_nSetiap memasuki musim tanam, di Bima memiliki tradisi unik dalam menanam. Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Bima menanam padi di ladang atau tegalan dengan bersenandung dan diiringi alat musik Biola dan Gambo (sejenis musik gambus). Tradisi ini dikenal dengan  Arugele dan Sagele.  Arugele adalah senandung menanam tanpa diiringi alat musik Biola atau Gambo. Sedangkan Sagele diiringi Biola atau Gambo. Arugele masih dapat ditemui di lereng Lambitu seperti di sambori,Teta,Kuta, Tarlawi,Donggo dan sekitarnya. Sedangkan Sagele dapat ditemui di lereng pegunungan di sebelah utara dan timur kota Bima. Arugele diiringi senandung arugele saja. sedangkan sagele diiringi dengan berbagai macam lagu lagu Rawa Mbojo.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | Desember 6, 2015

Sari Bunga Di Taman Kehidupan

12247022_893250380759907_3723205171590170690_nIbu Mas Imo ini menceritakan tentang kisah Ana Fari Pidu (Tujuh Bidadari) yang menikah dengan Ana Sangaji Mbojo ( Putera Mahkota Kerajaan Bima). Kisah ini memang sudah sering didengar, namun yang menarik adalah transformasi kebudayaan dalam cerita ini. Cerita tentang Ana Fari Pidu merupakan rangkaian panjang dari Hikayat Sang Bima yang berkembang di tanah Bima sejak lama.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 216 pengikut lainnya