Oleh: Alan Malingi | September 26, 2016

Pakaian Adat Wanita Mbojo

sampela-mbojo-siwePada masa lalu, wanita Mbojo memiliki tata busana harian yang terdiri dari Baju Bodo atau Baju Poro yaitu baju berlengan pendek yang mendapat  pengaruh dari Makasar. Warna baju Bodo  melambangkan status pemakaianya. Baju Poro berwarna merah adalah untuk para gadis. Baju Poro berwarna hitam dan ungu adalah untuk kaum ibu. Sedangkan warna kuning dan hijau adalah untuk wanita keluarga sultan. Di ujung lengan baju di pasang “Satampa baju”, berfungsi sebagai penutup lengan dan juga sebagai asesoris. Tetapi pada masa kini, seiring pesatnya pemakaian Jilbab, untuk menutup lengan hingga pergelangan tangan, kaum wanita menggunakan manset penutut dengan berbagai macam warna yang disesuaikan dengan warna baju poro. Demikian juga masalah warna, wanita Mbojo sudah tidak lagi mengikuti aturan dan tata cara masa lalu. Warna Baju Bodo sudah disesuaikan dengan selera zaman.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 26, 2016

Keunikan Penobatan Raja Bima

jenateke1Prosesi pelantikan Raja dan Sultan Bima memang unik. Ada yang dilaksanakan di luar Istana dan ada juga di dalam lingkungan Istana. Prosesi di luar Istana sangat unik. Putera Mahkota atau Jena Teke diantarkan ke sebuah tempat yang disebut AMBA NA’E ( Pasar Besar ) dengan berpakaian ala rakyat jelata tanpa mengenakan Baju dan hanya memakai Sarung. Di tengah Amba Na’e itu ada seongggok tanah seperti busut jantan yang besar  yang dikenal dengan nama Dana Ma Babuju (seonggok tanah bulat yang tinggi). Rakyat dari berbagai pelosok datang ke Amba Na’e itu untuk menyaksikan prosesi yang teramat unik dari pelantikan calon pemimpin Bima masa depan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 26, 2016

Desa Dua Budaya

lamereDesa Lamere Kecamatan Sape Kabupaten Bima membentang dari selatan ke utara pantai Lamere. Desa ini dimekarkan dari desa Indukmya desa Buncu pada tahun 2006 dan terdiri dari tiga dusun yaitu Soro, Tenga dan Bugis. Pantai dan desa Lamere diapit oleh dua tanjung di sebelah timur yaitu Tanjung atau Toro Si i di sisi selatan dan Toro Matamboko di sebelah utara.  Kasman, kades Lamere mengemukakan bahwa desanya dihuni oleh perpaduan suku Bugis dan Bima. “Ada lima puluh porsen suku Bugis dan ada lima porsen suku Mbojo di desa ini.” Urai Kasman. Lamere dihuni oleh sekitar 2000 penduduk dengan bangunan rumah panggung khas bugis dan Mbojo mendominasi desa yang memiliki luas 10.00 Ha ini. Sebagian besar warga Lamere berprofesi sebagai Nelayan dan pembuat perahu perahu Pinisi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 25, 2016

Koca Dan Kapore

koca

Koca 

Bahan pembuatan dua kue tradisional Mbojo ini hampir sama. Pedagangnya pun menjual Kapore dan Koca secara bersamaan. Di kampung-kampung biasanya penjual menyebut Kapore dan Koca bersamaan. “ Weli Kapore Koca…..! “ artinya Beli Kapore Koca…!” Demikianlah pedagang asal kelurahan Penagara Kota Bima setiap hari lewat di depan rumah. Semasa kecil, jika tidak ada uang saya sering menukar koca dan kapore dengan beras he he he.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 25, 2016

Bolu Mbojo

bolu-mbojo1Bolu Mantoi, demikianlah orang-orang tua di Bima sering menyebut kue tradisional Mbojo yang satu ini. Bolu Mantoi berarti Bolu lama, karena saat ini berkembang banyak sekali kue bolu yang dihasilkan dengan serba cepat melalui peralatan memasak yang kian canggih. Saya masih ingat, nenek saya dulu membuat Bolu ini dengan cetakan dari besi dengan bentuk bulat tetapi dibagian bawahnya lingkarannya agak mengecil. Bolu Mbojo rasanya tidak terlalu manis. Bahan pembuatannya adalah tepung terigu, telur, gula dan sedikit soda agar Bolu mengembang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 24, 2016

Manis-Manis Gurih Pangaha Sinci

pangaha-sinci1

Pangaha Sinci Ukuran besar

Pangaha atau kue tradisional yang satu ini diberinama Pangaha Sinci. Bentuknya ada dua yaitu yang besar dan yang kecil. Mungkin bentuknya seperti cincin, sehingga masyarakat Bima menyebutnya dengan pangaha since. Menurut Mei (40 tahun), pedagang pangaha Sinci asal Melayu Kota Bima, Pangaha Sinci yang berukuran kecil diracik dengan gula merah takaran dan jumlah campuran gulanya sedikit. Tetapi kalau pangaha sinci ukuran besar, dibuat khusus dengan gula merah. Tetapi kenapa ya  Pangaha Sinci ukuran besar tetap diberikan nama Pangaha Sinci ? Sambil tersenyum Mei yak arena sudah terlanjur saja. Padahal pangah Sinci besar mirip ban mobil mainan anak-anak.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 24, 2016

Mencicipi Sayur Sambi

sambi3

Daun Kosambi basah

Mau makan sayur enak dan kaya manfaat ? Cobalah cicipi sayur dari Ro’o Sambi. Sambi atau bahasa Indonesianya kesambi atau kosambi memiliki nama latin  Schleichera oleosa. Pohon kesambi menyebar  mulai dari  kaki Pegunungan Himalaya  dan dataran tinggi Dekan bagian barat di anak benua India, terus ke Srilangka  hingga Indocina . Kemungkinan pada masa lampau tumbuhan ini dibawa masuk ke kawasa Malaysia  termasuk Indonesia, dan kemudian meliar di sana. Di Indonesia terutama ditemukan di wilayah-wilayah dengan  musim kemarau yang kuat, mulai dari belahan timur  Jawa,  Bali , Nusa Tenggara , Sulawesi, Maluku  (Seram dan Kepulauan Kai). Kesambi tumbuh  liar atau ditanam. Di Bima kesambi banyak ditemukan di pegunungan di sekitar Kota Bima maupun Kabupaten Bima.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 23, 2016

Senja Di Pelabuhan Sape

senja-di-pelabuhan-sape2Sejak dulu kecamatan Sape dengan pelabuhan Ferry-nya telah menjadi pintu Gerbang memasuki tanah Bima dari sebelah timur. Sejak dulu pula arus barang dan jasa serta perjalanan manusia terhubung melalui selat Sape yang indah mempesona ini. Dalam sejarah Bima, Sape merupakan pintu masuk Islam pada sekitar abad ke-17. Di seberang pelabuhan ini, terdapat sebuah desa yang dikenal dengan desa Bajo Pulo. Penghuninya adalah orang-orang dari suku Bajo dan Bugis. Di seberang timur terdapat pulau-pulau kecil yang indah memesona.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 23, 2016

Misteri Kapal Portugis Di Pulau Ular

pulau-ularMendengar nama Ular binatang yang satu ini, anda janga dulu merasa takut atau trauma. Yakinlah bahwa ribuan ular yang ada di pulau ular ini tidaklah seseram yang anda bayangkan. Ular-ular di pulau ini sangat ramah dan bersabahabt dengan manusia. Mau buktikan ? Untuk itu, kunjungilah “ Pulau Ular “ yang berada di desa Pai Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Pulau Ular merupakan Salah satu pulau yang berada di tengah perairan bagian timur wilayah kecamatan Wera. Pulau ini juga bersebelahan dengan dua obyek wisata andalan daerah kabupaten Bima, yaitu pulau Gilibanta dan Tolowamba. Pulau ini merupakan habitat bagi populasi ular laut dengan keunikan warnannya putih silver dengan kombinasi hitam kilat. Ular-Ular ini jinak dan bersahabat dengan wisatawan yang mengunjunginya. Pulau ular dapat dijangkau dengan jarak tempuh sekitar 45 menit perjalanan dari kota Bima menggunakan transportasi darat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Alan Malingi | September 23, 2016

Kue Mata Pisang

mata-pisangKue tradisional Mbojo yang satu ini disebut Mata Pisang. Adonannya terbuat dari ubi kayu dan potongan pisang yang disimpan di tengahnya. Mungkin dari adanya potongan pisang kapok di tengahnya itulah yang menyebabkan orang-orang Bima menyebutnya dengan Mata Pisang. Mata Pisang dijual di pasar Bima dan dijajakan juga di kampung-kampung. Bahan pembuatan kue ini adalah Ubi Kayu yang sudah digiling atau diparut, potongan pisang kapok, gula putih, sedikit garam, dan kelapa parut. Kadang juga digunakan pewarna untuk memberikan warna merah dan biru untuk setiap Mata Pisang. Tetapi lebih bagus tidak menggunakan pewarna dan warna dasar kuning ubi kayu itulah yang mendominasi Mata Pisang.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori