Selamat Jalan Ramadan Nan Lapang

35401686_10204873171784600_4239359263496994816_nAda untaian pantun Bima yang biasa dilantunkan para tetua pada masa lalu dalam melepas kepergian bulan suci ramadan. Sambil berlinang air mata sebait senandung dilantunkan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tradisi Bedi Uta

35438343_10204885369689540_7507477759665373184_nDevan, Husen dan Adhar adalah tiga dari sekian banyak anak anak di Ujung Kalate Nipa Ambalawi yang mengisi liburan dengan tradisi Simi atau nenyelam dan bedi uta atau menembak ikan di sepanjang pesisir Ujung Kalate, So Spui, Oi Fanda hingga Sori Nehe yang berbatasan dengan Kolo Kota Bima..

Baca lebih lanjut

Ilo Ruma

35144013_10204868837796253_7354361247850037248_nBerbelanja kebutuhan lebaran di pasar lama Bima pagi ini, saya menemukan seorang ibu yang menjual Ilo Peta atau yang disebut juga dengan Ilo Ruma atau lampu Tuhan. Kenapa disebut lampu tuhan? Ibu Fatimah, penjual Ilo Ruma mengemukakan bahwa disebut Ilo Ruma karena bahan utama dari lampu ini adalah buah Mantau dari pohon mantau. pohon mantau tinggi seperti pohon kemiri dan buahnya pun seperti kemiri. Buah Mantau itulah yang kemudian ditumbuk sampai menghasilkan minyak dan dicampur dengan kapas. Lalu dikeringkan kemudian ditempel di potongan bambu kecil di atas ukuran tusuk sate. He he he…. saya juga baru dengar jenis pohon dan buah Mantau ini.

Baca lebih lanjut

Dou Woro

35298536_10204869828061009_4644504812723896320_nMasyarakat Bima memberikan label ” Dou Woro ” untuk arwah sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Entah kapan istilah ini ada, tetapi Dou Woro terus hidup dalam memori kolektif masyarakat. Seiring dengan peningkatan pemahaman terhadap ajaran islam istilah atau label Dou Woro sudah mulai pudar, namun di beberapa desa dan tempat label ini masih saja ada. Pada masa lalu, membakar lampu dari biji jarak yang dikenal dengan” Ilo Peta ” seperti ini sudah mentradisi di kalangan masyarakat Bima terutama tiga hari menjelang idul Fitri. Nenek saya menceritakan bahwa tujuh hari menjelang idul fitri para Dou Woro mendatangi dunia. Empat hari berkunjung ke Asi Mbojo dan tiga hari ke rumah para sanak keluarganya untuk bersilturahmi.

Baca lebih lanjut

Tradisi Wura Rade

35364047_10204875751729097_954977225122250752_nWura rade adalah ziarah kubur untuk mengingatkan kita kepada kematian seraya berdoa semoga mereka yang telah pergi diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya dan dijauhkan dari siksa kubur. Tradisi Wura Rade di Bima dilakukan pada saat jelang puasa, jelang lebaran, setelah shalat idul fitri dan idul adha dan saat saat tertentu. Pada momen lebaran, Wura Rade juga menjadi ajang silaturahim antar sesama. Sanak saudara, keluarga dan kerabat dari rantauan yang berlibur lebaran bertemu dan bersilaturahmi.

Baca lebih lanjut

Irama Kecapi Dalam Rawa Mbojo

34456753_10204844060896846_753372383665979392_nKesenian tidak hanya tumbuh di tamannya sendiri. Dia mengalami adaptasi dan akulturasi dengan budaya luar yang lahir pada masanya. Rawa Mbojo pun demikian, kesenian ini juga mendapatkan akulturasi dari kesenian luar, salah satunya adalah Cina. Entah kapan, irama kecapi mulai diadaptasi oleh para seniman Rawa Mbojo sehingga sangat mempengaruhi lirik salah satu ntoko atau genre Rawa Mbojo.

Baca lebih lanjut

Melirik Potensi Susu Kuda Liar Tolonggeru

nehrun-optimis-susu-kuda-liar-sumbawa-ilopeta-bima-dompuSusu Kuda Liar sudah menjadi ikon Pulau Sumbawa dengan berbagai manfaaat dan khasiatnya. Terletak di daerah perbukitan di Dusun Tolonggeru Desa Monggo Kecamatan Madapangga adalah kampung yang bertahan dan masih memerah susu kuda liar dari sejak 1997. Akhir Tahun 2015 dipromosikan sebagai kampung wisata susu kuda liar yang dimotori oleh Nehrun salah seorang yang menekuni usaha pemerahan susu dengan brand dan kemasan susu kuda yang menarik untuk dipasarkan. Sudah banyak  wisatawan nasional bahkan internasional seperti jepang yang sudah berkunjung melihat proses pemerahan, belajar memerah dan meminum langsung susu kuda segar yang baru diperah.

Baca lebih lanjut

Nuru Yang Hilang

34160180_10204833705077957_9062643782134005760_nTentu bukan Nurul ya, tetapi Nuru yang dalam tradisi masyarakat Bima tempo dulu adalah kegiatan berguru ke rumah guru untuk belajar ilmu agama dan alquran atau mengabdi bagi seorang calon pengantin kepada Camer atau calon mertua. Nuru berarti tinggal, mengabdi dan menuruti perintah guru atau calon mertua untuk beberapa waktu lamanya. Pada masa lalu, Nuru atau yang lebih dikenal dengan Ngge e Nuru ini bisa berlangung bertahun tahun.

Baca lebih lanjut

Temba Kolo, Saksi Cinta Indra Zamrut

34018147_10204826076927258_4945730222315012096_n Konon, sumur ini adalah jelmaan sumur yang ada di Kayangan. Sumur yang sejak zaman dahulu dikenal oleh masyarakat dengan Temba Kolo ini menyimpan legenda panjang tentang kisah cinta Raja Bima pertama Indra Zamrut dengan puteri kayangan atau yang dikenal dengan Ana Fari Pidu Itu. Salah seorang Ana Fari Itu bernama Puteri Indah yang berhasil dipersunting Raja Indra Zamrut.

Baca lebih lanjut

Hari Terakhir Salahuddin di Des Indes

33688042_10204812502227899_244910592974913536_nKamis tanggal 11 Mei 1951 Kapal Belanda “ Bonteku “ membentangkan layar dari pelabuhan Bima menuju Jakarta. Bunyi serulingnya mengusik ketenangan malam di teluk Bima yang indah, tenang dan damai. Isak tangis mengiringi sendunya bunyi seruling Bonteku yang membawa Sultan Muhammad Salahuddin dan keluarganya untuk berobat lanjut ke Jakarta. Perlahan tapi pasti Bonteku meninggalkan Asa Kota yang indah, seindah kenangan yang pernah tercipta bersama rakyat dan negeri yang dicintainya.

Baca lebih lanjut