Manifestasi Taqwa Dalam Falsafah Maja Labo Dahu

download-23Maja Labo Dahu adalah ” Nggahi Ma Ndadi Labo Dana ” atau ungkapan yang lahir bersama tanah dan negeri ini. Demikian diungkapkan beberapa tetua yang saya temui. Beberapa tetua menyebut Maja Labo Dahu sebagai ” Nggahi Mantoi ” atau ungkapan lama.

Baca lebih lanjut

Iklan

Filosofi Dibalik Nama ” Khatib Upan “

58741778_10205956665791273_5108890631116161024_nDi era kesultanan Bima, ada satu lembaga yang melaksanakan putusan hukum dalam urusan agama islam yaitu Badan Hukum Syara. Lembaga ini mulai dirintis oleh Sultan Bima kedua Abdul Khair Sirajuddin(1640-1682) dengan nama Syara Hukum. Pada masa Sultan Ibrahim(1881-1915), lembaga ini berubah menjadi Mahakamatus syar’iyah dan pada masa penerintahan Sultan Muhammad Salahuddin (1915-1951) menjadi Badan Hukun Syara.

 

Badan Hukum Syara dipimpin oleh seorang imam, dibawah imam ada 4 orang khatib yang dikenal dengan ” Khatib Upan” dan Lenbe Dala atau Lebe Dalam yang membawahi Lebe Nae di tingkat kecamatan dan Cepe lebe di tingkat desa. Lebe adalah penghulu.

Khatib Upan itu adalah Khatib Tua, Khatib Karoto, Khatib Lawili dan Khatib To’i. Disamping sebagai khatib mereka juga menjadi imam shalat dan pemutus perkara agama.

Khatib Tua adalah khatib yang dituakan. Dia tidak hanya tua dari segi usia, tetapi juga ” tua” atau mapan dari segi penguasaan ilmu ilmu agama islam. Khatib kedua adalah Khatib Karoto. Karoto berarti kerongkongan. Disamping sebagai khatib dan imam, khatib karoto bertugas memberikan pencerahan dan penyuluhan tentang hukum islam di tengah masyarakarat. Karena tradisi kala itu adalah tradisi lisan, maka lewat” karoto” sang khatib lah masyarakat dicerahkan tentang hukum hukum dan agama islam. Qori Internasional KH.Abubakar Husain pernah menjabat sebagai Khatib Karoto.

Khatib Lawili adalah khatib yang bertugas memberikan pertimbangan hukum kepada khatib lainnya sebelum diputuskan. La Wili berarti Dada yang melambangkan sebuah kelapangan hati dalam mengambil keputusan yang adil. Khatib To”i adalah perwakilan unsur generasi muda. Dialah khatib muda yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan di Badan Hukum Syara yang secara berjenjang akan menggantikan khatib Lawili, khatib Karoto, khatib Tua hingga menjadi Imam. Khatib To”i kebanyakan diangkat dari generasi muda yang telah menamatkan pendidikan di Jawa.

Khatib Upan adalah kenangan sejarah betapa islam telah menjadi bagian penting dalam tata kehidupan masyarakat Bima pada era kesultanan. Tersebutlah nama ulama tersohor Dana Mbojo yang pernah menjabat sebagai Imam dan Khatib kala itu seperti Abdurrahman Idris, Usman Abidin, KH.Muhammad Said Ngali, Ishaq A.Qadir Rabangodu, dan lainnya. Khatib Upan kini tinggal kenangan yang terus menjadi kenangan bagi anak keturunan para khatib dan tegakmya syiar islam di Bumi Maja Labo Dahu.

Baca lebih lanjut

Tradisi Doa Bola

doa bolaSebelum Wura Puasa( bulan ramadan), masyarakat Bima mengenal Wura Bola atau bulan Sa’ban. Di dalam Wura Bola ini, ada tradisi nasyarakat Bima yang sudah sejak lama ada yaitu Do’a Bola. Do’ a adalah Doa. Bola adalah bangun. Tetapi Bangun dalam konteks ini artinya bangun untuk memperbanyak doa dan zikir di malam hari. Sepanjang Wura Bola masyarakat Bima menggelar Doa Bola yang biasa digelar selesai shalat isya. Warga yang berhajat mengundang para tetangga, karib dan kerabat serta keluarga untuk hadir dalam Doa Bola. Doa Bola dipimpin oleh seorang guru atau tokoh agama atau tetua di kampung.

Baca lebih lanjut

Berlayar Menuju Lautan Ma’rifat

56277936_10205872887496868_507252117447114752_nLautan Ma’rifat adalah kebahagiaan dunia dan akhirat yang akan dituju oleh insan yang beriman dan bertaqwa. Ada empat titian atau tingkatan yang dilewati oleh orang orang yang beriman menuju apa yang diistilahkan oleh para pengkaji Fitua yaitu Syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat.

Ilmu syariat wajib diketahui dan dipelajari agar mengetahui dan mengenal jalan menuju hadiratNya. Kedua adalah tarekat atau jalan. Setelah menemukan jalan, maka kita akan mengetahui hakikat diri dan untuk apa kita hidup yang pada akhirnya akan berlayar menuju lautan ma’rifat.

 

Begitu luas dan indahnya lautan ma’rifat dilukiskan dalam bait – bait di bawah ini :

Moti ma’rifa ma ncewi lembo
di loja ngengge ba dou ma imbi
ba ne’ena eda nggari ndiha saroga.

Artinya :
Lautan Ma’rifat nan luas
Dilayari oleh orang orang yang percaya
yang ingin melihat rimbun dan ramainya surga

Terjemahan di atas adalah secara dentotasi. Tetapi sebenarnya bait di atas memiliki makna konotatif. Moti atau laut sebagai sesuatu yang dijalani, dilayari atau dilewati. Hal itu menunjukkan bahwa dunia dan akhirat sangatlah luas dan lapang. ” diloja nggengge ba dou ma imbi” terkandung maksud bahwa hanya orang orang yang percaya atau beriman yang melewati jalan itu.Dou Ma imbi dalam konteks ini adalah orang orang beriman dan bertaqwa yang senantiasa taat kepada perintah Allah.

Kata Nggari secara denotasi berarti rindang. Kata Ndiha secara denotasi berarti ramai. Makna kedua kata itu secara konotasi. adalah keindahan dan kenikmatan surga.

Menurut pegiat Fitua, manis dan kenikmatan dunia hanya sampai kerongkongan.Amalan akhirat lebih penting karena itulah yang akan menyertai selamanya. Hal itu sebagaimana dilukiskan dalam syair berikut ini :

Isi dunia maci mpoa mpa karoto
Rambeita dou dintau ahera
Ede pitu mpompa di dula labo

Artinya :

Isi dunia hanya dirasakan kerongkongan
diberikan pada orang(amalan) untuk akhirat
Hanya itulah yang menyertai kita.

Pegiat Fitua, Sudriman Makka mengemukakan bahwa tidak ada manusia yang mencapai ma’rifat kecuali maqam Rasulullah SAW. Kita hanya diberikan pengetahuan untuk itu. Istilah maqam dalam konteks ini adalah jalan menuju tingkatan apa yang disebut dalam tasawuf ” Martabat Tujuh ” sebagai insan kamil.

Jika kita tak akan sampai ke lautan ma’rifat, tetapi mari terus berusaha berlayar menuju kehadiratNya. Lautan ma’rifat yang luas dan lapang menunggu orang orang yang berrtaqwa. Mari menikmati nikmatnya hidup di dunia dan akhirat dengan senantiasa berserah diri kepada Allah SWT dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Sumber :
1. Umar Idris, Sadia kota Bima
2. Sudirman Makka, Tolotando Kota Bima
3.Anwar Hasnun, Rabangodu ( Buku Mengenal Sastra Lisan Daerah Bima)

Baca lebih lanjut

Jerman Dalam Balutan Kabut Tambora

55540665_10205842377654141_5572956221041803264_n
Temaram Pelabuhan Jerman 

Letusan Tambora 1815 mengguncang dunia. Di Jerman, pasca letusan dahsyat itu membawa dampak yang luar biasa. Negara ini mengalami kegelapan dan diabadikan oleh seorang pelukis bernama Casper David Friedrich dalam lukisan temaram Kota dan Pelabuhan Jerman di tahun 1815-1816. Ada dua lukisan karya C.D Friedrich, yang pertama adalah temaram kota Neubrandenberg di Jerman dan suasana temaram pelabuhan di Jerman. Foto lukisan ini dikirim oleh teman saya Edi Susilo.

 

Setelah diketahui bahwa kegelapan itu disebabkan oleh letusan Tambora, Jerman mengirimkan pakar Bio Geografi Dr. Benhard Rensch dan kawan kawan untuk melakukan eksplorasi ke Indonesia khususnya ke kepulauan Nusa Tenggara guna melakukan penelitian. Para peneliti Jerman menyisir pulau Sumbawa hingga ke Timor.

55576855_10205842377454136_1580627000916180992_n
Temaram Kota Neudenberg

Bio-geografi adalah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari keanekaragaman hayati berdasarkan ruang dan waktu. Bio Geografi bertujuan untuk mengungkapkan latarbelakang kehidupan organisme dan apa yang mempengaruhinya.

Hasil dari penelitian ini diterbitkan pada tahun 1830 dengan judul “Eine Biologisch Reise Nach Den Kleinch Sunda- Inseln.Laporan penelitian ini sangat penting bagi kita untuk mengetahui keakaragaman hayati di pulau Sumbawa sebagai dampak letusan dahsyat Tambora. Mudah mudahan sudah diterjemahkan.

#kleniktambora

Memori ” Sakola Kita “

53001507_10205756552828574_2249246541527121920_nSiang nan sejuk tanggal 27 Februari 2019 di Bumi Parado, saya menyempatkan waktu berkunjung ke Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Parado. Suasana sepi, karena para pelajar sudah pulang, saya bertemu dengan Wakasek, ibu Nurhasinah, SPd dan salah seorang guru. Dari penuturan Ibu Nurhasinah, saya mendapatkan informasi bahwa Sekolah ini telah berdiri sejak masa pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin dengan nama ” Sakola Kita”. Sakola Kita adalah sekolah Kitab, salah satu sekolah yang khusus mengajarkan kepada para murid untuk mempelajari kitab kitab yang berkaitan dengan Figh, ibadah maupun Muamalah dalam islam.

Baca lebih lanjut