Memaknai Pesan ” Su’u Sawa’u Sia Sawale

36959194_10204966860406757_6158206559491981312_nPara tetua di Bima menitipkan pesan yang berharga agar kita senantiasa menjunjung tinggi amanah dan mengemban amanah sesuai kemampuan dan kapasitas diri. Untaian pesan dalam Su’u Sawa’u sia sawale mengandung makna bahwa kita harus menjunjung tinggi amanah dan melaksanakannya sekuat tenaga dan pikiran.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tedi Dan Tada

37007083_10204973875742136_4621460573719101440_nDalam Bahasa Bima, tekun bertarti Tedi. Di Bukit Doro Ndula di seputaran Taman Ria Kota Bima ada tulisan dengan ukuran besar yang dipahat yang berbunyi “KATADA PU RAWI MA TEDI, KATEDIPU RAWI MA TADA ” Pesan ini dirintis penulisannya oleh almarhum H.M.Noer A.Latief Walikota Bima 2003- 2009. Katada berarti menampakkan atau memperlihatkan. Rawi artinya perbuatan. Ma tedi artinya yang tekun. Katedi artinya ditekuni. Ma tada artinya yang nampak. Maksud dari ungkapan ini adalah nampakkan perbuatan yang ditekuni, tekuni perbuatan yang tampak. Petuah ini mengandung maksud agar kita selalu berbuat, berusaha untuk kebaikan dan kehidupan.

Baca lebih lanjut

Ndoso, Meratakan Gigi Ala Suku Mbojo

37238918_10204986709902982_4404195328018874368_nNdoso adalah upacara adat meratakan gigi. Ndoso biasanya dilaksanakan satu paket dengan suna atau khitanan sehingga dikenal dengan Suna Ro Ndoso (Khitan dan Meratakan Gigi). Di kelurahan Lelamase Kota Bima, tradisi Ndoso ini masih lestari.Ndoso dilakukan oleh tetua adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama kepada anak anak dengan menyuruh anak anak menggigit batang pohon jarak ukuran kecil dan kemudian gigi anak digosok pelan pelan dengan tobe rabe atau potongan genteng. Dengan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, para tetua meletakkan batang jarak ke gigi anak dan setelah itu diletakan tobe rabe ke gigi anak. Tobe rabe juga dikenal dengan istilah Rumbe.

Baca lebih lanjut

Kiprah Makembo Menyelamatkan Bahasa Kore

36723828_10204954416335663_2538844370841370624_nMeski secara swadaya, Komunitas Budaya Majelis Kebudayaan Mbojo atau Makembo terus melakukan pencatatan, pendokumentasian dan perekaman simpul-simpul peradaban dan kebudayaan Mbojo. Sabtu, 7 Juli 2018, Komunitas Budaya Majelis Kebudayaan Mbojo melakukan perekaman dan pencatatan dialek Kore di desa Taloko kecamatan Sanggar kabupaten Bima. Perekaman dilaksanakan di kediaman Kepala Desa setempat dengan menghadirkan perwakilan lima orang warga yang masih masih berkomunikasi dengan dialek Kore. Ketua Makembo, Alan Malingi mengemukakan, dialek Kore awalnya merupakan sebuah bahasa yang mandiri  karena Korea tau Sanggar pada masa lalu merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat. “ Setelah bergabung dengan kerajaan Bima pada tahun 1926, maka terjadi akulturasi dengan budaya Mbojo termasuk bahasa yang menyebabkan Bahasa Kore kini hanya menjadi dialek Bahasa Bima. “ Kata Alan Malingi.

Baca lebih lanjut