11 Bahasa Di Nusa Tenggara Barat

Selamat Hari Bahasa Ibu Internsional. Sesuai harapan Kemdikbud RI melalui Badan Bahasa, mari kuasai Bahasa Asing, utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan Bahasa Daerah. Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman budaya, termasuk bahasa. Selain 3 suku besar yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo, terdapat suku-suku lain yang hidup di wilayah ini seperti Bajo, Bali, Bugis, Jawa, sunda, Madura, Makassar, Batak, Minang, Manggarai, Flores, Timor, Makassar, Ambon, bahkan Tionghoa. Dari sejumlah suku yang mendiami dua pulau ( Lombok- sumbawa) di Nusa Tenggara Barat, terdapat 11 bahasa yang masih eksis dituturkan oleh warga Nusa Tenggara Barat saat ini sebagaimana dikutip dari laman Kemdikbud Republik Indonesia.

Lanjutkan membaca “11 Bahasa Di Nusa Tenggara Barat”

5 Kekayaan Bahasa Bima

Bahasa Bima atau Nggahi Mbojo sesungguhnya telah mengalami perjalanan panjang. Bahasa Bima saat ini dituturkan oleh masyarakat mulai dari  Pulau Moyo, Tambora,Sanggar, Dompu melintasi selat Sape, Labuan Bajo, Manggarai hingga Wa’i Werang Larantuka. Proses migrasi manusia Bima dan kejayaan maritim Bima di masa silam telah memengaruhi perkembangan bahasa Bima di sejumlah wilayah tersebut.

Lanjutkan membaca “5 Kekayaan Bahasa Bima”

Rahasia Kekokohan Bangunan Asi Mbojo

Asi Mbojo ( Istana Bima) yang kini menjadi Museum dibangun pada tahun 1927 hingga 1929 dan resmi dimanfaatkan pada tahun 1930. Asi Mbojo dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin ( 1915-1951), merupakan istana terakhir dari puluhan Istana  Bima pada masanya. Pelaksana proyek pembangunan adalah seorang Bumi Jero, salah satu jabatan yang menangani pembangunan dan pertukangan semacam PUPR kalau saat ini. Arsitek pembangunan Asi Mbojo adalah seorang Belanda keturunan Ambon yang bernama Obsister Rehata.  

Lanjutkan membaca “Rahasia Kekokohan Bangunan Asi Mbojo”

Makna Gelar “ Syah “ Dan “ Zilullah Fil Alam “ Pada Sultan Bima

Ada 8 Sultan Bima yang disematkan gelar “ syah “ pada akhir namanya. Kedelapan Sultan itu mulai dari sultan ketiga hingga sultan ke sepuluh. Mereka adalah Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah( 1682- 1687), Sultan Jamaluddin Inayat Syah(1687-1696), Sultan Hasanuddin Muhammad Ali Syah( 1696-1731), Sultan Alauddin Muhammad syah( 1731-1748), Sultanah Komala Syah( 1748-1751), Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah(1751-1773), Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah( 1773-1817) dan Sultan Ismail Muhammad Syah( 1817-1854). Dua di antara para sultan itu juga disematkan gelar Zilullah Fil alam yaitu Sultan Abdul Kadim dan Sultan Abdul Hamid. Ke delapan sultan itu memerintah pada abad ke-17 hingga akhir abad ke-19.

Lanjutkan membaca “Makna Gelar “ Syah “ Dan “ Zilullah Fil Alam “ Pada Sultan Bima”

Kejayaan Bandar Bima

Hening pagi Pelabuhan Bima

Bima adalah kerajaan agraris sekaligus maritim. Abad XV Kejayaan agraris dan maritim Bima dimulai. Kala itu kebijakan pembukaan sawah baru dimulai dan menjadikan Bima sebagai kerajaan lumpung pangan di nusantara timur.  Armada Laut Pabise melakukan ekspansi wilayah ke Manggarai. Abad ke XVI hingga XVII Bima dan pulau Sumbawa telah menjadi bandar penting bagi perdagangan di wilayah timur nusantara. Kitab Pararaton dan Negerakertagama juga telah menuliskan nama daerah ini. Bima berada di tengah jalur maritim yang melintasi kepulauan Indonesia.Pelabuhan Bima telah disinggahi sekitar Abad 10. Waktu orang Portugis mulai menjelajahi kepulauan nusantara, Bima telah menjadi pusat perdagangan yang berarti. ( Henry Chambert Loir & Siti Maryam R. Salahuddin, BO Sangaji Kai, XV).

Lanjutkan membaca “Kejayaan Bandar Bima”

Komodo Dalam Pusaran Sejarah Bima

Komodo telah menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia dan telah ditetapkan sebagai the seven Wonder World ( Tujuh keajabain dunia ). Komodo, Manggarai dan sekitarnya menjadi konstentrasi pembangunan kepariwisataan melalui pembentukan Taman Nasional Komodo dan Badan Otorita Pembangunan Pariwisata Labuan Bajo Flores dengan ikon “ Floratama “ singkatan dari Flores, Alor, Lembata dan Bima. Penyertaan Bima dalam pengembangan itu, meskipun hanya terfokus pada Bima timur, menunjukkan bahwa Bima memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan Manggarai dan sekitarnya. Bima adalah bagian dari sejarah Manggarai, dan Manggarai adalah bagian yang tak terpisahkan dalam pusaran sejarah Bima. Atas dasar itulah, pengembangan kepariwisataan di wilayah timur Bima menjadi satu kesatuan Biosfer pengembangan kepariwisataan dengan wilayah Manggarai NTT.

Lanjutkan membaca “Komodo Dalam Pusaran Sejarah Bima”

Imajinasi Lebih Penting Dari Pada Pengetahuan

Albert Einstein dengan karya Kuantum Fisika yang fantastis justru mengemukakan hal yang unik dari hasil karyanya. Bapak Astronomi moderen itu mengungkapkan ” Imajination are more importen than knowlidge “. Artinya Imajinasi lebih penting dari pada pengetahuan.

Lanjutkan membaca “Imajinasi Lebih Penting Dari Pada Pengetahuan”

Membudayakan Pembangunan

Ini adalah Lawatu Puru atau Kawatu Puru. Sejenis penganan dari beras yang diisi dengan kelapa parut dicampur sedikit gula dan garam. Kemudian dibungkus daun pisang seperti lemper dan dibakar. Saat ini Kawatu Puru biasa dijual oleh ibu ibi diseputaran Talabiu. Pada masa lalu Kawatu Puru merupakan oleh oleh para peladang setelah panen utuk dibagikan kepada keluarga dan kerabat di kampung setelah kembali dari Oma(ladang).

Lanjutkan membaca “Membudayakan Pembangunan”

Mengenal Pakaian Ulama Bima

Pada masa kejayaan kesultanan Bima, kabaya banta adalah salah satu dari beberapa jenis pakaian para ulama Bima terutama para Imam dan Khatib. Belum diketahui pasti dari mana istilah ” Kabaya Banta ” ini berasal. Jika dilihat dari model pakaiannya merupakan akulturasi dari arus budaya Arab dan Melayu. Kabaya Banta menjadi salah satu koleksi Museum Asi Mbojo di lantai 2 dengan boneka model disamping boneka pakaian pengantin adat Bima.

Lanjutkan membaca “Mengenal Pakaian Ulama Bima”

Makna Konotasi Lako Nggalo

At first, mohon maaf tulisan kali ini mengambil judul “Lako atau Anjing “. Tetapi simak aja ya, apa maksudnya. Lako adalah anjing. Nggalo adalah berburu. Lako Nggalo adalah anjing pemburu atau anjing yang digunakan untuk berburu. Mungkin saja penggunaan anjing untuk berburu telah dikenal sejak masyarakat Bima mengenal sistim perburuan dan meramu.Salah satu bukti bahwa masyarakat Bima menggunakan anjing untuk berburu adalah foto lawas di Museum Asi Mbojo dimana para pemburu memperlihatkan hasil buruannya berupa Rusa dengan Anjing buruan disamping mereka.

Lanjutkan membaca “Makna Konotasi Lako Nggalo”