Kata “Aina” Dalam Petuah Leluhur Orang Bima

janganKata aina dalam bahasa Bima berarti jangan.Kata itu mengandung larangan untuk tidak melakukan hal hal yang tidak terpuji, tidak sesuai dengan norma agama, adat dan budaya. Dalam tata pergaulan di tengah masyarakat, banyak sekali ungkapan atau peribahasa Bima yang menggunakan kata aina. Bentuk ungkapan dengan kata “aina” menunjukkan bahwa hal itu sangat diilarang dan menjadi peringatan bagi kita untuk tidak melakukannya, karena hal itu akan berakit fatal dalam hidup dan kehidupan kita kelak.

Baca lebih lanjut

Iklan

Misteri Kehidupan Di Pundu Nence

45398377_10205365471171777_1456866573389135872_nHingga kini, puncak Pundu Nence yang berada di ujung timur kelurahan Lelamase Kota Bima masih menjadi surga bagi para petualang dan pendaki yang ingin bercengkarama dengan kesyahduan dan keindahannya. Dari Punce( singkatan dari Pundu Nence) mata menyapu semua wajah Bima hingga Sang Ancala Sangyang pun seperti berdiri sejajar dengan kita di puncak Punce ini. Saya tidak menjelaskan tentang berapa ketinggian dan bagaimana mencapai Punce, karena para petualang dan pendaki sudah banyak menulis tentang hal ini dan event kebut Punce sudah mulai bergema kemana mana.

Baca lebih lanjut

Mbeca Wombo

45184357_10205355106232660_9108052259446456320_nMbeca berarti basah. Wombo berarti kolong rumah. Pada masa lalu, rumah masyarakat Bima adalah rumah panggung dan memiliki kolong atau ruang tempat penyimpanan berbagai macam peralatan dan kebutuhan rumah tangga. Di kolong atau wombo ini biasanya disimpan alat alat pertanian seperti bajak, pukat atau jaring bagi nelayan, tembilang,cangkul dan bahkan padi atau bahan makanan lainnya. Bahkan di dalam kolong rumah disimpan tempat tidur untuk sekedar beristirahat. Di beberapa kolong rumah juga digali semacam lubang unruk mengeram buah buahan terutama pisang atau mangga dan bahkan digunakan untuk membuat tape. Kolong rumah juga digunakan untuk menyimpan ternak seperti ayam, kambing dan biri biri. Kolong rumah di masa silam sangat multi fungsi bagi kehidupan Dou Mbojo.

Baca lebih lanjut

Tradisi Ndawi Lopi

44956566_10205340444826134_8890500041211379712_nNdawi Lopi atau membuat perahu merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Mbojo. Entah sejak kapan tradisi ini ada, namun yang jelas kontak budaya dengan Bugis dan Bajo serta masyarakat Sulawesi lainnya menjadi penguat dugaan bahwa bahwa tradisi ndawi lopi dipengaruhi oleh kedatangan suku petualang samudera itu. Apakah suku mbojo sendiri sudah bisa membuat perahu sebelum kontak dengan Bugis dan Bajo? sepertinya masih perlu dilakukan riset untuk hal ini.

Baca lebih lanjut

Nggahi Rawi Pahu

az12Filosofi Nggahi Rawi Pahu telah menjadi motto dari kabupaten Dompu dan menjadi icon daerah ini sehingga dikenal dengan “ Bumi Nggahi Rawi Pahu “. Filosofi ini tentu tidak lahir secara spontan, tetapi bersumber dari pengalaman hidup masyarakat Bima dan Dompu sejak lama. Tipikal masyarakat yang pekerja keras adalah sumber inspirasi lahirnya filosofi ini di kalangan masyarakat. Nggahi berarti berkata atau berbicara. Rawi berarti  bekerja. Pahu berarti wajah atau dalam filosofi ini berarti mewujudkan atau mengimplementasikan. Secara harfiah Nggahi Rawi Pahu berarti kata, perbuatan dan rupa. Tetapi secara denotatif ungkapan ini berarti menyatukan kata dengan perbuatan atau mewujudkan antara kata dengan perbuatan. Menurut Anwar Hasnun, ungkapan ini mengandung petuah agar kita tidak hanya pintar berbicara, tetapi apa yang dibicarakan harus diwujudkan sesuai kenyataan. Nggahi Rawi Pahu juga mengandung tekat, berbuat dan berusaha.

Baca lebih lanjut

Arujiki

ilustrasi-mencari-rezeki_20171215_081113Arujiki atau Rezeki adalah karunia Allah SWT bagi kehidupan ummat manusia. Tetapi rejeki tidak mungkin turun atau datang begitu saja tanpa ada ikhtiar atau usaha dari kita. Sikap berpangku tangan, berdiam diri tanpa berusaha sangat dilarang. Rejeki seseorang tentu bergantung pada ikhtiar dan usaha. Leluhur Dana Mbojo mengibaratkan dengan satu ungkapan “ Arujiki Jimba Tiloa Weha Ba Mbe’e “  Jimba berarti  domba. Wati loa berarti  tidak boleh. Weha berarti ambil atau mengambil. Sedangkan Mbe’e berarti kambing. Secara harfiah, ungkapan ini berarti rejeki Domba tidak bisa diambil oleh Kambing. Makna ungkapan ini adalah rejeki seseorang tergantung  usaha dan kerja masing-masing dan tidak mungkin tertukar. Dengan kata lain, rejeki seseorang seirama dengan usaha dan kerja keras masing-masing.

Baca lebih lanjut

Misteri Rade Muma

43496503_1684077511700971_6029898345714024448_n

Antara September hingga Oktober 2018, saya intens berkomunikasi dengan saudara Ayus Maliagung, salah seorang pemerhati sejarah dan budaya Sumbawa. Komunikasi kami atas petunjuk yang diberikan oleh salah seorang kerabat kesultanan Sumbawa Pak Haji Ace atau Pak Hasanuddin. Di desa Mata kecamatan Tarano Sumbawa,terdapat sebuah makam kuno yang oleh warga sekitar disebut ” Rade Muma”. Dari penuturan warga di sana bahwa pemilik makam tersebut adalah salah seorang bangsawan Bima yang disapa Muma dan makam makam di sekitar adalah makam para pengikut Muma. Bahkan beberapa warga mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Muma itu. Demikian menurut hasil komunikasi saya dengan Ayus. Ayus pun mengirimi saya beberapa foto dan video ini. Posisi makam ada di sebuah bukit kecil di desa Mata dan berada di areal pemakaman umum setempat.

Baca lebih lanjut