Jejak Sultan Nuruddin Di Cirebon

jejak nuruddinTanah Cirebon menyimpan kenangan sejarah bagi Sultan Bima ke-3 Nuruddin Abubakar Ali Syah. Nuruddin adalah putera Sultan Bima ke-2 Abul Khair Sirajuddin dengan permaisurinya Bonto Je’ne puteri Sultan Malikul Said Makassar. Nuruddin lahir pada tanggal 29 Zulhijah 1061 H bertepatan dengan tanggal 15 Desember 1651.

Baca lebih lanjut

Iklan

Gentan Tipar

17309084_10203134441397427_1671548743228649531_nDi celah acara pemakaman Dr.Hj. Siti Maryam Salahuddin Minggu siang 19 Maret 2017, saya menyempatkan berdiskusi dengan Sultan Sumbawa YM. DEWA MASMAWA SULTAN MUHAMMAD KAHARUDDIN IV dan kerabat kesultanan Sumbawa Pak Hasanuddin tentang hubungan kawin Mawin dan kedekatan antara kesultanan Sumbawa dan Bima. Hubungan kedua kerajaan ini memang sudah lama terjalin baik dari sisi politik,sosial dan budaya dan dipererat lagi dengan pernikahan. Daeng Ewan yang juga fasih berbahasa Bima ini berziarah ke makam SULTANAH SYAFIATUDDIN DAENG MASIKI di kompleks makam sultan Bima di sebelah barat Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.

Siapakah Syafiatuddin?

Baca lebih lanjut

Kesetiaan Yang Tak Kunjung Padam

novel-wadu-ntanda-rahi
Foto Evi Indrawanto

Pada suatu zaman telah lahir seorang anak manusia bernama La Nggusu. Ayahnya bernama Ompu Nggaro, sedangkan ibunya bernama Ina Male. Mereka hidup di sebuah gubuk di ujung kampung Bedi. La Nggusu dibesarkan dalam segala keterbatasan hidup yang hanya bergantung pada alam sekitar. Tetapi semangat untuk menikmati hidup yang lebih baik selalu mewarnai hari-hari mereka. Dibekali falsafah hidup “MAJA LABO DAHU “ Ompu Nggaro dan Ina Male mendidik putra kesayangannya untuk bekerja di ladang,berburu,melaut serta sopan santun hidup bermasyarakat. Terbersit sebuah harapan bahwa dikelak kemudian hari La Nggusu akan menjadi orang yang berguna bagi rakyat dan tanah negerinya.

Baca lebih lanjut

Ulama Bima Sahabat Gusdur

makam-h-ali-yunuUlama ini tidak pernah tenar sebagai ulama kondang dari tanah Bima. Penampilannya biasa saja. Namun, kiprah dan ilmunya cukup luas terutama ilmu tafsir. Kadang warga dan para murid serta rekan sejawat memanggilnya dengan Tuan Guru H.Muhammad Ali bin Hasan. Kadang pula disapa dengan Mahali. Tapi nama lengkapnya adalah H.Muhammad Ali Bin Yunus. Karena ulama ahli tafsir ini adalah putera almarhum Yunus keturunan Bugis-Bone. Muhammad Ali Bin Hasan itu juga disematkan pada namanya karena yang membesarkannya adalah Muhammad Hasan, seorang ulama di desa Simpasai Lambu Bima. Sedangkan Mahali adalah nama julukannya sebagai seorang keturunan Bugis-Bone.

Baca lebih lanjut

Mengunjungi Makam Para Sultan Bima

_DSC0245Berikut secara terperinci identifikasi makam 16 Sultan Bima mulai dari Abdul Kahir I hingga H.Ferry Zulkarnain, ST. Namun ada tiga sultan/sultanah yang makamnya tidak ada di Bima yaitu

–       Sultan Alauddin( Sultan Bima VI, Manuru Daha) yang dimakamkan di Desa Daha Kabupaten Dompu,

–       Sultanah Komalasyah( Sultanah VIII) yang dibuang Belanda ke Ceylon Srilangka,

–       dan Sultan Muhammad Salahuddin( Sultan XIII) yang dimakamkan di pemakaman Karet Jakarta.

Baca lebih lanjut

Karya Alan Malingi

Kembalinya Sang Putera Mahkota

Buku ini adalah sebuah Roman Sejarah yang erat kaitannya dengan sejarah hubungan Bima-Makassar di masa lampau. Buku setebal 146 halaman dan dicetak Megatama Mandiri Jakarta  pada tahun 2007 ini mengisahkan tentang proses peralihan antara masa kerajaan dan kesultanan Bima dan hubungan yang harmonis antara Bima-Makassar. Antara Abad 16 hingga 17 Masehi, Kerajaan Bima diguncang prahara. Salisi yang bergelar Mantau Asi Peka yang dibantu Belanda merebut paksa tahta kerajaan dari pewaris yang sah. Salah seorang Putra Mahkota yang bernama La Ka’I sebagai pewaris tahta yang baru berusia 9 tahun dalam kondisi terancam. Pamannya Salisi merencanakan pembunuhan atas La Ka’i. Rencana itu tercium oleh para pejabat kerajaan dan panglima perang yang masih setia kepada kerajaan. La Ka’i diungsikan dan bergerilya di hutan belantara.

Baca lebih lanjut

Sosok Alan Malingi

RUSLAN MUHAMMAD Atau ALAN MALINGI dilahirkan di Bima pada tanggal 20 April 1973. Karya- karya fiksinya antara lain Novel Sejarah Nika Baronta(Raih Ubud Writers And Readers Festival 2012), Temba Kolo, Bunga Rampai Legenda Dana Mbojo, Novel Wadu Ntanda Rahi, Cerita Rakyat Bima Jati Kasipahu, Kembalinya Sang Putera Mahkota,  8 buku Cergam( Cerita Bergambar) yaitu  Cergam Legenda Tanah Bima, Cergam Petualangan Darere, Cergam Parise Buncu, Cergam Murka Sang Kiyai, Cergam Kidung Terakhir Seorang Ibu, Cergam La Leme Loki Dan La Kabe Tuta,Cergam Kisah Sepotong Bambu, dan Cergam Oi Mbora.

Karya-karya Non Fiksinya antara lain Biopgrafi Sultan Muhammad Tadjul Arifin Sirajuddin, Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Abdul Kahir I, Sultan Abdul Kahir II,  Kota Bima Dalam Gambar, Mendayung Di Antara Karang (Refleksi Setahun Kepemimpinan Ferry-Usman),Dua Tahun Kita Bersama (Refleksi Tahun Kedua , Kepemimpinan Ferry-Usman), Bersama Membangun Negeri (Refleksi Tahun Ketiga Kepemimpinan Ferry-Usman), Buletin Wisata Akbar Pemkab. Bima, Museum Asi Mbojo Penghubung Masa Lalu dan Masa Kini,  Museum Samparaja, Rangkaian Upacara Adat Kelahiran Masyarakat Bima-Dompu, Upacara Adat Pernikahan Masyarakat Bima- Dompu, Galery Patu Mbojo- Dompu, Mengenal Alat Musik Tradisional Bima-Dompu, Mengenal Tarian Tradisional Bima, Upacara Adat Hanta UA PUA, Kerajinan Tradisional Masyarakat Bima-Dompu, Permainan Rakyat Tradisional Bima-Dompu, Senjata Tradisional Masyarakat Bima-Dompu, Gerabah Bima, Ragam Motif Tenun Bima-Dompu, Mengenal Alat Tenun Tradisional Bima-Dompu,  Jelajah Kekayaan Tambora, Aneka Kuliner Khas Bima-Dompu,  Pakaian Adat Bima, Mengenal Obyek-Obyek Wisata di Daerah Bima  serta sejumlah buku Seni Budaya Mbojo lainnya, dan baru-baru ini menulis Buku SAMBORI.