Syiar Dalam Syair

kelompok Ziki Guru Bura di desa Rai Oi kecamatan Sape.
kelompok Ziki Guru Bura di desa Rai Oi kecamatan Sape.

Patu Mbojo-Dompu sebagai budaya lisan merupakan sesuatu yang anonim (Tidak dikenal pengarangnya) karena dia adalah budaya tutur yang diungkapkan secara spontan pada acara-acara dan kegiatan tertentu, misalnya pada acara meminang dan melamar gadis,pengantaran mahar, saat-saat panen dan peristiwa lainnya. Dengan demikian tidak diketahui siapa dan kapan Patu Mbojo itu ada. Tapi yang jelas, Patu Mbojo lahir bersama masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Bima dan Dompu.

Setelah Islam masuk ke Bima, syiar Islam juga menyentuh seni budaya khususnya tradisi lisan dan sastra lisan masyarakat Bima. Pantun dan syair-syair klasik Bima dengan cepat menyesuaikan diri dengan ajaran Islam. Jika sebelumnya hanya berupa pantun lepas patu ngoa ra tei, patu nee angi atau sodi angi, patu wa’a co’i dan oto co’i, dan patu-patu lainnya, setelah mendapat pengaruh Islam bertambah menjadi patu dali yang bersumber dari kata “Dalil”.

Ada dua fungsi pantun Bima yang sangat dominan sekarang yaitu sebagai media pendidikan dan media hiburan. Sebagai media pendidikan, bukan pendidikan formal tetapi nonformal seperti pendidikan budi pekerti dan agama. Pantun Bima sebagai media pendidikan adalah mengungkapkan eksistensi manusia dari berbagai aspek kehidupan dengan berpijak kepada 4 landasan. Pertama, hubungan manusia dengan dirinya, kedua, manusia dengan sesamanya, ketiga hubungan manusia dengan Tuhannya, dan keempat, hubungan manusia dengan lingkungan alamnya.

Contoh Patu Dali :

 

Bismillah ditampu’u kai baca

Alhamdulillah ditampu’u kai roi

Ede dibae ade ita doho sa udu

Loaku mori sana ade ndai di ada

(Bismillah untuk memulai membaca

Itulah untuk diketahui semuanya

Agar hidup senang kita sebagai hamba )

Alhamdulillah untuk memulai puji-pujian

 

Aina mbou baloa sambea

Niki padasa raka kaimu dosa

Ncarasi cambe jabara’i ma cambo

Ncarasi renta jabara’i ma rente

(Jangan Sombong karena mendirikan shalat

Tiap padasan kamu cari dosa

Nanti dikubur, salah jawab dicambuk oleh Malaikat

Nanti dikubur, salah bicara dikerangkeng oleh Malaikat )

 

Pai ma bade weki di mamade

Tuta Tando da, toro tandi di

Ngari wi’i rade hampa wo’o

Romompa ndeu di daloa ba ndai

( Jika kalian tau perkara kematian

Tidur terlentang sendiri dalam kubur

Gali kuburan sampai leher

Hanya mandi yang tidak bisa dilakukan sendiri )

 

Mori midi kawarapu made

Katahopu rawi aina dondo rewo

Mangaku kambou Islam tingawa sambea

Sodi di rade indo taloa cambe karidi

(Dalam hidup ini ingatlah akan kematian

Perbaiki sikap jangan suka keluyuran

Jangan hanya mengaku Islam jika tidak mendirikan shalat

Pertanyaan Kubur tidak bisa dijawab sembarang )

 

Disamping Patu Dali, di Kecamatan Sape Bima juga ditemukan tradisi zikir dan patu Guru Bura Sape. Tradisi melantunkan patu dan ziki itu memang unik, mereka melantunkan patu dan zikir tidak dalam bahasa Arab, namun mereka melantunkannya dengan patu mbojo. Tradisi lisan ini hidup dan berkembang di masyarakat Desa Rai Oi, Parangina Sape dan sekitarnya. Biasanya mereka melantunkan ziki Guru Bura pada malam hari usai pengajian dan ta’ziah dan hajatan-hajatan warga lainnya. Lantunan ziki Guru Bura berlangsung hingga tengah malam yang berisi pesan-pesan tentang pentingnya shalat, zakat,puasa, dan ibadah muamallah lainnya.

Guru Bura Sape adalah sosok Mubaliq penyiar agama Islam di tanah Sape. Beliau memberikan dakwah dengan patu mbojo. Tentu merupakan hal yang unik dan cukup digemari masyarakat pendengar, karena untaian patu mbojo dituturkan menarik, jenaka namun syarat makna dan pesan-pesan moral kepada pendengarnya.

Di Desa Oi Maci Kecamatan Sape terdapat peninggalan Guru Bura berupa dua buah kitab yang ditulis dengan kulit kayu. Diperkirakan kitab ini ditulis pada abad awal masuknya Islam di tanah Bima. Kitab Guru Bura berisi pantun-pantun nasehat untuk beribadah,shalat,zakat, puasa, hubungan dengan sesama dan ibadah lainnya. Semuanya disampaikan dalam bentuk pantun Bima yang ditulis dengan bahasa Arab Melayu. Satu kitab berisi 300 halaman dan yang satu hanya puluhan halaman, sepertinya lembaran-lembaran yang lepas.

Kondisi naskah patu Guru Bura cukup memprihatinkan, banyak bagian yang dimakan rayap dan rusak termakan usia. Perlu upaya pengawetan terhadap kitab ini. Untuk menjaga agar naskah ini bisa dibaca dan diteliti oleh ahli naskah, penulis telah menfotocopi naskah ini untuk keperluan penelitian lebih lanjut.

Berikut contoh alunan patu dan ziki Guru Bura Sape :

Assalamu alaikum salam kai Ruma

Wa alaikum salam dua mbua kai cambe

Ndei salam kanggoriku ra tiwi ra wa’a anangguru

(Asssalamu alaikum salam untuk tuhan

Wa alaikum salam jawabannya

Salam dan salam untuk seluruh hadirin )

 

Bismillah ndei tampu’u kai baca

Alhamdulillah dua mbua kai roi

Ndei doho kaboro ade wohana Sigi

(Bismillah memulai membaca

Alhamdulillah untuk segala puji-pujian

Duduk berkumpul di dalam masjid )

 

Maina made ta lingi kaiku ade

Bismillah ulu ku di taroa kai alam

Baca katahopu huruf fatiha

Tahosi baca hengga ndaina Bece

Ampona tarimaku ba ndaina Ruma

(Datangnya kematian tidak disangka

Bismillah untuk menerangi alam

Baca dengan baik huruf alfatihah

Kalau baca dengan baik terbukalah tabir

Supaya diterima oleh Allah SWT )

 

Warasi ma eli be ku cambe ulu

Huruf Lam ma kidi wea loa

Huruf alif ma kidi wea alu

Huruf ain ma kidi wea iu

La ilaha ilallah mpa ndei ma cambe ulu

(Jika ada yang bersuara mana yang dijawab duluan

Huruf Lam pembuka ilmu

Huruf alif yang halus

Huruf ain yang menegakkan rasa

La ilaha illlah tuk pembuka tabir )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s