Potensi Olahan Garam Yodium Di Bima

Produksi garam di Kabupaten Bima pertahun berkisar 152.739 ton dengan luas area 1.743.02 Ha yang tersebar di sejumlah wilayah yang merupakan sentra garam seperti di Kecamatan Bolo, Woha, Palibelo, Lambu dan Monta. Berawal dari pertanian di ladang-ladang garam secara tradisional, industri Garam di Kabupaten Bima terus berkembang hingga menjadikan garam sebagai salah satu komoditi unggulanLanjutkan membaca “Potensi Olahan Garam Yodium Di Bima”

Sarung Peninggalan Zaman Jepang

Sarung ini ditenun pada zaman Jepang. Bahannya dari kapas dan prosesnya melewati 13 tahapan mulai dari pengolaham kapas menjadi benang hingga ditenun menjadi sarung. Hingga sekarng sarung ini masih ada di desa Sangiang kecamatan Wera kabupaten Bima. Sarung sarung sejenis masih disimpan oleh perempuan Sangiang sebagai kenangan sejarah.

Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang

Mendampingi tim jejak petualang Trans 7 di beberapa tempat di Bima selama akhir pekan dan liburan kali ini, saya mendapat oleh oleh berharga untuk berbagi. Ya, sebuah pengalaman menarik sekaligus menantang tentang kekayaan khasanah budaya Mbojo yang masih banyak yang belum diekspose dalam balutan keindahan alam Dana Mbojo. Menyambangi kampung Sangiang darat, saya mendapatkan duaLanjutkan membaca “Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang”

Masker Ala Wanita Bima

Jauh sebelum ditemukan berbagai bahan kosmetik yang berfungsi sebagai masker pelindung wajah dan tubuh dari pengaruh sinar ultra violet matahari, wanita Bima telah menemukan ramuan tradisional yang dikenal dengan Lo’i Monca. Lo’i berarti obat. Sedangkan Monca berarti kuning. Khasiat ramuan Lo’i Monca diharapkan dapat menjadi masker pelindung dan sekaligus mempercantik diri atau agar wajah tetapLanjutkan membaca “Masker Ala Wanita Bima”

Kenapa Tenunan Bima Tidak Bermotif Manusia dan Binatang ?

Dalam memilih simbol dan gambar untuk dijadikan motif tenunan, para penenun Bima tempo dulu berpedoman pada nilai dan norma adat yang Islami. Sebagai gambaran jati diri atau kepribadian yang taat pada ajaran agamanya. Mereka tidak boleh atau dilarang untuk memilih gambar manusia dan hewan guna dijadikan motif pada tenunannya. Larangan itu mengacu pada Masa KesultananLanjutkan membaca “Kenapa Tenunan Bima Tidak Bermotif Manusia dan Binatang ?”

Menenun Bagi Perempuan Bima

Salah satu syarat ketrampilan yang wajib dimiliki oleh gadis Bima untuk melangkah ke mahligai pernikahan adalah ketrampilan MUNA RO MEDI atau menenun. Berdasarkan ketentuan adat, setiap wanita yang memasuki usia remaja harus terampil melakukan Muna ro Medi, yang merupakan kegiatan kaum ibu guna meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. Perintah adat tersebut dipatuhi oleh seluruh wanita BimaLanjutkan membaca “Menenun Bagi Perempuan Bima”

Kue Balu Kaca

Hmmm….kue yang satu ini terasa manis dan gurih karena berbahan dasar kacang dan gula merah. Proses pembuatanya diawali pembuatan adonan dengan merebus gula merah kemudian ditaburi dengan kacang. Harga Balu Kaca cukup murah yaitu Rp.500 per buah dan biasanya dijual 12 buah Balu Kaca. Kue ini banyak dijual di pasar Amahami Kota Bima dan diLanjutkan membaca “Kue Balu Kaca”

Sarung Untuk Calon Suami

Kaum perempuan di desa Sangiang kecamatan Wera kabupaten Bima menghabiskan waktu senggang dengan menenun. Setiap kolong rumah selalu kita temui kaum perempuan menenun. Bunyi alat tenun bersahutan dari satu kolong ke kolong lainnya. Sungguh sebuah irama kearifan menjaga tradisi leluhur. Ada satu tradisi unik yang telah lama digeluti kaum perempuan di desa ini yaitu tradisiLanjutkan membaca “Sarung Untuk Calon Suami”

Tradisi Tero Bawa

Bawa atau bawang merah adalah komoditi unggulan daerah Bima. Sebaran pertanian bawang merah terdapat di wilayah kecamatan Belo, Sape, Wera, Soromandi dan Donggo.Komoditi bawang merah Bima khsusnya jenis Keta Monca sudah dikenal luas di seluruh nusantara. Ada tradisi unik yang sudah turun temurun dilakukan oleh para petani bawang merah di Bima yaitu menggantung bawang merahLanjutkan membaca “Tradisi Tero Bawa”

Sako-Sako Dan Kenangan Di Tanah Rantau

Bagi teman-teman dari Bima dan Dompu tentu Sako-Sako adalah oleh-oleh khas yang selalu diselipkan oleh orang tua setiap mengirim logistik ke tanah rantau. Sako-sako adalah makanan dengan istilah Bima “ Peli Kai Loko” atau pengganjal perut ketika lapar saat malam hari atau telat masak sepulang kuliah. Pokoknya sako-sako adalah makanan murah meriah dan bisa tahanLanjutkan membaca “Sako-Sako Dan Kenangan Di Tanah Rantau”

Konotasi Range

Range adalah nama salah satu kue tradisional Mbojo.Range terbuat dari beras ketan, kelapa dan gula. Rasanya manis dan gurih. Tapi di kalangan masyarakat Bima, nama Range kadang berkonotasi porno yang diindentikkan dengan alat kelamin perempuan. Ada pula jenis kue lainnya yang berkonotasi pada kelamin perempuan yaitu kue Kalempe. Entah apa yang menyebabkan dua jenis kueLanjutkan membaca “Konotasi Range”