Potensi Olahan Garam Yodium Di Bima

Foto udara kawasan tambak ikan bandeng di Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, NTB, Selasa (9/6).
Foto : beritadaerah.co.id

Produksi garam di Kabupaten Bima pertahun berkisar 152.739 ton dengan luas area 1.743.02 Ha yang tersebar di sejumlah wilayah yang merupakan sentra garam seperti di Kecamatan Bolo, Woha, Palibelo, Lambu dan Monta. Berawal dari pertanian di ladang-ladang garam secara tradisional, industri Garam di Kabupaten Bima terus berkembang hingga menjadikan garam sebagai salah satu komoditi unggulan Kabupaten Bima. Komoditi ini menjadi salah satu sektor industri yang memberi penghidupan bagi banyak masyarakat di sentra-sentra produksi, hal ini disebabkan oleh tingkat kebutuhan dan rangkaian kegiatan yang menyertai keberadaan garam.

Baca lebih lanjut

Iklan

Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang

18157475_10203287325939445_3022708551580206071_nMendampingi tim jejak petualang Trans 7 di beberapa tempat di Bima selama akhir pekan dan liburan kali ini, saya mendapat oleh oleh berharga untuk berbagi. Ya, sebuah pengalaman menarik sekaligus menantang tentang kekayaan khasanah budaya Mbojo yang masih banyak yang belum diekspose dalam balutan keindahan alam Dana Mbojo. Menyambangi kampung Sangiang darat, saya mendapatkan dua sarung yang usianya sudah tua dan bahannya murni dari kapas di pulau sangiang dan proses pembuatannya melewati 12 tahapan secara tradisional dengan alat yang sederhana dan pewarna alami yang dikenal dengan Ro o Dau.

Baca lebih lanjut

Masker Ala Wanita Bima

lo-i-moncaJauh sebelum ditemukan berbagai bahan kosmetik yang berfungsi sebagai masker pelindung wajah dan tubuh dari pengaruh sinar ultra violet matahari, wanita Bima telah menemukan ramuan tradisional yang dikenal dengan Lo’i Monca. Lo’i berarti obat. Sedangkan Monca berarti kuning. Khasiat ramuan Lo’i Monca diharapkan dapat menjadi masker pelindung dan sekaligus mempercantik diri atau agar wajah tetap kelihatan putih dan bersih.  Biasanya pemakaian Lo’i Monca dilakukan pada saat hendak ke ladang atau ke sawah pada musim tanam atau saat panen. Salah satunya adalah apa yang dilakukan Mariamah warga Jati Baru kecamatan Asa Kota Kota Bima ini yang hendak melaksanakan prosesi menanam padi atau yang mereka kenal dengan Sagele di kawasan lahan Ncai Kapenta pada Minggu, 11 Desember 2016.

Baca lebih lanjut

Kenapa Tenunan Bima Tidak Bermotif Manusia dan Binatang ?

dsc08421Dalam memilih simbol dan gambar untuk dijadikan motif tenunan, para penenun Bima tempo dulu berpedoman pada nilai dan norma adat yang Islami. Sebagai gambaran jati diri atau kepribadian yang taat pada ajaran agamanya. Mereka tidak boleh atau dilarang untuk memilih gambar manusia dan hewan guna dijadikan motif pada tenunannya. Larangan itu mengacu pada Masa Kesultanan (1640-1951), dilatarbelakangi oleh kekhawatiran masyarakat akan kembali ke ajaran agama lama yang percaya bahwa pada gambar manusia dan hewan ada rokh dan kekuatan gaib yang harus disembah.

Baca lebih lanjut

Menenun Bagi Perempuan Bima

SONY DSCSalah satu syarat ketrampilan yang wajib dimiliki oleh gadis Bima untuk melangkah ke mahligai pernikahan adalah ketrampilan MUNA RO MEDI atau menenun. Berdasarkan ketentuan adat, setiap wanita yang memasuki usia remaja harus terampil melakukan Muna ro Medi, yang merupakan kegiatan kaum ibu guna meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. Perintah adat tersebut dipatuhi oleh seluruh wanita Bima  . Sejak usia dini anak-anak perempuan dibimbing dan dilatih menjadi penenun terampil dan berjiwa seni). Bila kelak sudah menjadi ibu rumah tangga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga.

Baca lebih lanjut

Kue Balu Kaca

balu-kacaHmmm….kue yang satu ini terasa manis dan gurih karena berbahan dasar kacang dan gula merah. Proses pembuatanya diawali pembuatan adonan dengan merebus gula merah kemudian ditaburi dengan kacang. Harga Balu Kaca cukup murah yaitu Rp.500 per buah dan biasanya dijual 12 buah Balu Kaca. Kue ini banyak dijual di pasar Amahami Kota Bima dan di jajakan di kampung-kampung.

 

Foto : Alan Malingi  

 

 

Sarung Untuk Calon Suami

tenun-sangiang1-1Kaum perempuan di desa Sangiang kecamatan Wera kabupaten Bima menghabiskan waktu senggang dengan menenun. Setiap kolong rumah selalu kita temui kaum perempuan menenun. Bunyi alat tenun bersahutan dari satu kolong ke kolong lainnya. Sungguh sebuah irama kearifan menjaga tradisi leluhur. Ada satu tradisi unik yang telah lama digeluti kaum perempuan di desa ini yaitu tradisi Muna Cepe Rahi. Muna berarti menenun. Cepe secara harfiah berarti pengganti atau mengganti. Sedangkan Rahi adalah suami. Jika diterjemahkan secara utuh, maka Muna Cepe Rahi adalah menenun sebagai pengganti suami. Tetapi maksud dan tujuan yang tersirat dari tradisi ini adalah menenun dan menyiapkan sarung untuk calon suami. Hal ini biasa dilakukan oleh para gadis yang akan menikah.

Baca lebih lanjut

Tradisi Tero Bawa

tero-bawaBawa atau bawang merah adalah komoditi unggulan daerah Bima. Sebaran pertanian bawang merah terdapat di wilayah kecamatan Belo, Sape, Wera, Soromandi dan Donggo.Komoditi bawang merah Bima khsusnya jenis Keta Monca sudah dikenal luas di seluruh nusantara. Ada tradisi unik yang sudah turun temurun dilakukan oleh para petani bawang merah di Bima yaitu menggantung bawang merah di bawah seng ata atap rumah. Tradisi ini disebut “Tero Bawa”. Tero artinya menggantung.

Baca lebih lanjut