Jompa Lambang Supermasi Pangan Bima

Bima pada masa lalu adalah sebuah kerajaan Maritim sekaligus Agraris. Letaknya sangat strategis bagi jalur pelayaran di wilayah Nusantara timur. Pulau-pulau dan teluk-teluk kecil mengitari daerah ini. Gunung, bukit dan hamparan lembahnya adalah penyangga abadi bagi kebutuhan pangan masyarakatnya. Salah satu bukti supemasi pangan di daerah ini adalah ditemukannya Jompa dan Lengge (Lumbung)  atau sejenisnya diberbagai dusun dan desa.

Lanjutkan membaca “Jompa Lambang Supermasi Pangan Bima”

Bendungan Di Tepi Teluk

Teluk Wawaroda Bima memang menyimpan pesona alam yang mempesona. Teluk yang berada di bibir Samudera Hindia itu dikelilingi oleh gunung dan lembah yang memang masih rimbun. Di sebelah utara Teluk Waworada terdapat sebuah bendungan kecil yang aliran sungainya mengalir hingga ke teluk Waworada. Warga setempat memberi nama bendungan itu dengan Bendungan Sori Na’e ( Bima : Sungai Besar).Hal itu didasari oleh cerita rakyat setempat bawa di lereng gunung di sekitar Waworada pada zaman dulu terdapat sungai besar yang membentang sepanjang pegunungan dan engalir hingga ke teluk Waworada.  Bendungan ini dibangun pada tahun 1991 bertepatan dengan masuknya Perusahaan Tambak Udang di wilayah sekitar teluk Waworada.

Lanjutkan membaca “Bendungan Di Tepi Teluk”

Kabupaten Bima Bahan Baku Ekonomi Masa Depan

Kabupaten Bima terletak di bagian Timur Pulau Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat, dengan posisi 118 derajat 44” sampai 119 derajat 22”BT dan 08 derajat  08” – 08 derajat  57” LS dan batas-batas wilayah sebagai berikut:

– Sebelah Utara               :   Laut Flores

– Sebelah Selatan             :   Samudera Indonesia

– Sebelah timur                :   Selat Sape

– Sebelah Barat               :   Kabupaten Dompu

Lanjutkan membaca “Kabupaten Bima Bahan Baku Ekonomi Masa Depan”

Kota Yang Dibuai Angin Laut

Penulis Muslimin Hamzah dalam bukunya “ Ensiklopedia Bima “ memuji kota Bima sebagai kota yang selalu dibuai angin laut. Kota ini memang indah, meski dikitari gunung dan bukit yang kecoklatan di musim kemarau dan hijau di musim hujan, sepintas memang tampak teduh. Tapi kota ini memang sedang dihadapkan pada persoalan serius yaitu pembabatan hutan yang telah berlangsung lama. Dan saat ini memang telah diupayakan berbagai kegiatan dan program penghijauan untuk mengatasi kegundulan hutan terutama di sekitar NCAI KAPENTA.

Lanjutkan membaca “Kota Yang Dibuai Angin Laut”

Gantao Yang Mati Suri

Jenis atraksi ini berasal dari Sulawesi Selatan dengan nama asli Kuntao. Namun di Bima diberinama Gantao. Atraksi seni yang mirip pencak silat ini berkembang pesat sejak abad ke-16 Masehi. Karena pada saat itu hubungan antara kesultanan Bima dengan Gowa dan Makasar sangat erat. Atraksi ini dapat dikategorikan dalam seni Bela diri (Silat), dan dalam setiap gerakan selalu mengikuti alunan musik tradisional Bima (Gendang, Gong, Tawa-tawa dan Sarone).

Lanjutkan membaca “Gantao Yang Mati Suri”

Tari Wura Bongi Monca

Seni budaya tradisonal Bima berkembang cukup pesat pada masa pemerintahan sultan Abdul Kahir sirajuddin, sultan Bima ke-2 yang memerintah antara tahun 1640 -1682 M. Salah satunya adalah Tarian Selamat Datang atau dalam bahsa Bima dikenal dengan Tarian Wura Bongi Monca. Bongi Monca adalah beras kuning. Jadi tarian ini adalah Tari menabur Beras Kuning kepada rombongan tamu yang datang berkunjung.

Lanjutkan membaca “Tari Wura Bongi Monca”

Tari Lenggo Titipan Keluguan Zaman Untuk Generasinya

Pada zaman dulu, Istana Bima atau Asi Mbojo tidak hanya berfungsi sebagai pusat Pemerintahan. Asi juga merupakan pusat pengembangan seni dan budaya tradisional. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (Sultan Bima yang kedua) yang memerintah antara tahun 1640-1682 M, Seni budaya tradisional berkembang cukup pesat. Salah satu seni tari yang tetap eksis hingga saat ini adalah Tari Lenggo.Lanjutkan membaca “Tari Lenggo Titipan Keluguan Zaman Untuk Generasinya”

Upacara Peta Kapanca

Upacara  Peta Kapanca adalah salah satu bagian dari prosesi perkawinan Adat Bima. Biasanya upacara ini dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan Akad Nikah dan Resepsi perkawinan. Peta Kapanca adalah melumatkan Daun pacar(Inai) pada kuku calon pengantin wanita yang dilakukan secara bergantian oleh ibu-ibu dan tamu undangan yang semuanya adalah kaum wanita.

Lanjutkan membaca “Upacara Peta Kapanca”

Kareku Kandei

Kareku Kandei atau memukul lesung dengan berbagai ragam ritme dan irama adalah sebuah tradisi unik masyarakat Bima yang telah berlangsung sejak zaman dulu. Atraksi ini biasa dilakukan oleh kaum perempuan terutama setelah selesai menumbuk padi secara bersama-sama. Hal ini dilakukan sebagai hiburan dan pelepas lelah setelah menumbuk padi dan membersihkannya hingga menjadi beras.

Lanjutkan membaca “Kareku Kandei”

Senandung Yang Tidak Lagi Bertuah

Salah satu seni budaya Mbojo yang merupakan ajang hiburan masyarakat tempo dulu adalah Rawa Mbojo. Dia adalah salah satu media penyampaian pesan dan nasehat yang disuguhkan terutama pada malam hari saat-saat panen sambil memasukan padi di lumbung. Senandung Rawa Mbojo yang diiringi gesekan Biola berpadu dengan syair dan pantun yang penuh petuah adalah pelepas lelah dan pemberi semangat kepada warga yang melakukan aktifitas di tiap-tiap rumah. Sebagai selingan, dihadirkan pula seorang pawang cerita yang membawakan dongeng-dongeng yang menarik dan penuh makna kehidupan.

Lanjutkan membaca “Senandung Yang Tidak Lagi Bertuah”