Ekskursi Uma Lengge

19732146_10203621624176692_7305632621434943326_nKeunikan desain arsitektur Uma Lengge mendapat perhatian dari Ikatan Mahasiswa Tehnik Arsitektur Universitas Indonesia untuk melakukan penelitian di tiga lokasi yaitu di Donggo,Wawo dan Sambori. Tim Advance Ekskursi, Raka dkk telah melakukan survey awal dan serangkaian koordinasi dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Bima untuk persiapan kedatangan Tim peneliti yang berjunlah 26 orang Pada tanggal 11 Juli 2017 dan pwnerimaan resmi oleh Bupati Bima pada tanggal 12 Juli 2017 yang selanjutnya akan menyebar di Wawo, Donggo dan Sambori.

Baca lebih lanjut

Menghimpun Jejak Islam Di Dana Mbojo

19366577_279831432483061_2872547718516603969_nPeradaban Islam di Dana Mbojo banyak meninggalkan jejak, baik berupa makam, masjid, naskah, ornamen dan ragam hias, hingga tradisi dan seni budaya. Kiprah kesultanan Bima selama 311 tahun telah memberikan banyak jejak yang perlu dilakukan inventarisasi kembali untuk diteliti dan menjadi bahan kajian-kajian tentang keberadaan situs-situs kejayaan islam di tanah Bima. Salah satunya adalah Langgar Kuno Melayu yang saat ini sedang gencar ditata dan diperbaiki oleh elemen-elemen masyarakat yang peduli. Mereka datang dari berbagai organisasi dan profesi serta perorangan. Langgar Kuno Melayu memang minim perhatian pemerintah. Apalagi pasca banjir bandang Kota Bima Desember 2016.

Baca lebih lanjut

Persemaian Nilai Dalam Sagele

sagele-3Sagele adalah tradisi menanam masyarakat Bima dengan bersenandung dan diiringi alat musik. Penggunaan alat music ini bervariatif mulai dari Sarone atau Serunai, Silu atau sejenis alat music tiup khas Bima, Biola dan Gambo sejenis gambus ukuran kecil. Tradisi ini telah hidup dan berkembang di tanah Bima sejak berabad-abad silam. Kini, Tradisi Sagele masih tetap bertahan meskipun sudah mulai sedkit masyarakat yang melakukan sagele saat menanam padi, jagung, kacang dan palawija lainnya.

Baca lebih lanjut

Kenapa Tenunan Bima Tidak Bermotif Manusia dan Binatang ?

dsc08421Dalam memilih simbol dan gambar untuk dijadikan motif tenunan, para penenun Bima tempo dulu berpedoman pada nilai dan norma adat yang Islami. Sebagai gambaran jati diri atau kepribadian yang taat pada ajaran agamanya. Mereka tidak boleh atau dilarang untuk memilih gambar manusia dan hewan guna dijadikan motif pada tenunannya. Larangan itu mengacu pada Masa Kesultanan (1640-1951), dilatarbelakangi oleh kekhawatiran masyarakat akan kembali ke ajaran agama lama yang percaya bahwa pada gambar manusia dan hewan ada rokh dan kekuatan gaib yang harus disembah.

Baca lebih lanjut

Tambora Tak Sedingin Dulu

tambora1Memasuki kawasan Tambora, rombongan kami disambut asap pekat menyelimuti lereng selatan dan barat Tambora. Siang yang panas diperparah pembakaran lahan yang menyebar di sepanjang perjalanan kami dalam rangka Jambore Seni dan Lawatan Sejarah NTB di Tambora. Bukit dan gunung diselimuti asap. Tanah gersang di hamparan padang savanna Tambora memantulkan hawa panas menyengat.

Baca lebih lanjut

Tradisi Teka Ra Ne’e

prosesi-adat-bima-1953
Foto : Kahaba.Info

Tradisi ini telah berlangsung lama dan menjadi salah satu ikon budaya gotong royong di tanah Bima. Ketika ada hajatan seseorang, maka ramailah para tetangga, keluarga, kerabat dan handai taulan yang datang membantu. Mereka tidak sekedar membantu, tetapi membawakan beragam kebutuhan untuk hajatan itu. Ada yang membawa kayu bakar, kue tradisional, beras, kelapa, buah-buahan, dan bahkan hewan ternak. Biasanya hewan ternak disimbolkan dengan tali pengikat ternak yang dikenal dengan “ Ai Pote “ sejenis tali yang dirajut dari serat pohon. Karena pada masa itu belum ada tali nilon seperti sekarang ini.

Baca lebih lanjut

Jalan Panjang Rawa Mbojo

SONY DSCRawa Mbojo adalah salah satu bagian dari kesenian Mbojo sebagai buah cipta,rasa dan karsa suku Mbojo selama berabad-abad lamanya. Rawa Mbojo atau lagu orang-orang Mbojo(Bima) telah hadir sejak lama mengisi wajah kebudayaan Mbojo. Dalam berbagai aktivitas, Rawa Mbojo selalu menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Mbojo. Mulai dari prosesi menanam, panen, hajatan-hajatan dan hiburan. Senandung Rawa Mbojo dilantunkan secara spontan dan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Senandung ini berisi syair dan pantun yang penuh dengan pesan-pesan moral dan agama.

Baca lebih lanjut

Bolu Mbojo

bolu-mbojo1Bolu Mantoi, demikianlah orang-orang tua di Bima sering menyebut kue tradisional Mbojo yang satu ini. Bolu Mantoi berarti Bolu lama, karena saat ini berkembang banyak sekali kue bolu yang dihasilkan dengan serba cepat melalui peralatan memasak yang kian canggih. Saya masih ingat, nenek saya dulu membuat Bolu ini dengan cetakan dari besi dengan bentuk bulat tetapi dibagian bawahnya lingkarannya agak mengecil. Bolu Mbojo rasanya tidak terlalu manis. Bahan pembuatannya adalah tepung terigu, telur, gula dan sedikit soda agar Bolu mengembang.

Baca lebih lanjut

Ini Rangkaian Prosesi Tuha Ra Lanti

Ini Rangkaian Prosesi Tuha Ra Lanti

Inilah rangkaian prosesi Tuha Ra Lanti Sultan Bima ke-16 H.Ferry Zulkarnain, ST Bin Sultan Abdul Kahir II pada tanggal 4 Juli 2013. Prosesi ini diumumkan secara resmi oleh seksi Tuha Ra Lanti Drs.H.Hasanuddin Wahid di Asi Mbojo (30/5). Pada rapat tersebut juga dibahas hal-hal tehnis seputar pengaturan acara, pengamanan para tamu yang merupakan para Sultan Nusantara, transportasi dan akomodasi, serta konsumsi.

Baca lebih lanjut