Jejak Runtuhnya Maritim Bima

84504484_10206980148137692_3730667666285789184_oAbad XV menjadi momentum penting bagi perkembangan sejarah kerajaan Bima. Raja Manggampo Donggo dan Perdana Menteri Bilmana melakukan ekspansi wilayah ke Manggarai, Alor hingga Solor. Putera Bilmana La Mbila dan La Ara ditugaskan mengemban misi itu. La Mbila dan kekuatan Pabise(Angkatan laut Bima) berhasil menaklukan Manggarai, Alor hingga Solor. Nama La Mbila dan Pabise pun tenar dengan La Mbila Ma Kapiri Solor dan Pabise Ma Kapiri Solor( yang menguasi Solor).\

Antropolog Bernes De Jong Borns dalam papersnya Mount Tambora In 1815 On Volcanous Eruption In Indonesia And Its After Marks menyebut pulau Sumbawa sebelum letusan gunung Tambora telah terkenal dengan produk pertanian dan kehutanan seperti padi, kopi, kacang hijau, Lada, kayu, rusa dan lain lain. Bandar Bima adalah salah satu pelabuhan yang sangat ramai. Sejarahwan Adrian B.Lapian menyebut bahwa pada abad 16 dan 17 Bima adalah bandar terbesar setelah berkoalisi dengan Gowa. Bima memiliki undang undang dan hukum laut yang dikenal dengan Bandar Bima.

Perjalanan Pabise dan kejayaan Maritim Bima harus berhenti pada masa Sultan Abdullah (1854-1868) dan perdana menteri Muhammad Yacub. Belanda terus melakukan intimidasi dan memaksa angkatan laut Bima untuk menyerang para pelaut Bugis, Makassar, Ternate dan Tidore karena dianggap sebagai bajak laut. Agar tidak dimanfaatkan Belanda untuk menyerang saudara serumpun.Wazir( Perdana Menteri) Muhammad Yacub membubarkan angkatan laut Bima.

Perwira angkatan laut Bima yang juga dikenal dengan Amaral Selatan mulai terpencar.Meskipun mereka masih dapat saling mengenal dengan adanya bendera oranye dan tawa tawa sebagai lambang persekutuan mereka. Memasuki abad 20, kejayaan Maritim Bima betul betul runtuh. Manggarai lepas dari pangkuan Bima dan Kerjaaan Sanggar bergabung dengan Bima pada tahun 1926.

Untuk mengenang pembubaran angkatan laut Bima, Sultan Abdulllah dan Ruma Bicara Muhammad Yacub mendirikan monumen tiang kapal di sebelah selatan Lare Lare Asi Mbojo.Tiang itu dikenal dengan Tiang Kasi pahu.Kayunya adalah Jati Kasipahu yang berasal dari hutan Tololai Wera.(sekarang Ambalawi). Pada tahun 2003 tiang kasi pahu patah. Dr.Hj.Siti Maryam Salahuddin membangun replika Tiang Kasi Pahu di sebelah selatan tiang lama.Kayunya diambil dari kecamatan Wawo.

Kini tiang Kasi Pahu betul betul merana sesuai namanay Kasi Pahu.

#ayokeasimbojo
#museumdihatiku

1. Adrian B.Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut
2. Liputan Kompas TV, Runtuhnya Kejayaan Maritim Bima,
3. Hilir Ismail, Peran Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara
4. Abdullah Tayib,BA Sejarah Bima Dana Mbojo
5. Dr.HJ.Siti Maryam Salahuddin, Undang Undang Bandar Bima.

 

Diterbitkan oleh Alan Malingi

Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial Budaya Lahir di Bima, 20 April 1973. Kontak Person 08123734986-0811390858.Email :alanmalingi2@yahoo.com, alanmalingimalingi@gmail.com, facebook,WA,Twitter, Istagram Alan Malingi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s