Bima-Gowa Dalam Sastra Dan Sejarah

kota makassarPada abad ke 15, Kerajaan Bima mulai membangun afiliasi dengan Gowa setelah sebelumnya dengan Jawa. Raja Ma Wa a Paju Longge mengutus puteranya Bilmana dan Manggampo Donggo untuk belajar ke Gowa. Memasuki abad ke 17 seiring berkembangnya pengaruh islam, hubungan Bima- Gowa semakin intens dan mesra. Hubungan kekeluargaan ini pun berlangsung hingga babak akhir kesultanan Bima.

Tercatat dalam Kitab BO, ada 8 generasi sultan Bima menikah dengan perempuan bangsawan Gowa( Baca artikel Alan Malingi, Politik Ranjang Bima- Gowa). Tak terhitung pernikahan para bangsawan Gowa dengan Bima dalam era itu. Bahkan BO mendeskripsi secara rinci tentang kisah asmara antara Abdul Kahir 1 dengan Daeng Sikontu puteri Karaeng Kasuarang.(BO Suatu Himpunan Catatan Kuno Kerajaan Bima, Massir Q Abdullah)

Dalam karya sastra lisan, hubungan Bima – Gowa juga dilukiskan dalam cerita rakyat maupun syair lagu. Berikut 4 karya sastra lisan yang menggambarkan kedekatan hubungan Bima- Gowa.

1. Lagu Gale- Gale

Lagu ini mengisahkan perjalan Rato Jena ke Gowa. Lagu gale gale ma ta lao da gowa artinya gale galeku mari kita pergi ke gowa. Lagu ini cukup populer di era 80 an.

2. Jati Kasipahu

Legenda Jati Kasi Pahu mengisahkan tentang seorang puteri raja Bima yang terbuang dan dibesarkan oleh Raja Gowa. Kisah ini ditulis dalam sebuah novelet oleh Alan Malingi. Kisah ini mengalami klimaks ketika permaisuri Gowa wafat dan mewasiatkan kepada raja jika ingin menikah lagi, raja harus menikah dengan perempuan yang jarinya cocok mengenakan cincin itu. kisah selengkapnya adalah dalam novelet Jati Kasi Pahu.

3. Wadu Ntanda Rahi

Dalam kisah wadu ntanda rahi yang ditulis Alan Malingi, La Nggusu merantai ke Gowa dan tenggelam di lautan pada saat ingin kembali ke Bima. Kisah ini cukup menarik karena menggambarkan kedekatan hubungan Bima-Gowa di masa silam
.
4. Lopi Penge

Pelabuhan Lawa Due atau pelabuhan Bima saat ini menjadi saksi hubungan cinta antara Karaeng Gowa dengan Putri Buana Bima. Lopi Penge disamping dituturkan melalui legenda, juga melalui salah satu Ntoko atau genre Rawa Mbojo yang berjudul Lopi Penge. Kisah ini juga ditulis Alan Malingi dalam ” Bunga Rampai Legenda Tanah Bima”. Lopi Penge adalah biduk yang selalu rindu.

Demikian jejak jejak yang terekam bagaimana kedekatan Bima- Gowa dan Sulawesi pada umumnya pada masa lalu hingga masa kini dan akan datang. Hubungan sastra dan sejarah menjadi perekat yang tidak akan pernah terpisahkan..

Foto : Tribun Timur( Kepadatan Kota Makassar)

Salam budaya….!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s