Makna Lambang Kesultanan Bima

lambang kesultanan BimaLambang Garuda Berkepala Dua adalah lambang kesultanan Bima. Lambang ini dicetus dan dibuat pada masa pemerintahan Sultan Bima ke-9 Abdul Hamid MuhammadSyah yang memerintah pada  tahun 1773-1819. Gambar Garuda yang menoleh ke kanan dan ke kiri di atas perisai dengan Warna dasar kuning berarti kemuliaan. Warna Garuda biru berarti setia. Warna perisai merah berarti berani.

Garuda berkepala dua yang melambangkan menoleh ke kanan dan ke kiri, suatu pernyataan bahwa dasar pemerintahan Kerajaan Bima berasaskan Hukum  Adat dan Hukum Islam berkedudukan sama dan seimbang. Sayap kiri lambang Hukum Hadat.Bagian luar bulu 7 helai melambangkan Majelis Tureli :Tureli Nggampo.Tureli Bolo.Tureli Woha.Tureli Belo.Tureli Sakuru.Tureli Parado.Tureli Donggo.

Bagian dalam bulu 5 helai melambangkan  daerah Ncuhi. Ncuhi Dara – wilayah tengah – pusat.Ncuhi Banggapupa – wilayah timur.Ncuhi Dorowoni – wilayah utara.  Ncuhi Padolo – wilayah barat.Ncuhi Parewa – wilayah selatan. Sayap kanan melambangkan Hukum Islam.  Bagian luar bulu 7 helai : Ilmu Fikih 7 macam. Bagian dalam 5 helai Ilmu Tauhid ( 3 ). Ilmu Tassawuf ( 2 ).

Kerajaan Bima menganut faham ahli sunnah wal jama’ah yang dikenal dengan “Ilmu Dua Belas.” Bagian Ekor, bagian kiri bulu 4 helai melambangkan pola masyarakat yakni Sultan ( Raja ), kelompok bangsawan ( Tureli ), Juru ( Dari ) dan rakyat biasa (Ada ro Ela). Bagian kanan bulu 4 helai melmbangkan pelaksanaan harian Hukum Islam : Khatib Tua, Khatib Karoto, Khatib Lawili dan Khatib Toi. ( Tua – kepala ; karoto = tenggorokan = leher ; lawili dada ; toi = kecil ). Bagian tengah bulu 2 helai melambangkan Ketua dan Wakil Ketua Hadat. TubuhGaruda. Melambangkan Sultan / Raja sebagai pemimpin tertinggi Hadat merangkap sebagai Qadi / Imam. Tubuh Garuda bulu 35 helai himpunan dari : Bulu sayap kiri kanan 2 x 12 helai = 24 helai. Bulu ekor kiri, kanan dan tengah 2 x 4 helai + 2 helai  = 10 helai. Tubuh Garuda = 1 helai.

Himpunan bulu Garuda 35 helai melambangkan keterpaduan antar unsur sara ( Umara ) dan unsur Islam ( Ulama ) yang menjelma menjadi “Sara Dana Mbojo”. Semua dirangkul menjadi satu, diperhatikan sama dan seimbang dalam mengemban pemerintahan kerajaan yang dilambangkan dengan Garuda menoleh ke kanan dan ke kiri ; dilaksanakan dengan ketulusan hati, kebersihan niat dan tujuan yang sama dilambangkan dengan Garuda berwarna biru yang didukung oleh keberanian  dan dijamin keamanannya yang dilambangkan  perisai berwarna merah. Hukum Hadat dan Hukum Islam berpadu dan berbaur menjadi satu sebgai kesepakatan guna menjapai kesejahteraan kerajaan dan rakyat. Dengan cita-cita dan tujuan itulah maka Sultan Bima dipersonifikasikan dengan “Howo Ro Ninu”.

Sumber : Abdullah Tayib, BA, Sejarah Bima Dana Mbojo.

Diterbitkan oleh Alan Malingi

Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial Budaya Lahir di Bima, 20 April 1973. Kontak Person 08123734986-0811390858.Email :alanmalingi2@yahoo.com, alanmalingimalingi@gmail.com, facebook,WA,Twitter, Istagram Alan Malingi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s