Sarung Peninggalan Zaman Jepang

18341707_10203357990626018_4953335444902314751_nSarung ini ditenun pada zaman Jepang. Bahannya dari kapas dan prosesnya melewati 13 tahapan mulai dari pengolaham kapas menjadi benang hingga ditenun menjadi sarung. Hingga sekarng sarung ini masih ada di desa Sangiang kecamatan Wera kabupaten Bima. Sarung sarung sejenis masih disimpan oleh perempuan Sangiang sebagai kenangan sejarah.


Moe Sandu, warga RW 14 desa Sangiang pemilik sarung ini mengemukakan bahwa sarung seperti ini menggunakan pewarna alami yang dikenal dengan Ro o Dau.Dulu, pembuatan sarung tradisional di desa Sangiang dilakukan di pulau Sangang karena penduduk Sangiang tinggal disana. Pada tahun 1985 saat terjadi erupsi Sangiang, warga dipindahkan ke Sangiang darat.

Aktivitas menenun secara tradisional dengan bahan kapas masih digeluti perempuan Sangiang. Meskipun prosesnya lama dan tahapan yang ditlewati sangat panjang,namun bagi Moe Sandu dan perempuan Sangiang lainnya merasakan kepuasan tersendiri menghasilkan tenunan dari kapas yang dikerjakan dengan tangan dan keringat sendiri.

 

Penulis : Alan Malingi

 

Iklan

One thought on “Sarung Peninggalan Zaman Jepang

  1. Evi Mei 12, 2017 / 5:35 am

    Sarung sarung yang sangat berharga. Mestinya museum beli ya Pak Alan terus disimpan di sana dan diawetkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s