Jejak Tradisi Pembuatan Sarung Sangiang

18157475_10203287325939445_3022708551580206071_nMendampingi tim jejak petualang Trans 7 di beberapa tempat di Bima selama akhir pekan dan liburan kali ini, saya mendapat oleh oleh berharga untuk berbagi. Ya, sebuah pengalaman menarik sekaligus menantang tentang kekayaan khasanah budaya Mbojo yang masih banyak yang belum diekspose dalam balutan keindahan alam Dana Mbojo. Menyambangi kampung Sangiang darat, saya mendapatkan dua sarung yang usianya sudah tua dan bahannya murni dari kapas di pulau sangiang dan proses pembuatannya melewati 12 tahapan secara tradisional dengan alat yang sederhana dan pewarna alami yang dikenal dengan Ro o Dau.

Proses pembuatan sarung atau tembe diawali dari weha wunta atau mengambil kapas. Kemudian dilanjutkan dengan Klisi yaitu proses membersihkan wunta. Pembersihan lanjutan dikenal dengan Lili dan Mbenti. Kapas yang sudah melewati proses pembersihan itu dilakukan Kandili, kemudian dilanjutkan proses pengolahan kapas menjadi benang yang disebut Medi.setelah itu direntangkan yang disebut dengan Ale. Proses selanjutnya disebut dengan Nggoha yaitu membasahi dan melicinkan benang dengan Air beras yang sudah masak atau Oi Ncidi. Kemudian benang dijemur sampai betul betul kering.Tahapan ke 9 adalah melakukan kiri dengan Alat yang disebut Langgiri. Kemudian dilakukan proses Ngane dan Luru dengan membentangkan benang sesuai ukuran sarung yang akan ditenun. Lalu proses ke 12 adalah menenun.

Moe Sandu 70 tahun warga RT 24 desa Sangiang menceritakan bahwa sarung yang berwarana hitam di bawah ini telah ada sebelum zaman penjajahan Jepang dan ditenun di pulau Sangiang. Ini berarti sarung atau Tembe Me e ini sudah berusia lebih dari 70 tahun. Sedangkan sarung bwrwarna putih dan bergaris kotak kotak biru, merah dan hitam itu dibuat sebelum erupsi Sangiang pada tahun 1985. Sejak saat itulah warga sangiang tidak lagi bercengkrama dengan gunung sangiang.Mereka dipindahkan ke Sangiang darat Sarung sarung itu adalah kenangan Moe Sandu dengan sang Ancala Sangiang. Zat pewarna untuk sarung putih ini memang sudah tidak lagi menggunakan pewarna dari Ro o Dau, tetapi sudah menggunakan pewarna buatan. Tapi bahan pembuatannya adalah dar kapas atau yang dikenal dengan Wunta yang masih tumbuh di pulau Sangiang.

Sarung Tua dari Sangiang dengan bahan asli dari kapas dan proses pembuatannya yang panjang dan lama serta menguras tenaga adalah kenangan sejarah, betapa nilai nilai itu masih hidup hingga kini dan tetap bertahan dalam gempuran industri moderen.

Penulis : Alan Malingi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s