Kenapa Tenunan Bima Tidak Bermotif Manusia dan Binatang ?

dsc08421Dalam memilih simbol dan gambar untuk dijadikan motif tenunan, para penenun Bima tempo dulu berpedoman pada nilai dan norma adat yang Islami. Sebagai gambaran jati diri atau kepribadian yang taat pada ajaran agamanya. Mereka tidak boleh atau dilarang untuk memilih gambar manusia dan hewan guna dijadikan motif pada tenunannya. Larangan itu mengacu pada Masa Kesultanan (1640-1951), dilatarbelakangi oleh kekhawatiran masyarakat akan kembali ke ajaran agama lama yang percaya bahwa pada gambar manusia dan hewan ada rokh dan kekuatan gaib yang harus disembah.

Berdasarkan ketentuan adat, ragam hias yang boleh dijadikan motif adalah motif bunga dan tumbuh-tumbuhan seperti bunga satako(bunga setangkai) yang mengandung makna kehidupan masyarakat yang sejuk damai laksana rangkaian bunga yang sepanjang waktu menbar aroma semerbak bagi lingkungannya., bunga samobo(bunga sekuntum) mengandung makna pengharapan masyarakat, agar para pemakai atau pengguna hasil tenunan memiliki akhlak mulia bagaikan sekuntum bunga beraroma semerbak bagi masyarakat., kakando(rubung) mengandung makna kesabaran dan keuletan dalam menghadapi tantangan, seperti kakando yang mampu tumbuh di tengah-tengah rumpun induknya yang lebat. dan Aruna ( nanas) dengan 99 buah sisik mengandung makna 99 sifat Allah SWT, pencipta alam semesta yang selalu dipuji dan disembah oleh manusia sebagai hambaNya. Sesuai dengan kelemahan dan keterbatasannya, manusia wajib memahami 99 sifat Allah SWT.

Sedangkan motif garis melambangkan Sikap tegas dalam melaksanakan tugas, sikap yang lazim dimiliki oleh masyarakat Maritim. Motif  geometris meliputi Nggusu  Tolu (Segi tiga) merupakan isyarat bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan Allah SWT.  Nggusu Upa(segi empat) Sikap hidup yang terbuka, berkomunikasi dengan kaum pendatang dari berbagai penjuru.,Pado waji (jajaran genjang) Kehidupan manusia berada dalam tiga tingkat, yang pertama berada diatas yang jumlahnya terbatas, dan diatas mereka adalah Allah Yang Maha Tinggi yang dilukiskan dengan sudut lancip. Tingkat kedua berada ditengah, jumlahnya lebih banyak. Dan yang ketiga tingkat bawah, hampir sama dengan golongan atas dan lebih sedikit dibanding golongan menengah.,dan Nggusu Waru ( segi delapan).

Pada masa lalu, suara alat tenun terdengar di setiap rumah terutama di siang hari. Kampung-kampung yang dulu menjadi sentra tenun adalah di Rabadompu, Ntobo, kampung Bara, Renda, Nata, Donggo Ele di sebelah tenggara teluk maupun di Donggo Ipa di sebelah barat Teluk, di Sape, Wera dan sejumlah kampung di Bima. Kini, suara alat tenun tidak lagi sebanyak dulu. Tetapi masih bisa dijumpai di desa-desa dan di kampung-kampung pinggir kota Bima.

Penulis : Alan Malingi

Sumber : Ragam Motif Tenun Bima-Dompu, M.Hilir Ismail & Alan Malingi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s