Pulau Dalam Teluk

dsc_0234Di batas bibir samudera Hindia membentang sebuah teluk nan elok. Teluk itu berada di sebelah selatan tanah Bima. Teluk itu bernama teluk Waworada. Pulau-pulau kecil nan elok pun membentang seperti pengawal yang tetap setia menjaga keindahan ekosistimnya. Sedikitnya ada 6 pulau kecil di bentangan keindahan teluk Waworada. Pulau-pulau itu dalam bahasa Bima disebut Nisa. Ada 6 nisa yang ada di teluk waworada yaitu Nisa Mbea, nisa Dora, nisa Lampa Dana, nisa Sura, nisa Tengge dan nisa Malai.  Teluk Waworada berada di kecamatan Langgudu yang berjarak lebih kurang 80 KM dari kota Bima. Di teluk ini, ribuan masyarakat Langgudu dan sekitarnya menggantungkan hidup. Berbagai jenis ikan hidup disini memberikan kehidupan bagi mahluk di sekitarnya. Di gugusan pegunungan di selatan teluk ini terdapat beberapa kampung dan desa seperti Karampi, Soro Afu, Tamandaka dan lain-lain.

 

Pasir putih dan panorama yang membentang di seluruh sisi teluk ini adalah titian muiara yang selalu menjanjikan harapan bagi masyarakatnya. Makanya, cukup beralasan antara tahun 1942- 1945 Pemerintah Kolonial Jepang membangun pertahanan menghadapi perang Asia Timur Raya dan untuk mengantisipasi serangan  “Lompat Kodok” yang dilancarkan oleh Sekutu dari Daratan Australia. Sehingga berbagai macam amunis peninggalan pada masa perang dunia ke dua masih banyak yang tercecer di pulau- pulau kecila dan teluk ini. Sedari dulu teluk ini dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negeri. Bahkan para mubaliq yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Bma pernah berlabuh di teluk ini.

Menelusuri teluk Waworada mengasyikkan. arus dan gelombang laut yang cukup tenang, terutama di pagi  dan  sore hari. Perahu motor tetap stand by di dermaga desa Rompo yang menanti penumpang menyebrang ke desa-desa di selatan teluk seperti di desa Karampi, Waduruka, Soro Afi, Sarae Ruma dan bahkan ke Pusu. Sewa perahu motor menuju ke Karampi dan desa-desa tersebut hanya sebesar Rp. 10.000. Banyak juga warga yang mengangkut motor dengan perahu menuju desa-desa tersebut maupun berlabuh di desa Rompo menuju Bima. Sewa perahu untuk 1 motor sebesar Rp.10.000. ” Tiap hari kami menyebrangi teluk Waworada dan membawa Motor ke desa dan demikian pula sebaliknya. ” Ungkap Amir, warga desa Karampi yang juga mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kota Bima. Penyebarangan dari desa Rompo menuju desa-desa di selatan teluk Waworada memakan waktu sekitar 40 menit hingga 1 jam. 

Teluk Waworada memang indah, seindah angan dan asa warga dan Pemerintah Kabupaten Bima untuk terus membangun kawasan ini lintas sektor seperti perikanan dan kalautan, pariwisata, pertanian, kehutanan dan terutama infrastruktur lingkungan yang asri. Kehidupan di sekitar teluk ini semakin menggeliat berkat berbagai program Pemerintah seperti PNPM Mandiri perikanan, pembangunan Dermaga Nusantara, budidaya perikanan tangkap dan rumput laut serta program lainnya.

Penulis : Alan Malingi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s