Sarung Untuk Calon Suami

tenun-sangiang1-1Kaum perempuan di desa Sangiang kecamatan Wera kabupaten Bima menghabiskan waktu senggang dengan menenun. Setiap kolong rumah selalu kita temui kaum perempuan menenun. Bunyi alat tenun bersahutan dari satu kolong ke kolong lainnya. Sungguh sebuah irama kearifan menjaga tradisi leluhur. Ada satu tradisi unik yang telah lama digeluti kaum perempuan di desa ini yaitu tradisi Muna Cepe Rahi. Muna berarti menenun. Cepe secara harfiah berarti pengganti atau mengganti. Sedangkan Rahi adalah suami. Jika diterjemahkan secara utuh, maka Muna Cepe Rahi adalah menenun sebagai pengganti suami. Tetapi maksud dan tujuan yang tersirat dari tradisi ini adalah menenun dan menyiapkan sarung untuk calon suami. Hal ini biasa dilakukan oleh para gadis yang akan menikah.

Ketika lamaran pihak calon mempelai pria diterima, maka seorang gadis sudah mulai menenun sarung untuk dipersembahkan kepada calon suami atau keluarga calon suami. Tradisi pemberian sarung ini biasanya dilaksanakan pada saat acara pengantaran mahar. Sarung yang ditenun untuk dipersembahkan kepada keluarga calon suami tentu sesuai kemampuan tenun si gadis. Hj. Maisyah di dusun Sarae desa Sangiang mengemukakan, si gadis menenun sarung dibantu juga oleh gadis-gasi lainnya.

Tokoh masyarakat Sangiang, H. Adlan, S.Pd mengemukakan persembahan sarung untuk calon suami dilakukan secara sukarela dan menjadi niat keluarga calon pengantin wanita, apalagi calon suaminya berasal dari luar kampung. ā€œ tradisi ini sudah turun temurun dilakukan dan tidak enak jika kami tidak mempersembahkan sarung sebagai oleh-oleh untuk keluarga calon pengantin pria. ā€œ Tutur pengusaha sukses dan anggota DPRD Kabupaten Bima ini.

Misalnya mahar yang dibawa oleh keluarga calon pengantin pria sebesar Rp. 20 juta, maka calon pengantin wanita dan keluarganya menyiapkan minimal 20 lembar sarung. Tetapi jumlah itu tergantung kemampuan dan keadaan. Tetapi persembahan sarung untuk calon suami adalah tradisi yang telah menjadi kewajiban bagi calon pengantin wanita berapa pun jumlahnya.

Tradisi Muna Cepe Rahi mengandung tata nilai tentang kebersamaan dan saling menghargai serta mempererat tali kekeluargaan di antara dua keluarga yang akan disatukan dalam ikatan suci. Ikatan pernikahan menuju keluarga sakinah,mawaddah dan warrahmah. Perempuan Sangiang telah melakoni tradisi luhur dalam mempersembahkan pengorbanan dan kesetiaan terhadap suami dan keluarganya.

Penulis : Alan Malingi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s