Wajah Kesenian Donggo

mpisi
Mpisi

Para Antropolog dan sejarahwan bependapat bahwa Dou Donggo atau orang Donggo yang hidup di dataran tinggi di sebelah barat teluk Bima dan sebelah tenggara teluk Bima adalah penduduk asli Bima. Mereka adalah pendukung kebudayaan awal di Dana Mbojo(Tanah Bima). Orang Donggo di sebelah barat Teluk Bima disebut Dou Donggo Ipa. Sementara orang Donggo di sebelah tenggara teluk Bima disebut Dou Donggo Ele. Orang Donggo Ele juga menyebut dirinya rumpun Inge Ndai atau dalam bahasa Bima disebut Angi Ndai yang berarti orang-orang sesaudara dan serumpun. Donggo Ipa meliputi orang-orang yang mendiami kecamatan Donggo dan Soromandi sekarang. Sedangkan Donggo ele adalah orang-orang yang mendiami kecamatan Wawo, La Mbitu dan di pegunungan Langgudu yaitu di desa Kalodu dan Kawuwu sekitarnya.

arugele
Arugele Sambori 

Kesenian Donggo, baik Donggo Ele maupun Donggo Ipa didominasi sastra lisan berupa syair, senandung dan mantra. Dalam setiap gerak langkah dan aktifitasnya, Dou Donggo selalu bersenandung dan bersyair. Di Donggo Ele, ada beberapa senandung dan mantra yang hingga saat ini masih tetap dilantunkan yaitu senandung menanam Arugele, Belaleha, Mange Ila, Bola Mbali, Mpisi dan Kasaro. Kesenian lainnya yang masih tetap dipertahankan adalah Mp’a Lanca dan Kalero.

Di Donggo Ipa juga memiliki senandung menanam Arugele, Mpisi, Kalero, Inambaru, Kande Ntadi Ro Ntedi dan mantra-mantra. Di Donggo Ipa menyimpan kekayaan cerita rakyat seperti La Hila, La Lindu, La Gandi, cerita Gajah Mada, Garuda dan cerita rakyat lainnya. Disamping itu, Donggo Ipa juga memiliki atraksi kesenian Mpa’a Ncala dengan menggunakan tongkat dan saling melempar serta menangkis.

kalero1
Tari Kalero 

Kesenian Donggo melekat dengan urusan upacara-upacara adat baik upacara menanam, upacara daur hidup maupun kematian. Pada masa lalu, Ncuhi sangat berperan dalam setiap aktifitas masyarakat Donggo. Setiap memulai upacara, selalu diawali oleh informasi dari Ncuhi. Demiikian pula dengan prosesi menanam dan panen. Muslimin Hamzah mengemukakan,pada masa lalu masyarakat Donggo khususnya Donggo Ipa mengenal beberapa upacara Raju, Upacara Bulan Purnama,selamatan sehabis panen, Upacara Langi, Wacapahu dan Aropaka untuk mengusir penyakit, hingga perayaan Ulang Tahun Gajah Mada di Padende. Tetapi seiring masuknya islam, uapcara-upacara ini sudah ditinggalkan.

Kesenian Donggo adalah wajah lama kesenian Mbojo jauh sebelum mengalami kontak akulturasi budaya dengan kaum pendatang terutama kesenian-kesenian yang banyak mendapatkan pengaruh Makassar dan daerah-daerah lainnya. Donggo dengan segala keunikannya adalah potensi besar untuk dipromosikan dalam rangka pelestarian nilai-nilai dan kepariwisataan di tanah Bima.

Penulis : Alan Malingi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s