Tradisi Teka Ra Ne’e

prosesi-adat-bima-1953
Foto : Kahaba.Info

Tradisi ini telah berlangsung lama dan menjadi salah satu ikon budaya gotong royong di tanah Bima. Ketika ada hajatan seseorang, maka ramailah para tetangga, keluarga, kerabat dan handai taulan yang datang membantu. Mereka tidak sekedar membantu, tetapi membawakan beragam kebutuhan untuk hajatan itu. Ada yang membawa kayu bakar, kue tradisional, beras, kelapa, buah-buahan, dan bahkan hewan ternak. Biasanya hewan ternak disimbolkan dengan tali pengikat ternak yang dikenal dengan “ Ai Pote “ sejenis tali yang dirajut dari serat pohon. Karena pada masa itu belum ada tali nilon seperti sekarang ini.

Teka Ra Ne’e terdiri dari dua suku kata yaitu Teka dan Ne’e. Secara harfiah Teka berarti naik. Sedangkan Ne’e artinya mau. Tetapi Teka Ra Ne’e tidak berarti naik dan mau. Teka Ra Ne’e adalah satu kata yang merujuk pada menunaikan kewajiban dan keinginan untuk membantu keluarga dan kerabat yang berhajat. Bahasa Bima tidak selamanya bisa diartikan secara harfiah, karena kata Teka Ra Ne’e adalah satu kesatuan kata yang merujuk pada menunaikan bantuan untuk keluarga dan kerabat yang berhajat.

Pada masa lalu, seseorang yang berhajat melapor kepada tetua adat atau kepala kampung tentang rencananya menggelar hajatan. Lalu Kepala kampung menugaskan seseorang untuk memberikan kabar tentang hajatan itu door to door dari rumah ke rumah. Beberapa hari sebelum dilaksanakan hajatan, istri kepala kampung dan beberapa orang perempuan datang ke rumah yang berhajat untuk memukul lesung atau yang dikenal dengan Kareku Kandei. Hal itu dilakukan sebagai tanda bahwa hajatan akan segera dimulai. Lalu berdatanganlah kaum perempuan untuk melakukan “ Mbaju “ atau menumbuk padi untuk persiapan hajatan tersebut.

Sejak hari itulah dilaksanakan  Teka Ra Ne’e. Kaum perempuan mengenakan Rimpu sebagai hijab orang Bima menuju ke rumah tempat hajatan akan digelar. Semantara kaum lelaki memikul kayu bakar, buah kelapa dan bahkan beras. Ada juga yang menuntun hewan ternak. Di dalam wonca(Bakul) kaum perempuan lengkaplah segala jenis kue dan bahan makanan yang dibawa. Suasananya begitu indah dalam jalinan kerja sama dan gotong royong. Demikianlah seterusnya yang dilakukan bila ada lagi hajatan lain yang digelar di kampung itu. Hajatan-hajtan itu biasanya dilakukan pada masa pasca panen dan diatur oleh Kepala Kampung agar kegiatan hajatan tidak tumpang tindih. Pada masa lalu, pantang bagi orang Bima melaksanakan hajatan pada saat bulan paceklik dari bulan September hingga Desember karena masa panen sudah lewat. Masa ini dikenal dengan “ Wura Hela” atau bulan- bulan dimana masa panen tidak dilakukan.

Kini, seiring perkembangan zaman Teka Ra Ne’e sudah banyak yang berubah bentuk meskipun di desa-desa masih rutin dilakukan Teka Ra Ne’e. Teka Ra Ne’e sudah banyak berbentuk uang. Nilai-nilai kerja sama dan gotong royong sudah berkurang dengan adanya perlengkapan yang serba jadi seperti terop, kursi, alat kesenian, pelaminan dan bahkan kateirng makanan. Keluarga yang berhajat hanya tinggal menyiapkan uang untuk membayar semua kebutuhan hajatan. Pada masa lalu, semua dikerjakan secara gotong royong seperti membangun paruga atau tenda dengan bahan kayu dan bambu, meminjam kursi dari rumah ke rumah, merancang pelaminan dari bahan buah-buahan dan janur kuning dan lain sebagainya. Saya masih ingat ketika kecil menjunjung kursi dan memikul bambu untuk keperluan hajatan keluarga. Kursi-kursi yang lagi tren kala itu adalah kadera fenti dan kadera miro yaitu kursi dari tali plastik dan kursi dari rotan. Masih banyak juga terdapat kursi kayu. Kursi-kursi itu dipinjam dari rumah ke rumah dan dicatat serta diberi nama.

Kini zaman sudah banyak berubah. Teka Ra Ne’e telah bergeser nilai dan pemahaman. Kadang Teka Ra Ne’e dikonotasikan dengan pemberian uang sogok untuk memperoleh jabatan kepada pejabat yang lebih tinggi. “ Watisi Teka Ra Ne’e mu wati rakamu.” Jika tidak Teka Ra Ne’e maka tidak akan dapat, kira-kira demikianlah artinya. Nilai-nilai luhur kebersamaan dan gotong royong serta saling menghargai semestinya tidak digunakan untuk hal-hal yang berkonotasi negative. Semoga teka ra ne’e yang masih eksis dilakukan oleh warga Bima di pedalaman dan di kampung-kampung masih terus berjalan dan mengisi perubahan zaman.

Penulis : Alan Malingi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s