Jalan Panjang Rawa Mbojo

SONY DSCRawa Mbojo adalah salah satu bagian dari kesenian Mbojo sebagai buah cipta,rasa dan karsa suku Mbojo selama berabad-abad lamanya. Rawa Mbojo atau lagu orang-orang Mbojo(Bima) telah hadir sejak lama mengisi wajah kebudayaan Mbojo. Dalam berbagai aktivitas, Rawa Mbojo selalu menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Mbojo. Mulai dari prosesi menanam, panen, hajatan-hajatan dan hiburan. Senandung Rawa Mbojo dilantunkan secara spontan dan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Senandung ini berisi syair dan pantun yang penuh dengan pesan-pesan moral dan agama.

Meskipun terkadang disampaikan seacara kocak, namun pesan-pesannya menyentuh. Karena pada masa lalu, kata dan kalimat symbol sering diungkapkan melalui syair dan lagu sebagai wadah penyampaian pesan. “ Ngaji Karo’a, pahala na’e diru’u( Membaca alqur’an, pahala besar didapatkan), Mai ngaji aina lampa ngoja ( Mari mengaji jangan keluyuran), Dou ma daloa ngaji doho ta’wa ngena jangko di iwa ( Orang yang tidak bisa mengaji duduk dibawah menunggu Jangko dari teman).

Antara Patu Mbojo(Pantun Bima)  dengan Rawa Mbojo tidak bisa dipisahkan. Karena yang dilantunkan dalam Rawa Mbojo adalah patu mbojo, meskipun ada beberapa untaian patu mbojo yang tidak dilagukan dalam rawa mbojo. Tetapi secara umum, rawa mbojo bersumber dari patu mbojo yang dilontarkan secara spontan pada saat bekerja di ladang, hajatan-hajtan  dan seluruh rangkaian prosesi pernikahan adat Mbojo pada masa lalu.

Senandung dan lagu lama jauh sebelum munculnya Rawa Mbojo yang diiringi  Biola dan Gambo(gambus)  telah banyak dilantunkan oleh masyarakat Bima di berbagai pelosok. Di Sambori dan kawasan Donggo Ele(kawasan Donggo sebelah timur teluk Bima yang meliputi desa Sambori,Teta,Kaboro, Kadi, Kuta,Tarlawi di lereng gunung Lambitu), masih mewarisi syair dan senandung Arugele,Belaleha,Bola Mbali, Mangge Ila, Kasaro dan Kalero. Senandung ini biasa dilantunkan pada saat upacara-upacara adat, menanam,panen dan hajatan-hajatan warga. Khusus senandung Arugele memiliki beberapa jenis yaitu Arugele Ngguda (menanam), Arugele Suna Ra Ndoso(Khitanan) dan Arugele Nika Ro Neku (Pernikahan).

Demikian pula halnya dengan senandung Belaleha. Senandung ini juga terdiri dari beberapa bagian yaitu  Belaleha Suna ro Ndoso (Khitanan) dan Belaleha Nika Ro Neku(Pernikahan). Syair Belaleha berisi petuah, nasehat, pantun dan pujian  dan harapan kepada yang Maha Kuasa. Sesuai fungsinya, Belaleha dibagi dalam dua jenis yaitu  Belaleha Randa dan Belaleha Ranca. Belaleha Randa dihajatkan untuk penobatan seseorang dalam satu upacara adat dan pada masa pra Islam untuk persembahan sesajian, tetapi setelah Islam ritual itu tidak dilaksanakan lagi. Sedangkan Belaleha Ranca digelar untuk hiburan biasa.

Di Donggo Ipa (Kawasan donggo di gugusan pegunungan Soromandi di sebelah barat teluk Bima), juga terdapat syair dan senandung kasaro,kalero, nggahi dana, Mpisi kande,Arugele dan Ina Mbaru. Senandung – senandung tersebut tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Donggo Ipa sejak berabad-abad lamanya terutama dinyanyikan pada saat ritual upacara adat dan keagamaan.  Disamping syair dan senandung di atas, masih terdapat senandung lainnya yang sering dilantukan masyarakat Mbojo di masa silam seperti Senandung Temba,Kandinga, Kande, Kabadu, Saribi, Mpisi, Rawa Nu’a, Rawa Olo, Ziki Guru Bura dan senandung lainnya yang kini telah hilang dari peredaran.

Seiring dengan itu, muncul juga lagu Dangdut berbahasa Mbojo yang turut dinyanyikan oleh artis-artis nasional seperti Mansyur S, Yus Yunus dan lain-lain. Kemunculan lagu-lagu berbahasa Mbojo ini tidak dapat dipungkiri sebagai sebuah adaptasi kesenian dan kreasi musik dan seni tarik suara yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Rawa Mbojo Biola dan Gambo juga mengalami pengembangan dengan lahirnya bentuk musik baru  yang dikenal dengan “ Biola Katipu “. Bentuk musik ini adalah perpaduan antara Biola,Gambo, Gitar Bas, Simbal Drum dan Katipu atau Ketipung yang menjadi salah satu alat musik ciri khas dangdut. Kehadiran Biola Katipu memang membawa warna baru dalam blantika musik di Dana Mbojo, namun rentan terhadap berbagai gesekan di arena konsernya.

Biola Katipu identik dengan joget lepas dan mabuk-mabukkan yang kerap menimbulkan konflik di Bima. Oleh karena itu, keberadaan Biola Katipu memang dilematis. Di satu sisi cukup diminati, tetapi di sisi lain mengundang konflik terutama di kalangan anak-anak muda di pedesaan. Disamping itu, dalam beberapa syair lagu Biola Katipu mengandung hal-hal yang seronok. Contohnya dalam lirik lagu yang berjudul Ari-Ari karya Ari Pele. “ Ari –ari –ari mai ta maru ara” (adinda mari tidur di sini). “ Ama Nggomi ma tapa ama nggomi di topa”  (Ayahmu yang menghadang, ayahmu ku tampar).

Rawa Mbojo, baik berupa syair dan senandung tanpa iringan alat musik saat ini kondisinya memprihatinkan karena proses regenerasi yang stagnan. Seniman tua yang sudah senja sangat mengharapkan proses regenerasi kesenian Rawa Mbojo. Namun generasi muda tidak tertarik untuk melakoni kesenian Rawa Mbojo akibat pengaruh kesenian modern.

Syair dan senadung di Sambori seperti Arugele, Belaleha, Kasaro, Mangge Ila, dan Bola Mbali masih bertahan dalam bibir orang-rang tua. Demikian pula halnya senandung Olo di seberang teluk Waworada. Ziki Guru Bura yang merupakan warisan sejarah masuknya Islam di tanah Bima hanya dilantunkan oleh satu grup ziki dari desa Rai Oi Kecamatan Sape Bima. Senandung Inambaru di Donggo hanya dilantunkan oleh seorang ibu bernama Cristine Siti Hawa.

Yang memprihatinkan juga adalah Rawa Mbojo dengan alat Musik Biola dan Gambo dengan irama atau Ntoko lama dan klasik saat ini sudah sangat terbatas penyanyinya. Dalam penelusuran Tim Majelis Kabudayaan Mbojo, penyanyi Rawa Mbojo yang menguasai Genre lama dengan syair penuh petuah dan nasehat tidak lebih dari 5 orang. Genre atau Ntoko lama tersebut erat kaitannya dengan sejarah Bima seperti Ntoko Tambora, Ntoko Ka’e, Ntoko Lopi Penge. Ntoko Karendo. Ntoko Koncowanco, Ntoko Sijoli Wura Ma Mbolo, Ntoko Sijoli Sape, Ntoko Tembe Jao Galomba, Ntoko E Aule, Ntoko Dali,dan Teka Mpende.

Rawa Mbojo perlu diselamatkan dari kepunahan dan perlu ditularkan kepada generasi muda untuk mencintai kesenian Rawa Mbojo sebagai warisan sastra lisan Mbojo yang telah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad lamanya. Sebagaimana yang diuraikan di atas, maka Rawa Mbojo perlu direvitalisasi dalam rangka upaya pelestarian nilai-nilai seni budaya daerah sebagai puncak kebudayaan bangsa Indonesia.

Jenis Rawa Mbojo yang perlu mendapatkan perhatian untuk direvitalisasi adalah :

  1. Syair dan senandung Arugele, Belaleha, Mangge Ila, Bola Mbali,kalero dan Kasaro di Sambori Bima.
  2. Senandung Olo di pesisir teluk Waworada Bima
  3. Senandung Inambaru di Donggo Bima
  4. Ziki Guru Bura di desa Rai Oi Kecamatan Sape Bima
  5. Senandung menanam Sagele di lereng pegunungan Wawo dan di Kota Bima
  6. 11 Irama atau Ntoko Rawa Mbojo sebagaimana disebutkan di atas yaitu Ntoko Ka’e.Ntoko Tambora, Ntoko Lopi Penge, Ntoko Karendo, Ntoko Koncowanco, Ntoko Sijoli Wura Ma Mbolo, Ntoko Sijoli Sape, Ntoko Tembe Jao Galomba, Ntoko E Aule, Ntoko Dali,dan Teka Mpende.

Enam Jenis Rawa Mbojo tersebut perlu digelar dalam satu pentas bersama untuk menggairahkan dan memotivasi seniman muda Bima untuk mencintai Rawa Mbojo sebagai warisan budayanya. Disamping itu, perlu difasilitasi pembentukan Sanggar atau wadah pembinaan dalam merekut elemen muda untuk bergabung dalam kelompok seni sastra tersebut.

Penulis : Alan Malingi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s