Perjuangan Menuju Sangiang

retno-arumdati
Selfi dihadapan Rhama The Fastest

Ceritanya nih, kemaren Sabtu – Ahad saya sekeluarga minus Davin, bareng BJJ (Birokrat Jalan-Jalan), Makembo (Majelis Kebudayaan Mbojo), Crew Mecidana dan Armada Finance Bima ke Pulau Sangiang untuk menyaksikan Kalondo Lopi Kapal Phinisi Rhama The Fastest.  Kalondo Lopi adalah proses menceburkan eh mengawinkan eh mempertemukan kapal dengan laut. Kapal ini dibangun di atas pasir hitam pantai Pulau Sangiang, kira-kira 100 mater dari bibir pantai. Jadi kebayang kan gimana rempongnya nyurung-mendorong- kapal segede gambreng itu ke laut. Menjadi lebih istimewa lagi karena kapal ini adalah kapal terbesar yang pernah dibuat di Bima & dibuat oleh Panggita-panggita, sebutan untuk pembuat kapal; yangg semuanya adalah putra-putera Bima. Mereka belajar membuat kapal sacara otodidak. Dari ilmu yang diturunkan dari leluhurnya dan ada jg yang belajar dari para pembuat kapal di Bulukumba.

retno1
Eh…ada yang keinjak kali ya…..

Hhmmm…Saya kok jadi ingat seorang teman, yang kuliah teknik perkapalan dan berasal dari Bira Bulukumba, negeri pembuat kapal. Dimana yang dia sekarang, lost contact !. Mari disruput dulu mimiknya… teh kupi silakan pilih… nyamik’an – camilannya dihicipin juga.Lanjut yaa ceritanya. Petualangan dimulai saat kami ketinggalan kapal yang akan menyeberangkan kami ke Pulau Sangiang , sehingga haras menunggu dua jam ikut kapal selanjutnya. Sambil menunggu kami sempat belajar menenun tembe; sarung khas Bima dan songket. Tak ketinggalan nyicipin kopi ramuan warga, yang merepekan campuran kopi + beras + jahe + gula merah.

 

retno3
kibarkan bendera BJJ

Sruuuuput duluu. Pas adzan maghrib kapal datang. Bingung mau langsng naik kapal, takut ketinggalan lagi, apa sholat dulu. Akhirnya kami pilih sholat dulu, agak ngebut…set set set… salam langsung klepat. Wiridnya sambil ngusungi barang-barang ke kapal..Sambil buru-buru saya pamitan ke warga. Seorang ibu menggendong dan memeluk Aya (2th) sambil membaca doakan di telinga Aya. Mbak, “ Hapenya dibungkus plastik saja, tumben ini ombaknya besar sekali, kata ibu itu.”  Gelap gulita, hanya lampu senter di kepala sj sbg penerang. Butuh perjuangan buat naik kapal krn terjangan ombak bertubi-tubi. Blm sampai naik kapal baju kami sdh basah kuyup. Namun typ ada hikmahnya, bhw dg baju basah begini tdk akan ketahuan kalo kita pipis di syelana😁.

Dan ketegangan pun dimulai saat kapal lepas jangkar. eng ing eng…

 

Penulis : Retno Arumdati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s