Tiang Pabise

12961670_10201691732010594_2984907748437469504_nTiang yang masih berdiri tegak di depan Asi Mbojo bukanlah hiasan atau asesoris. Namun memiliki pesan dan arti penting bagi perjalanan panjang sejarah Mbojo. Tiang ini bernama tiang kasipahu, yang terilhami dari nama tiang kapal terakhir armada laut kerajaan Bima. Tiang Kasipahu adalah momentum penting yang mengakhiri perjalanan panjang angkatan laut kerajaan Bima yang disebut Pabise.Pabise  dipimpin oleh Rato Pabise. Dalam menjalankan tugasnya, Pabise dibantu oleh Dari Pabise yang merupakan kelompok ahli kelautan dan kemaritiman yaitu para nahkoda, pendayung dan pelaut pilihan, juru mudi kapal dan perangkat pasukan angkatan laut yang memiliki ketrampilan berenang,menyelam dan tahan terhadap berbagai rintangan di laut. Armada Laut Pabise dibentuk sejak abad ke-15 di masa Ruma Bicara Bilmana yang memerintahkan puteranya La Mbila dan La Ara melakukan ekspansi wilayah ke kepulauan Solor dan Alor sehingga dikenal dalam sejarah sebagai La Mbila Ma Kapiri Solor (La Mbila yang menguasi Solor). Sejak saat itu wilayah timur nusantara menjadi bagian dari wilayah kerajaan Bima seperti di Manggarai, Sumba hingga Alor dan Solor.

Dalam berbagai pertempuan dan juga kegiatan kenegaran Pabise selalu menjadi andalan. Pada masa itu, jalur laut menjadi satu-satunya andalan transportasi yang menghubungkan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dalam peperangan dan misi bantuan serta dukungan logistik perang, Pabise selalu menjadi barisan terdepan dalam pengiriman logistik maupun pasukan perang. Dalam perjalanan sejarah Bima, Sultan Abdul Khair Sirajuddin dan puteranya Nuruddin memmbantu perang Trunojoyo. Abdul Khair Sirajuddin juga membantu perang somba Opu dan turut andil dalam perang Gowa dan perjanjian Bongaya. Misi Pabise banyak dilakukan untuk konsolidadi wilayah di Sumba, Manggarai dan sekitarnya. Dalam BO Sangaji Kai, tercatat kunjungan Sultan Abdul Hamid ke Manggarai dengan kapal kerajaan bernama Waworada.

Konflik dengan Gowa dalam memperebutkan tanah Manggarai juga tidak terlepas dari peranan Armada Laut Pabise. Konflik itu berawal ketika pulau Manggarai dijadikan Mahar pernikahan Sultan Alauddin dengan Karaeng Tana Sanga Mamuncaragi pada tahun 1727. Karena menjadi Mahar, maka secara otomatis menjadi milik Gowa. Alauddin tidak mengakui mahar itu, maka pada tahun 1732 membatalkan penyerahan tanah Manggarai sebagai Mahar. Belanda mulai bermain di air keruh. Menghasut Sultan Gowa dan juga menantunya Sultan Alauddin Bima.

Sultan Sirajuddin Gowa melakukan penyerangan dan menduduki Manggarai pada tahun 1759. Keadaan itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Belanda. Pada tahun 1762, Belanda menawarkan bantuan kepada Alauddin untuk merebut kembali Manggarai. Akhirnya Pabise dan seluruh pasukan kerajaan Bima dibantu Belanda berlayar ke Manggarai dan berhasil merebut kembali tanah Manggarai. Sejak tahun 1762 kekuasaan kerajaan Bima atas Manggarai tidak dikutik-kutik lagi dan status tersebut diakui kompeni. Tetapi kerajaan Bima harus memberikan konsesi-konsesi baru kepada kompeni sebagai tanda terima kasih.(Abdullah Tayib,175). Mertua dan menantu berperang. Yang kalah menjadi abu dan yang menang menjadi arang.

Namun kejayaan armada laut Pabise harus berhenti pada masa pemerintahan Sultan Abdullah dan Wazir Muhammad Yacub (1854-1868). Pada saat itu, Belanda melakukan intimidasi di laut. Belanda menuding pejuang Makassar, Bugis, Ternate, dan Tidore yang dianggap sebagai bajak laut. Suasana di laut semakin tegang. Armada laut Bima mengalami kesulitan konsolidasi. Akhirnya Wazir Muhammad Yacub membubarkan Armada Laut Pabise agar tidak diperalat oleh Belanda. Tindakan tersebut memang sangat berdampak pada perkembangan perlawanan terhadap Belanda pada masa selanjutnya. Perwira Angkatan Laut Bima yang disebut Amaral Selatan juga terpencar dan hidup terpisah. Meski berkat adanya tanda pengenal dan kode khusus Amaral Selatan berupa Bendera Oranye dan Tawa-Tawa ( Gong Kecil) yang merupakan kode kesatuan mereka di laut yang kembali mempersatukan mereka.(M.Hilir Ismail, peran kesultanan Bima dalam perjalanan sejarah nusantara, 139). Bukti kejayaan armada laut Pabise adalah tiang Kasipahu yang masih berdiri tegak di depan Asi Mbojo saat ini.

Sumber Bacaaan :

1.Abdullah Tayib, BA Sejarah Bima Dana Mbojo.
2. M.Hilir Ismai, Peran Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara.

Keterangan Foto :
1.Foto Tiang Kasipahu pada malam hari.
2. Foto kapal yang sandar di teluk Bima dan digunakan Roffaer melakukan penelitian situs-situs di Bima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s