Pako Tana Selalu Dinanti

ani-ani4Setelah  meletus dahsyat pada tahun 1815 , tanah Tambora dan Pekat menjadi  tidak bertuan. Sejarahwan Dr. Helius Sjamsuddin menyebutkan bencana itu justru menjadi  The blessing in disquess ( Rahmat Tuhan Yang Tersembunyi)  bagi kerajaan Sanggar, Dompu  dan Bima. Karena penduduk di dua kerajaan(Tambora dan Pekat) sudah tidak ada lagi. Mereka hilang(meninggal) dari peradaban baik pada saat letusan maupun akibat penyakit dan kelaparan yang merajalela pasca letusan. Ada juga yang bermigrasi ke luar Tambora seperti di Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok dan bahkan di negeri lainnya.Tanah Tambora dan Pekat yang tidak berpenghuni itu mengundang  migrasi orang-orang Bima Dompu ke negeri yang dulu dikenal dengan Aram-aram itu. Namun pada dekade awal belum begitu banyak arus migrasi ke Tambora dan Pekat, karena masyarakat meyakini sebagai kawasan bekas bencana, Tambora masih dinilai angker.  111 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1926 , kerajaan Sanggar bergabung dengan Bima yang secara otomatis wilayah Tambora bagian utara dan sebagian baratnya masuk wilayah kerajaan Bima. Disusul pada tahun 1930 an Kerajaan Dompu sempat digabungkan dengan kerajaan Bima hingga tahun 1949.

Sejak  itu, arus migrasi orang-orang Bima –Dompu ke Tambora dan sekitarnya mulai meningkat. Awalnya  mereka menginjakkan kaki disana lewat berladang dan bertani yang dikenal dengan PAKO TANA. Istilah Pako Tana berasal dari dua suku kata yaitu Pako yang berarti panen dan Tana yang berarti menanak nasi. Jadi Pako Tana adalah memanen dan menikmati hasil panen atau tanaman yang mereka tanam dan pelihara selama berladang. Mereka bertani sambil menetap untuk sekali sampai dua kali musim tanam, kemudian kembali ke Bima dan Dompu untuk menjual hasil panen.

Lama kelamaan mereka akhirnya menetap. Mereka berkumpul dan tinggal dalam satu kawasan dengan  mendirikan perkampungan di Dompu dan Tambora. Sampai saat ini banyak nama – nama kampung yang sama dengan nama kampung di Bima seperti Simpasai, Rasanae, Monta, Renda, O’o dan sederet kampung lainnya. Tidak hanya itu, pako tana juga merambah tanah Sumbawa. Orang – orang Bima seperti di desa Samili, Kalampa Tente dan sekitarnya migrasi ke Empang,Plampang, Lape, lopok, bahkan ke Taliwang  dan sekitarnya untuk Pako Tana. Pada perkembangan berikutnya  banyak yang menjadi warga Sumbawa.

Pako Tana tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga berdampak sosial dan budaya. Secara ekonomi pako tana berdampak pada perputaran uang, barang dan jasa, Karena di areal Pako Tana terjadi transaksi dan tukar menukar barang dengan hasil panen seperti gerabah dari Rabagondu dan Wadu Wani Kecamatan Woha Bima, serta tenunan dari desa Rabadompu, Nata dan desa-desa sentra tenunan di Bima dan Dompu.  Pako Tana juga berimplikasi sosial  dan budaya dengan terjalinnya kedekatan kekerabatan dan kekeluargaan antara warga dalam kawasan Pako Tana. Tidak jarang pula terjadi pernikahan di antara orang-orang pendatang ini yang mengakibatkan meningkatnya interaksi sosial dan budaya. Keberadaan orang-orang Bima, Dompu dan Sumbawa yang masih memiliki akar budaya yang serumpun, memberikan daya rekat budaya yang semakin erat dan kuat di dalam komunitas masyarakat Pako Tana.

Hj. Siti Hawa (80 Tahun) warga Kelurahan Rabangodu Utara mengemukakan, bagi orang orang Rabangodu dan Rabadompu dan sekitarnya, pako tana adalah moment yang dinanti. Pada saat itu mereka berduyun – duyun menuju Dompu dan Sumbawa untuk Pina (panggilan untuk mengerjakan sawah ladang dengan diberi upah)  dan Weha Una( Menikmati hasil dari pekerjaan di sawah dan ladang/menikmati upah). Disamping itu,mereka juga menjual hasil kerajinan berupa gerabah dan tenunan. “ Itulah sebabnya kampung ini  diberinama Rabangodu. Tempat orong orang membuat gerabah.” Kenang Hj. Siti Hawa.  Sedangkan Rabadompu sejak dulu memang menjadi sentra tenunan.

“ Dulu kita jalan kaki dari Bima ke Tambora, ada juga yang menunggang kuda bagi yang punya kuda. “ Kenang Hj.Siti Hawa. Dikatakanya, jarak tempuh dari Bima ke Tambora dengan menjunjung Periuk dan gerabah itu bisa mencapai 3 hari 3 malam. Mereka memulai perjalanan dari Bima dan sampai Dompu menjelang Sore, kemudian beristirahat di Dompu. Perjalanan dilanjutkan pagi hari hingga menuju Paruga Sante di kawasan Doro Canga dan Doro Peti dan beristirahat di sana. Pada hari ketiga perjalanan baru menyampai tanah Tambora.

Sebelum memasuki masa pako tana, warga Rabangodu membuat periuk, wajan,padasan dan aneka perkakas rumah tangga dari tanah liat. Sementara orang Rabadompu menenun kain sarung, Tembe Nggoli untuk dijual saat Pako Tana di Tambora dan Sumbawa. Bisa diistilahkan “Two In One “ karena mereka mendapatkan upah dari Pako Tana, kemudian mereka juga membawa hasil kerajinan untuk dijual. Jadi mereka mendapatkan dua keuntungan sekaligus.

Pako Tana tidak hanya menjalin rasa persaudaraan,  kekeluargaan, senasib dan sepenanggungan   di antara pelakunya, tetapi telah menjadi sejarah yang indah dan romantis pada masa lalu bagi warga Bima, Dompu dan Sumbawa. Pako Tana yang selalu dinanti dan telah berakhir bersama sejarah itu sendiri. Pako Tana sudah jarang sekali dilakukan seiring perkembangan transportasi,ilmu pengetahuan dan tehnologi yang serba praktis dewasa ini. Tetapi sejarah Pako Tana telah menitipkan tata nilai tentang kerja keras, gotong royong,kebersamaan dan daya rekat sosial dalam interaksi masyarakat di Bima, Dompu dan Sumbawa.

 

Sumber : 1. Helius Sjamsuddin. Letusan Tambora 1815, Dampak Lokal Dan Global

  1. Hj. Siti Hawa – Rabangodu Utara Kota Bima.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s