Sari Bunga Di Taman Kehidupan

12247022_893250380759907_3723205171590170690_nIbu Mas Imo ini menceritakan tentang kisah Ana Fari Pidu (Tujuh Bidadari) yang menikah dengan Ana Sangaji Mbojo ( Putera Mahkota Kerajaan Bima). Kisah ini memang sudah sering didengar, namun yang menarik adalah transformasi kebudayaan dalam cerita ini. Cerita tentang Ana Fari Pidu merupakan rangkaian panjang dari Hikayat Sang Bima yang berkembang di tanah Bima sejak lama.

Dalam cerita Ana Fari Pidu lama versi hindu, ternyata telah ditransformasi ke dalam cerita islam di wilayah pesisir Langgudu ini. Misalnya puteri bungsu dari Ana Fari itu telah dirubah namanya dengan Siti Fatimah. Nama Sangaji Mbojo juga diganti dengan Muhammad Nurlah, selendang ana fari pidu diganti dengan Mukenah.Telaga permandian Ana Fari itu dirubah menjadi kebun bunga dan 7 bidadari itu turun dari kayangan memetik sari bunga antara waktu magrib dan Isya. Artinya, bahasa simbol ” Memetik Sari bunga ” itu adalah ibadah manusia di antara dua waktu itu.

Pada masa lalu, keutuhan dan ketangguhan keluarga orang-orang Mbojo adalah pada waktu magrib dan isya. Dimana pada waktu ini, orang tua mengumpulkan anak-anaknya untuk shalat berjamaah, mengaji dan makan bersama. Di waktu inilah orang tua mengecek satu persatu keadaan dan keberadaan anak-anaknya. Disamping itu, para orang tua melarang putera puterinya membuka pintu rumah di antara dua waktu itu karena setan sedang berkeliaran. Inilah yang dimaksudkan dengan “Sari Bunga Di Taman Kehidupan” yang terurai indah lewat tutur dan penampilan Mas Imo asal desa Karampi kecamatan Langgudu ini.

Dalam proses ini, kisah tentang 7 bidadari fersi lama telah dilakukan penyesuaian dengan tata nilai islam. Cerita 7 bidadari memang tidak hanya dikenal di tanah Bima, kisah ini merata di seluruh persada nusantara. Tetapi di Bima, ada proses penyesuaian dan transformasi nilai dari ajaran lama kepada nilai-nilai islam.

2 thoughts on “Sari Bunga Di Taman Kehidupan

  1. Evi Desember 6, 2015 / 1:59 pm

    Begitu kaya Bima dengan nilai-nilai leluhur ya Pak Alan. Larangan membuka pintu di antara waktu shalat magrib dan isya tentu maknanya lebih dalam dari sekedar takut setan ya🙂

    • Alan Malingi Desember 24, 2015 / 11:25 am

      iya bu evi. itu juga tuntunan agama yang melarang membuka pintu di antara waktu magrib dan isya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s