Sejarah,Misteri Dan Keindahan

IMG_9753
Tanjakan Nanga Tumpu

Bagi warga Bima, Dompu,Sumbawa dan Lombok yang bepergian ke Sumbawa maupun ke Bima pasti melewati sebuah tanjakan yang dikenal dengan Nanga Tumpu ini. Tanjakan dan tikungan ini menjadi tolak ukur perjalanan dari Bima ke sumbawa Lombok atau sebaliknya. ” Kita sudah sampai Nanga Tumpu. “. Begitulah kata supir bus sekaligus sosok inspiratif pendidikan Bang Guteres Alan Msjj Ambalawi memberi tahu penumpang kala itu. Kalimat itu memberikan sinyal bahwa beberapa jam lagi akan sampai di Dompu dan Bima. Terbayanglah rumah,kampung halaman, dan sanak keluarga.


Pemandangan di Nanga Tumpu dan sekitarnya indah memesona. Laut dan pulau yang terhampar indah berpadu dengan birunya laut dan teluk -teluk mungil dibawahnya. Perahu-perahu nelayan yang hilir mudik di atas ketenangan laut di perbatasan Dompu sumbawa ini adalah biduk-biduk keindahan dibalik misteri yang ditawarkan Nanga Tumpu.
Di balik keindahan itu tentu Nanga Tumpu juga menyimpan misteri keabadian tentang berbagai kecelakaan dan tragedi yang menimpa para pengendara yang melewati tanjakan Nanga Tumpu. Nanga berarti sungai atau muara. Sedangkan Tumpu adalah buntu. Jadi Nanga Tumpu adalah Muara sungai yang tumpul. Sebenarnya Nanga Tumpu itu bukan di tanjakan dan hamparan laut ini. Nanga Tumpu adalah di tikungan dan tanjakan yang kini telah dibangun semacam rumah makan dan persinggahan kendaraan -kendaran Fuso.
Menurut h.Nurdin, SH (mantan Kadis Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Bima), Di sekitar Nanga Tumpu tepatnya di dusun Mata terdapat sebuah makam kuno yaitu makam Raja Bima terakhir Salisi Mantau Asi Peka. Salisi dikejar dan dibiarkan terlantar dengan pasukannya oleh keponakannya Manuru Bata ( Sultan Sirajuddin Dompu). Sirajuddin adalah putera Raja Dompu Matonggo Desa. Istrinya adalah adik dari Raja Bima Mantau asi Sawo dan masih saudara tiri Raja Salisi.
Manuru Bata( Sirajuddin) menetap di Bima bersama La Ka’i ( Sultan Abdul Kahir I) Sultan Bima pertama yang mendirikan kesultanan Bima. Antara La Ka’i dan Manuru Bata seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Mereka berjuang mendirikan kesultanan Bima bersama La Mbila dan Bumi Jara Sape. Setelah memeluk Islam 4 serangkai ini berganti nama. La Ka’i berganti nama menjadi Abdul Kahir, Manuru Bata menjadi Sirajuddin, La Mbila menjadi Jalaluddin, dan Bumi Jara Sape menjadi Awaluddin.
Dalam catatan sejarah Bima, Manuru Bata mendirikan kesultanan Dompu setelah berhasil membantu La Ka’i merebut tahta kerajaan dari tangan pamannya Salisi. Misi Manuru Bata adalah mengejar Salisi dan karena tidak tega membunuh pamannya, maka Manuru Bata membiarkan terlantar dengan sisa pasukannya di sekitar Nanga Tumpu sampai akhir hayatnya.
Pada zaman penjajahan Belanda, jalan lintas Sumbawa yang melewati Nanga Tumpu mulai dibangun. Pekerjaan jalan ini dilanjutkan terus pada masa pendudukan Jepang dengan sistim Romusya untuk logistik tentara Jepang yang berlabuh di Sumbawa.
Kini Tanjakan Nanga Tumpu telah diperlebar dan jalannya sudah sangat mulus. Pembatas jurang pun dibuat dan terus ditata. Bila musim hujan, tanjakan nanga tumpu rawan longsong. Dan Bila musim kemarau, ancaman kebakaran hutan pun menghadang.
Nanga Tumpu,antara sejarah, misteri dan keindahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s