Kalondo Wei

11406877_10200761845484012_76710557469429297_n
prosesi kalondo wei di salah satu kampung di kota Bima

Salah satu rangkaian yang unik dari prosesi pernikahan adat Bima adalah Kalondo Wei. Prosesi ini termasuk prosesi inti setelah prosesi pengantaran dan serah terima mahar. Tegang waktunya adalah Sajama’ah (sejum’at atau sepekan) kadang – kadang sawura (sebulan) setelah pengantaran mahar. upacara kalondo dou di wei  adalah upacara pengantaran calon penganten putri dari rumah orang tuanya menuju uma ruka (rumah untuk penganten). Dilaksakan pada bulan purnama sesuai sholat Isya.

Calon penganten putri diturunkan (kalondo) dari atas rumah orang tuanya dan diusung ke uma ruka ( rumah penganten). Diantar oleh sanak keluarga dan kerabat dengan berbusana adat yang beraneka ragam sesuai dengan status sosial dan usia pemakai. Dimeriahkan dengan atrasi jiki hadra (jikir hadra) diiringi musik rebana.(Upacara Pernikahan Adat Bima-Dompu, M.Hilir Ismail & Alan Malingi

Pada waktu yang bersamaan di uma ruka sedang berlangsung “Ngaji kapanca” (tadarusan pada upacara kapanca). Ngaji kapanca akan berakhir bersamaan dengan setibanya rombongan calon penganten putri di uma ruka.

Setibanya di uma ruka, rombongan penganten disambut dengan tari wura bongi monca dan dimeriahkan dengan atraksi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda.

Setelah calon penganten putri bersama rombongan tiba di Uma Ruka, maka akan dilanjutkan dengan upacara kapanca (penempelan inai). Upacara kapanca atau penenpelan inai di atas telapak tangan calon penganten putri dilakukan oleh para tokoh adat perempuan. Dilakukan secara bergilir diiringi dengan lantunan jiki kapanca (jikir kapanca) tanpa iringan musik. Syair jikir berisi pujian atas kebesaran dan kemuuliaan Allah dan Rasul.

Tujuan yang terkandung dalam upacara kapanca adalah sebagai peringatan bagi calon penganten putri bahwa dalam waktu yang tidak lama, ia akan menjadi ibu rumah tangga yang akan mengemban tugas mulia dan berat. Telapak tangan yang selama ini halus mulus, akan bercucuran keringat dan darah.

Setelah upacara kapanca berakhir, maka akan dilanjutkan atrasi kesenian jiki hadra. Dihalaman rumah akan diramaikan oleh atraksi permainan rakyat seperti Mpa’a sila, Gantao dan Buja Kadanda. Selain itu  ditampilkan pula permainan rakyat yang bernama “Lanca” yaitu adu kekuatan betis di kalangan kaum laki – laki.

Pada malam itu calon penganten laki – laki tidak boleh berada di atas uma ruka. Dia hanya boleh berada di halaman rumah bersama para anggota keluarga. Larangan itu sesuai dengan ketentuan adat.(upacara  pernikahan adat bima-dompu, m.hilir ismail & alan malingi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s