Tradisi Sagele Dan Arugele

ImageKalau masyarakat Inge Ndai (Sambori, Kuta,Teta,Tarlawi, Kadi, Kaboro dan sekitarnya) menyebutnya dengan Arugele. Malah Arugele di wilayah ini tidak hanya identik dengan prosesi menanam, tapi juga berkaitan dengan upacara dan hajatan hidup dan kematian. Sehingga di wilayah ini dikenallah Arugele Ngguda, Arugele nika ro neku, arugele Suna Ra Ndoso, dan lain-lain.  Tapi bagi masyarakat di sekitar Lelamase, Ntobo,Ndano Nae dan sebagian wilayah Bima lainnya menyebutnya dengan Sagele. Sagele dan Arugele adalah tradisi menanam mayarakat Bima yang telah turun temurun dilakukan terutama memasuki musim penghujan.

Yang membedakan Arugele di Sambori dan sekitarnya dengan Sagele adalah pada nyanyian dan iringan alat musiknya. Arugele Ngguda (Arugele menanam) di Sambori dan sekitarnya hanya diiringi senandung Arugele tanpa music pengiring.Bagi masyarakat Sambori dan sekitarnya, Arugele juga menjadi tarian nyanyian yang berhubungan dengan tanam dan panen. Oleh karena itu, atraksi seni ini biasa digelar di sawah dan huma ketika mulai menanam maupun pada saat panen. Arugele dinyanyikan bersama-sama oleh semua orang yang ada di hamparan ladang yang melakukan prosesi menanam.

Jumlah orang dalam setiap Arugele tidak terbatas. Mereka bisa mencapai ratusan orang. Ini merupakan tarian dan nyanyian masal alami tanpa scenario dan koreografi. Sambil menyanyi mereka memegang tongkat kayu atau dari besi yang ujungnya telah dibuat runcing dan ditancapkan ke tanah. Mereka berbaris dan melakukan gerakan menancapkan kayu yang diruncingkan itu kemudian menaburkan butir-butir padi, jagung atau kedelai ke tanah yang telah mereka lubangi dengan kayu runcing tadi. Sementara kaum lelaki mengikuti alunan langkah mereka untuk merapikan dan menutup kembali tanah yang telah ditaburi bibit tadi. Alunan syair dan jatuhnya tongkat ke tanah seirama dan padu menghasilkan harmoni alam dan pemandangan yang menakjubkan. Betapa tidak, di hamparan ladang yang bersusun-susun itu ada banyak orang yang berjejer rapi sambil melantunkan senandung dan menanam.  

.

Syair Arugele Ngguda (Arugele Untuk Menanam)

 

Gele Arugele

Gele Badoca

Lirina Pana Liro

     Kone di sarei todu kai sarau

      Jagaku palona pahumu piri pela

      Bohasi baliro pahu me’e taluru

     

      Gele Arugele

      Lino na tolo lino ntauka kantolo

      Linona moti lino ntau balata

      Linona ade tiwara dou ma eda

 

      Gele Arugele

      Ura bura aka main onto doro

      Madama dodo dasaina tolo

      Jagaku mbeca tembe do’o ra cepe

 

      Gele Arugele

      Papa pai la tana’u ra nefa

      Campo konci la sabua mafaka

      Musyawara kabou mampasa

 

Catatan : Syair ini menggambarkan suasana di sawah lading ketika menanam, hijaunya alam, terik mentari, nyanyian burung, kebersamaan dan seluruh aktifitas para petani di sawah/lading dan huma.

 

 

Sedangkan Sagele diiringi music Gambo( Sejenis Alat music petik khas Bima yang ukurannya lebih kecil dari Gambus pada umumnya dengan senar dari tali pancing)  maupun Biola.Syair yang dilantunkan juga adalah syair Lagu Bima (Rawa Mbojo) baik syair lama maupun baru yang sudah diaranser dengan lagu pop dan dangdut. Jika Arugele dilantunkan bersama-sama oleh orang-orang yang melakukan prosesi menanam, namun Sagele hanya dilantunak oleh pemain music (Biola atau Gambo) dengan satu atau dua orang penyanyinya. Sedangkan yang lain melakukan aktifitas menanam secara serentak seirama antara iringan music maupun jatuhnya tongkat ke tanah.

Persiapan   Arugele dan Sagele biasa saja. Tidak ada ritual tertentu yang dilakukan. Beberapa hari sebelum dilakukan upacara tanam biasanya pemilik lahan menghubungi sanak keluarga maupun kerabat yang terdekat maupun yang jauh untuk dilakukan “ Pina “. Pina adalah undangan untuk membantu kegiatan tanam maupun panen dengan upah yang disepakati. Upah Pina bisa berupa uang atau hasil panen. Besarnya uang pina berkisar antara Rp.30 ribu hingga Rp.50 ribu.

            Sagele dan Arugele masih tetap eksis hingga saat ini terutama bagi masyarakat di lereng-lereng pegunungan di tanah Bima dan Dompu. Entah kapan tradisi ini mulai ada. Tapi yang pasit dia tetap ada bersama masyarakat pendukungnya. Arugele dengan senandung tanpa musiknya. Dan Sagele bersama music pengiringnya tetap hidup bersama dengan hamparan ladang, tegalan dan huma. Jika ini diaranser dan dijadikan tarian massal akan menjadi salah satu tarian dan senandung massal tanpa scenario dan koreo. Akan menjadi unik dan bisa menjadi salah satu destinasi wisata dalam gerimis Desember. Semoga. (*alan)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s