Sejarah Rumah Hitam

Image
Kompleks Rumah Hitam depan Bandara Bima

Tahukah anda ? Kenapa Kompleks bangunan tua yang berlokasi di seberang timur Bandara Sultan Muhammad Salahuddin ini disebut dengan Rumah Hitam ?. Orang Bima menyebutnya dengan UMA MEE( Uma=Rumah, Mee=hitam). Bangunan tua ini sekarang telah difungsikan sebagai kantor Polsek Palibelo, kantor pos cabang Palibelo dan Kantor Bank Pesisir Bima. Pada zaman Belanda, bangunan ini mulai dibangun sebagai persiapan kantor pelandasan pesawat( Persiapan pembangunan Bandara). Dan pada masa pendudukan Jepang proyek pelandasan pesawat itu dilanjutkan dengan sistim kerja paksa Romusha. Kaum laki-laki di seluruh desa di wilayah Bima dikerahakan paksa untuk pembangunan Bandara. Keringat, darah dan air mata bercucuran membasahi kompleks yang sekarang dinikmati sebagai Bandara Udara Muhammad Salahuddin Bima.

Dr.Hj.Siti Maryam Rachmat Salahuddin, salah seorang saksi sejarah dan puteri Sultan Bima menceritakan, pada masa Jepang yang hanya 3, 5 tahun itu, penderitaan rakyat sungguh luar biasa. ” Bahan makanan langka, pakaian sulit didapatkan, masyarakat banyak yang mengenakan karung Goni, Jepang masuk keluar kampung dan merampas ternak, bahan makanan, besi dan kuningan untuk keperluan tentara Jepang dan industri militer. ” Kenang Siti Maryam yang saat itu baru saja dipulangkan dari sekolah HBS Malang karena pecahnya perang dunia II.

Diceritakan Siti Maryam, sejak Jepang masuk ke Bima, serangan pasukan sekutu melalui udara dilakukan. Setiap hari pesawat sekutu melintasi  langit Bima. Untuk mengantisipasi hal itu, masyarakat diperintahkan untuk menggali lubang-lubang persembunyian di halaman masing-masing. “  Gunung dan bukit dilubangi, termasuk di Pantai Lawata.” kenang Maryam. Pada Tahun 1944, intensitas serangan pasukan udara sekutu terus meningkat. Pemboman demi pemboman pun terjadi di hampir seluruh wilayah Bima.” Yang paling parah adalah di pasar Bima ratusan jiwa melayang, masjid kesultanan Bima juga rata dengan tanah, termasuk pelataran Istana Bima.” Tutur Maryam yang mengingat bahwa pesawat tempur yang memuntahkan bom itu berwarna hitamberbendera Amerika dengan tulisan “Emerging Force”.

Kembali ke Rumah Hitam, karena khawatir dibom oleh pesawat Sekutu, seluruh kompleks bangunan itu dicat warna hitam. Malam harinya tidak diperkenankan menyalakan lampu.Suasana malam sangat mencekam. Setiap bunyi sirine pasukan Jepang, masyarakat lari keluar rumah dan bersembunyi di lubang-lubang yang telah dipersiapkan.Setelah tersiar kabar bahwa Jepang telah kalah perang, masyarakat pun bernapas lega. Meskipun belum tahu apa yang akan terjadi dikelak kemudian hari. Uma Mee pun berhasil diselamatkan hingga masih bertahan sampai saat ini. Sudah selayaknya bangunan ini menjadi Situs Cagar Budaya dan museum perjuangan masyarakat Bima.

Beberapa elemen masyarakat, terutama Komunitas JELAJAH mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Bima untuk menjadikan bangunan ini sebagai Museum Perjuangan Masyarakat Bima. ” tempatnya strategis di depan Bandara, setiap orang bisa mampir terutama tamu-tamu luar daerah dan wisatawan asing. Disini bisa dipajang foto2 dan dokumen kesultanan Bima pada masa Jepang dan film dokumenter sekitar masa pendudukan Jepang di Bima.” Ungkap pemerhati budaya, Alan Malingi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s