Sagele Dan Arugele

Gaya Tiga gadis ini bukanlah sedang menunduk atau meniru  gerakan membungkuk seperti nenek-nenek. Ini adalah sebuah tarian menanam khas  lereng Lambitu Bima.Mereka sedang meperagakan tarian dan kidung dalam prosesi menanam padi dan Palawija. Tarian dan nyanyian ini disebut Sagele atau Arugele. Di Sambori dan sekitarnya dikenal dengan Arugele. Sedangkan di Wawo dan di Lelamase Kota Bima dikenal dengan Sagele.

 

Secara umum Sagele dan Arugele adalah tarian dan nyanyian yang berhubungan dengan tanam dan panen. Oleh karena itu, atraksi seni ini biasa digelar di sawah dan huma ketika mulai menanam maupun pada saat panen. Tarian dan nyanyian Arugele dibawakan oleh 6 sampai 8 orang perempuan baik dewasa maupun para gadis. Sambil menyanyi mereka memegang tongkat kayu yang ujungnya telah dibuat runcing dan ditancapkan ke tanah. Mereka berbaris dan melakukan gerakan menancapkan kayu yang diruncingkan itu kemudian menaburkan butir-butir padi, jagung atau kedelai ke tanah yang telah mereka lubangi dengan kayu runcinh tadi. Sementara kaum lelaki mengikuti alunan langkah mereka untuk merapikan dan menutup kembali tanah yang telah ditaburi bibit tadi.

Di kalangan masyarakat Bima ada sejenis tari yang mirip dengan arugele Donggo Ele, yaitu tari sagele, yang biasanya dipentaskan ketika menanam padi di sawah ladang , kemungkinan tari Sagele berasal dari tari Arugele Donggo Ele. Tari sagele hanya dikenal oleh Orang Bima di kecamatan Wawo dan sekitarnya, serta di kelurahan Lelamase Kota Bima. Seperti halnya Belaleha, Arugele pun berkembang dan dilantunkan bukan hanya pada saat menanam atau panen, tapi nyanyian Arugele juga dilantunkan pada saat acara khitanan maupun pernikahan.

Syair Arugele Ngguda (Arugele Untuk Menanam)

Gele Arugele

Gele Badoca

Lirina Pana Liro

Kone di sarei todu kai sarau

Jagaku palona pahumu piri pela

Bohasi baliro pahu me’e taluru

Gele Arugele

Lino na tolo lino ntauka kantolo

Linona moti lino ntau balata

Linona ade tiwara dou ma eda

 

Gele Arugele

Ura bura aka main onto doro

Madama dodo dasaina tolo

Jagaku mbeca tembe do’o ra cepe

 

Gele Arugele

Papa pai la tana’u ra nefa

Campo konci la sabua mafaka

Musyawara kabou mampasa

Catatan : Syair ini menggambarkan suasana di sawah lading ketika menanam, hijaunya alam, terik mentari, nyanyian burung, kebersamaan dan seluruh aktifitas para petani di sawah/lading dan huma.

Sagele atau Arugele adalah kekayaan khasanah Budaya Bima yang harus tetap terus lestari. Tarian dan kidung ini menggambarkan kebersamaan dan penyatuan dengan alam. Dalam syair Arugele tersimpan nilai-nilai kearifan local dan syair keluguan peradaban masa silam yang tak akn tergantikan dengan apapun. Kita mesti bangga bahwa leluhur kita telah member kearifan  meskipun kita sendiri sebenarnya telah alpa dan tidak peduli terhadap tatanan nilai itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s