UA PUA atau U’A PUA ?

Ua Pua dalam bahasa melayu disebut” Sirih Puan”  adalah satu rumpun tangkai bunga telur berwarna warni yang dimasukkan ke dalam satu wadah segi empat. Jumlah bunga telur tersebut berjumlah 99(Sembilan Puluh Sembilan) tangkai yang sesuai dengan Nama Asma’ull Husna. Kemudian di tengah-tengahnya ada sebuah Kitab Suci Alqur’an. U’a Pua ditempatkan di tengah-tengah sebuah Rumah Mahligai(Bima: Uma Lige) yang berbentuk segi empat berukuran  4×4 M2. Bentuk Uma Lige ini  terbuka dari ke empat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat orang gadis, dan penari lenggo melayu yang terdiri dari empat orang perjaka, beserta para penghulu melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh mayarakat sepanjang jalan.

Uma Lige tersebut diusung oleh 44 orang pria yang berbadan kekar sebagai simbol dari keberadaan 44 DARI MBOJO yang terbagi menurut 44 jenis keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur Pemerintahan kesultanan Bima. Mereka melakukan start dari kampung melayu menuju Istana Bima untuk diterima oleh Sultan Bima dengan Amanah yang harus dikerjakan bersama yaitu memegang teguh ajaran Agama Islam.

Seiring dengan perjalanan waktu, lahir beragam persepsimasyarakat Mbojo (Bima)  mengenai arti / makna serta tujuan Ua Pua, yang pada masa kesultanan merupakan salah satu upacara “Rawi Na’e Ma Tolu Kali Samba’a” ( upacara adat besar yang dilaksanakan tiga kali setahun ) selain upacara “ Ndiha Aru Raja To’I ( perayaan Hari Raja Idul Fitri ) dan Ndiha Aru Raja Na’e ( perayaan Hari Raya Idul Adha ). Akibat dari munculnya Persepsi yang beragam, maka tidaklah mengherankan munculnya respon yang berbeda pula dari Masyarakat, terhadap pelestarian Upacara Ua Pua sebagai media Dakwah dan Syiar Islam.

Guna memahami subtansi Upacara Ua Pua secara benar dan utuh kita harus meluruskan “ejaan” (tata tulis) kata Ua Pua (sirih puan). Sebab dalam kenyataannya ejaan yang dipakai masih beragam, ada yang menulis dengan ejaan Ua Pua dan ada pula yang mempergunakan ejaan “U’A pua”. Menurut salah seorang Tokoh Adat Melayu ejaan yang benar adalah “UA PUA” bukan U’A PUA (Bapak Muhammad Ibrahim) tetapi dalam kenyataannya masih banyak anggota Masyarakat bahkan budayawan yang mempergunakan ejaan yang salah (U’A PuA). Akibatnya lahir konotasi yang keliru. Masyarakat menyangka bahwa Upacara Ua Pua  sama dengan “NE’E U’A” (panjat pinang) yaitu salah satu jennis olahraga yang dipopulerkan oleh pembesar Belanda pada jaman kolonial untuk dijadikan totonan dalam memperingati hari – hari besar kerajaan Belanda. Ditinjau dari subtansi olahraga “NE’E U’A” dapat merusak perkembangan jiwa anak karena olahraga tersebut  menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan tanpa mengindahkan nilai etika atau norma. Karena itu alangkah baiknya bila kita meninjau kembali keberadaan olahraga “NE’E U’A”, masih banyak olahraga tradisional  yang bernilai positif bagi perkembangan Rohani dan Jasmani anak – anak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s