Beberapa Model Pakaian Pengantin Adat Bima

Dalam beberapa  dekade terakhir, pakaian adat untuk pengantin Bima memang masih tetap eksis dikenakan pada acara resepsi pernikahan, meski ada kelompok masyarakat yang lebih memilih pakaian adat suku lain. Hal ini tentunya tidak ada larangan, namun alangkah baiknya kita melestarikan model pakaian adat pengantin Bima yang telah mengakar jauh ke dalam sejarah.

Sekedar berbagi pengetahuan tentang model pakaian Adat untuk pengantin Bima-Dompu, saya paparkan tentang hal itu dalam tulisan singkat ini. Pakaian adat untuk kedua penganten disebut “kani bunti” (pakaian penganten), terdiri dari berbagai jenis seperti berikut :

kanni siga(Pakaian Siga), untuk putra – putri sultan dan para bangsawan tinggi.

a)      Bunti mone(Pengantin Laki-laki), melipiti :

Siga yaitu sejenis songkok berbentuk kipas sebagai lambang kebesaran dan kejayaan, setiap kali helai kipas memiliki warna yang beraneka ragam yaitu merah (keberanian), kuning (kejayaan), hijau (kemakmuran), biru (kesetiaan).

Pasangi terdiri dari :

  1. baju yang bersulam benang emas dan perak berwarna merah atau coklat dan ada yang berwarna hitam. Warna hijau dan warna kuning hanya untuk putra sultan.
  2. Sarowa dondo (celana panjang) dihiasi dengan sulaman benang emas dan perak, warna celana disesuakan dengan warna baju.
  3. Tembe siki (sarung siki), sejenis sarung yang panjangnya sampai lutut. Berwarna merah atau coklat berhiaskan sulaman benang emas dan perak.
  4. Baba sejenis ikat pinggang besar, dibuat dari kain berwarna merah atau coklat disulam dengan benang emas dan perak.
  5. Salepe (ikat pinggang) dipasang diluar baba.
  6. Sampari (keris) dipasang dirusuk bagian kiri, hulunya ditutup dengan “pasapu monca” (sapu tangan kuning), lambang kejayaan dan keperkasaan.
  7. Jungge dondo (kembang panjang) dipasang dibelakang kepala.

 

b)      Bunti siwe (penganten putri), terdiri dari

  1. Baju poro atau baju bodo, berwarna merah yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan perak.
  2. Tembe songke (sarung songket), berwarna merah hati atau coklat dengan motif bunga samobo, bunga satako dan kakando, dihiasi dengan sulaman benang emas dan perak.
  3. Salepe (ikat pinggang) dari emas atau perak.
  4. Pasapu monca (sapu tangan kuning).
  5. Samu’u tu’u (sanggul tegak) lambang keteguhan hati sang penganten. Dihiasi dengan :

jungge dondo (kembang panjang) dibuat dari manik – manik

kembang goyang.

Jungge jampaka (kembang cempaka) lambang kejayaan, jungge mundu (kembang melati) lambang kesucian.

  1. Bangka (anting – anting besar) dari emas atau perak
  2. Ponto (gelang besar) dari emas atau perak.
  3. Wajah dirias atau di make up secara tradisional yang disebut “deda”, rambut dihias dalam bentuk wange

Kani bunti bula (pakaian penganten bula), untuk golongan bangsawan menengah.

a)      Penganten laki – laki (bunti mone), sama dengan pakaian penganten siga, yang berbeda hanya songkoknya. Pada pakaian penganten bula, songkoknya mirip bulan sabit (bula), sebagai lambang dari awal kehidupan rumah tangga.

b)      Penganten putri, sama dengan pakaian penganten siga.

Kani bunti kale na’e (penganten kale na’e), untuk golongan agama dan rakyat.

a)      Penganten laki – laki

  • Kale na’e (Topi besar ala topi turki)
  • Baju kuru (baju kurung) berlengan panjang berwarna putih atau kuning.
  • Jumba (jubah) dipakai diluar baju kuru, berwarna putih atau kuning, ada juga yang berwarna merah tua.

b)      penganten putri

sama dengan pakaian penganten putri bula.

(Sumber : m. hilir ismail & alan malingi : Pakaian Adat Bima )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s