Mengenal Pakaian Adat Harian Perempuan Bima

Salah satu peralatan dan perlengkapan hidup yang sangat diperhatikan oleh masyrakat Bima adalah “kani ro lombo” (pakaian). Pengadaan pakaian harus berpedoman pada adat shahih (adat yang baik). Cara berpakaian, warna, bentuk serta jenisnya tidak boleh bertentangan dengan nilai dan hormat adat Bagi Masyarakat Bima pakaian merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat. Fungsi utamanya adalah untuk menutup aurat, memilihara kesehatan, sebagai symbol status sosial dan untuk menambah kewibawaan bagi si pemakai.

Tata cara berpakaian, bentuk serta warna dan seni aksesorisnya harus sesuai dengan etika dan estetika masyarakat . Pakaian harus harus diperoleh dengan cara halal,  bukan dengan cara yang dilarang oleh agama atau yang haram. Pakaian yang memenuhi persyaratan seperrti itulah yang dinilai “kani ro lombo ma ntika raso” (pakaian yang indah dan bersih) oleh masyarakat.

Bentuk dan warna pakaian beserta kelengkapannya mengundang nilai luhur lagi mulia, harus mampu disosialisasikan oleh si pemakaianya. Karena menurut norma adat antara pakaian dan si pemakai harus sesuai dengan bunyi ungkapan “raso ro ntika si kani ro lombomu, karaso ro ntikapu ade ro itikamu”, secara singkat makna dari ungkapan itu adalah “kalau anda memakai pakaian yang indah dan bersih, maka anda harus pula membersihkan nurani dan itikadmu”.

Seperti pada masyarakat suku – suku lain, masyarakat Bima mengenal bermacam – macam jenis pakaian adat, yaitu sebagai berikut :

1). Pakain adat harian, dipakai ketika menghadiri upacara adat dan upacara peringatan hari – hari besar kesultanan dan hari – hari besar agama.

2). Pakaian adat untuk upacaar daur hidup mulai dari upacara salama loko sampai dengan upacara pernikahan dan kematian.

3). Pakaian adat utuk penari.

4). Pakaian untuk pejabat majelis hadat.

5. Rimpu

Disamping mengenakan rimpu, wanita Bima juga mengenal beberapa jenis pakaian,perhiasan dan cara berbusana harian yang telah lama dikenakan turun temurun sejak berabad-abad lamanya. Cara berpakaian tersebut juga berkaitan dengan Tata rambut dan penggunaan Aksesoriesnya. Berikut adalah pakaian adat harian perempuan Bima pada masa lalu.

terdiri dari dua jenis, yaitu :

  1.                I.      Pakaian Baju Bodo atau Baju Poro, baju berlengan pendek pengaruh dari makasar, terdiri dari :
  • Baju poro, bewarna merah untuk para gadis, bewarna hitam (me’e) ungu (keta) bagi para kaum ibu, warna kuning dan hijau hanya untuk para keluarga sultan. Di ujung lengan baju di pasang “satampa baju”, berfungsi sebagai penutup lengan dan juga sebagai asesoris.
  • Tembe su’i atau tembe songke (sarung songket), warna dasar merah atau coklat dan boleh juga hitam. Dengan motif garis – garis kecil, kakando dan pado waji, dihiasi dengan sulaman benang emas dan perak. Boleh juga memakai “tembe bali mpida” (sarung bermotif nggusu upa segi empat dengan ukuran kecil).
  • Giwa Mpida dan Karabu To’i

Giwa (giwang) ukuran kecil, dan boleh juga memakai karabuto’I atau karabu ukuran kecil (karabu jenis giwang berbentuk bunga samobo).

Menurut adat kaum ibu termasuk gadis,  tidak dibenarkan memakai perhiasan dari emas atau perak yang berlebih – lebihan, walau permaisuri dan putri sultan sekalipun. Sebagai seorang  ibu harus berpenampilan sederhana, tidak boleh memamerkan kekayaan dan dilarang untuk memakai gelang kalung dari emas atau perak.

  • Samu’u Cangga (Sanggul Khas Bima), pada sanggul dipasang tiga tangkai bunga  jampaka (cempaka) berwarna kuning symbol kejayaan kaum ibu.(Dari Ragam Pakaian Adat Masyarakat Bima-Dompu, M. Hilir Ismail & Alan Malingi )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s