Mengenal Alat Tenun Tradisional Bima-Dompu

Berdasarkan ketentuan adat, setiap wanita yang memasuki usia remaja harus terampil melakukan Muna ro Medi, yang merupakan kegiatan kaum ibu guna meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. Perintah adat tersebut dipatuhi oleh seluruh wanita Mbojo sampai Tahun 1960-an. Sejak usia dini anak-anak perempuan dibimbing dan dilatih menjadi penenun “Ma Loa Ro Tingi” (terampil dan berjiwa seni). Bila kelak sudh menjadi ibu rumah tangga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga.

Keberhasilan kaum wanita dalam meningkatkan mutu dan jumlah hasil tenunannya, memikat hati para pedagang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka datang ke Bima dan Dompu selain membeli hasil alam dan bumi, juga untuk membeli hasil tenunan Mbojo seperti Tembe (Sarung), Sambolo (Destar) dan Weri (Ikat pinggang).

Sebagai masyarakat Maritim, pada waktu yang bersamaan para pedagang Mbojo, berlayar ke seluruh Nusantara guna menjual barang dagangannya, termasuk hasil tenunan seperti Tembe, Sambolo dan Weri. Menurut catatan Negarakertagama, sejak jaman Kediri sekitar Abad 12, para pedagang Mbojo telah menjalin hubungan niaga dengan Jawa. Mereka datang menjual Kuda, hasil bumi dan barang dagangan lainnya. Informasi yang sama dikatakan oleh Tome Pires (Portugis) yang datang ke Bima pada Tahun 1573 M.

Dari keterangan Tome Pires yang lengkap lagi panjang itu, dapat disimpulkan bahwa pada awal Abad 16 M, para pedagang Mbojo sudah berperan aktif dalam percaturan niaga Nusantara, mereka berlayar ke Jawa, Malaka, Maluku dan bahkan ke Cina. Berperan sebagai pedagang keliling yang ulet, modal sedikit tetapi dapat menarik banyak keuntungan.

Kejayaan Muna ro Medi sebagai salah satu sumber penghasilan rumah tangga dan masyarakat, mulai mengalami kemunduran sekitar Tahun 1960-an. Saat itu kegiatan Muna ro Medi mulai ditinggalkan oleh para kaum wanita. Apresiasi terhadap hasil tenunan Mbojo seperti Tembe, Sambolo dan Weri kian berkurang. Dalam kesehariannya, jumlah masyarakat yang memakai Tembe, Sambolo dan Weri terus merosot. Masyarakat terutama kaum wanita lebih mencintai bahan dan model pakaian dari luar, bahkan bangga bila berbusana ala Barat.

Tenunan Bima – Dompu seluruhnya dikerjakan dengan tangan. Alat-alat yang digunakan masih tradisional yang umumnya terbuat dari bahan alam seperti kayu dan bambu. Nyaris tak digunakan bahan logam seperti besi. Alat utama dinamakan tandi. Alat ini adalah sebuah konstruksi kayu berukuran 2 x 1.5 meter tempat merentangkan benang yang akan ditenun.

  1. Tampe : Alat ini terbuat dari kayu Jati dengan panjang 1,2 Meter dan lebar 20 cm. Fungsi alat ini adalah untuk menggulung benang yang sudah di-hani.Hani adalah proses  Merentangkan dan mengatur posisi benang.
  2. Tandi : Alat ini adalah sebuah konstruksi kayu berukuran 2 x 1.5 meter tempat merentangkan benang yang akan ditenun.Ukuran Tandi dengan tinggi 30 cm, tinggi ujung  26 cm dan lebar 21 cm.
  3. Koro Besi : Alat untuk memindahkan posisi benang ( Gun Atas / Pengaturan benang). Alat ini terbuat dari besi panjang ukuran 1,46 meter yang terbuat dari besi ukuran 8 ml.
  1. Koro Kuku : Jika Koro Besi terbuat dari Besi, maka koro Kuku terbuat dari Kayu. Alat untuk memindahkan posisi benang ( Gun Atas / Pengaturan benang). Alat ini terbuat dari kayu panjang ukuran 1,46 meter.
  2. Piso Kuku : Alat yang digunakan pada saat kuku.Terbuat dari kayu panjang ukuran 1,44 cm.
  3. Pusu dan Saraja Pusu  adalah  alat sebagai tempat benang yang akan dipalet. Sedangkan Saraja Pusu adalah Alat sebagai tempat benang yang siap di hani ( Ngame/ Merentangkan dan mengatur posisi benang)
  4. Ngane : Alat Untuk Meng-hani ( Ngane/ merentangkan dan mengatur posisi benang ) benang lusi
  5. Sadike : Alat untuk mengencangkan kain agar jarak kain dan posisi sisi sama.
  1. Cau dan Sisi : Cau adalah alat untuk  Alat untuk memasukkan benang. Sedangkan Sisi adalah alat untuk memasang benang pada cau ( Sisir ). Cau memiliki panjang 2,6 cm dan lebar 9 cm.
  2. Dapo adalah alat untuk menggulung kain yang ditenun. Atau penanmpang sarung/kain yang sudah ditenun. Alat ini terbuat dari kayu jati dengan panjang 1,41 cm dan lebar 12 cm.
  3. Lira : Alat ini terbuat dari kayu pohon asam yang dalam bahasa Bima-Dompu disebut Tera Mangge. Kegunaan Alat kini adalah  untuk merapatkan benang. Panjangnya sekitar 1,41 Cm.
  4. Sadanta Lira : Alat untuk sandaran lira. Alat ini memiliki panjang sekitar 55 cm, tinggi 22 cm. terbuat dari kayu papan.
  5. Lihu : Alat ini terbuat dari kayu pohon beringin yang berfungsi sebagai penopang punggung penenun saat menenun. Panjangnya sekitar 1,45 cm.
  6. Janta : Alat ini berfungsi untuk memalet benang ( Pusu Kai Kafa ).
  7. Langgiri  : Alat untuk memasang benang yang akan di Palet.
  8. Taropo Wila : Alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan.
  9. Taliri : Alat untuk menempatkan pusu agar sama panjang dengan teropo.

Sudah tiba saatnya pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat, untuk segera menyusun langkah-langkah guna meningkatkan kembali apresiasi masyarakat, terhadap kegiatan Muna ro Medi seperti pada kejayaannya. (Sumber M. Hilir Ismail, Hajnah Nggaro Kumbe Kelurahan Kumbe Kota Bima, Mujnah Sabali Kumbe Kota Bima )

Iklan

One thought on “Mengenal Alat Tenun Tradisional Bima-Dompu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s