Tambora, Pesona Dan Potensi Yang Terabaikan

Gunung Tambora dengan ketinggian 2851 Meter di atas permukaan laut, adalah gunung berapi aktif yang berdiri tegak di Pulau Sumbawa. yang juga bagian dari kepulauan Nusa Tenggara. Para ahli Vulkanologi berpedapat bahwa sebelum letusan dahsyatnya pada tahun 1815 ketinggian puncak gunung Tambora   mencapai 4.300 m dpl, dan dipastikan sebagai salah satu puncak gunung tertinggi di seluruh nusantara setelah Puncak Jaya (Carstensz Piramid 4884 m dpl), (Volcanic Explosivity Index (VEI).

Kini menjelang dua abad letusannya, Tambora semakin indah dan menjadi obyek penelitian berbagai kalangan. Banyak peneliti yang melakukan study dan penelitian tentang letusan, sejarah kegunung apian, pendakian, pencarian sisa peradaban Tambora, serta berwisata alam.

Kawasan Tambora dan sekitarnya sesungguhnya menyimpan pesona dan potensi untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan. Beberapa sektor yang memungkinkan untuk dikembangkan di kawasan ini antara lain perkebunan, peternakan, pariwisata dan perikanan. Sektor perkebunan, disamping  Kopi, pengembangan tanaman Mente juga sangat memungkinkan. Sentra produksi Mente seluas 21.500 Ha dengan produksi rata-rata 13.000 Ton per tahun dan masih tersedia lahan seluas 17.000 Ha.

Disamping Mente, peternakan Sapi juga sangat potensial dikembangkan di kawasan ini karena tersedia lahan penggembalaan dan pengembangan seluas 34.000 Ha dengan total populasi Sapi sebanyak 37.000 ekor. Keindahan pulau Satonda dan wisata alam gunung Tambora yang telah masuk dalam kawasan strategis nasional sangat memungkinkan dengan rata-rata kunjungan wisatawan sebanyak 3.700 orang pada tahun 2009.

Di sektor perikanan dan keluatan, budi daya rumput laut di teluk Saleh sangat memungkinkan dengan sentra produksi rata-rata 1.200 ton per tahun dan areal pengembangan sepanjang 110 km Pantai.

Di lereng Tambora hidup masyarakat Bima dan Dompu maupun warga transmigran asal pulau Bali dan Lombok. Mereka tersebar di tiga kecamatan yaitu di kecamatan Pekat Kabupaten Dompu di sisi selatan, kecamatan Tambora di sisi barat dan Kecamatan Sanggar di sisi timur. Kecamatan Tambora dan Sanggar masuk dalam wilayah administratif kabupaten Bima.

Wilayah Tambora merupakan wilayah terluas di kabupaten Bima maupun Dompu. Namun luas wilayahnya tidaklah sebanding dengan jumlah penduduknya yang masih sedikit. Banyak lahan-lahan kosong yang dijumpai sepanjang perjalanan menuju Tambora baik melalui lingkar selatan di wilayah Kempo, maupun di lingkat utara melalui Piong menuju Labuan Kananga.

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk di kecamatan Sanggar sebanyak 11.838 jiwa, di kecamatan Tambora sebanyak 6.575 Jiwa. Kecamatan Pekat Dompu dengan luas wilayah sekitar 875, 17 Km2 ( Atau 37, 65 %) dari luas Kabupaten Dompu. Kecamatan Pekat berada pada ketinggian 20 meter di atas permukaan laut. Di wilayah ini terdapat 10 desa dan 61 dusun.

Mata pencaharian warganya adalah bertani dan berladang, bnerburu, pencari madu, serta nelayan. Warga transmigran yang sudah berbaur dengan penduduk setempat memanfaatkan lahan transmigrasi itu dengan menanam berbagai jenis buah-buahan serta sayur-sayuran.

Luas Kecamatan Sanggar sekitar 72.000 Ha atau 16 porsen dari luas kabupaten Bima. Daerah ini adalah bekas kerajaan Sanggar yang pernah berjaya pada sekitar tahun 1500 sebelum letusan Tambora pada tahun 1815. Disamping dikenal sebagai daerah pegunungan dengan hasil madunya, Sangggar juga merupakan daerah pesisir dengan produksi ikan mencapai 20 ribu ton per tahun. Sedangkan nener mencapai 1 juta ekor per tahun. Untuk komoditi pertanian juga cukup besar berupa komditi padi, kedelai dan kacang tanah. Di Sanggar juga sangat cocok untuk pengembalaan ternak karena wilayah di sebelah baratnya hingga lereng Tambora terdapat padang Savana yang luas untuk pengembalaan.

Sedangkan luas wilayah kecamatan Tambora 50.500 Ha. Komoditi unggulan yang dikembangkan di wilayah ini antara lain asam, kemiri, jambu mete, kopi dan kelapa. Disamping itu, potensi peternakan di wilayah ini juga cukup besar seperti peternakan Sapi, kerbau, kuda, kambing, dan Domba.

Sudah saatnya pesona dan potensi Tambora dikembangkan dengan berbagai program multi sektor. Kehadiran KTM mudah-mudahan dapat menjawab keterbelakangan dan ketimpangan pembangunan selama ini untuk saudara-saudara kita di wilayah Tambora dan sekitarnya. Tetapi KTM tanpa perbaikan dan peningkatan status jalan lingkar selatan muapun lingkar utara Tambora sungguh tidak akan berarti. Sebab akses itu sangat dibutuhkan untuk mendorong percepatan pengembangan ekonomi di kawasan Tambora. Sarana jalan dan irigasi yang baik adalah kata kunci untuk membuka akses dan berkembangnya sektor ril di kawasan ini.(Dari Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s