Cerita Detik-detik Menjelang Letusan Tambora

Di kaki gunung Tambora, tepatnya di sebelah barat berdiri sebuah kerajaan besar. Rajanya bernama Gafur yang memerintah berdasarkan adat dan kebiasaan turun temurun dari nenek moyangnya. Kerajaan dan rakyat Tambora hidup dan dibesarkan dari kekayaan alam negerinya. Sedangkan di sebelah selatan berdiri kerajaan Pekat. Di sebelah utara sampai ke arah timur berdiri kerajaan Aga, Cempaka dan Sanggar. Kerajaan-kerajaan itu memiliki batas-batas wilayah yang telah diatur dan disepakati secara turun temurun dari zaman ke zaman.

Hampir setiap hari para pelaut dan pedagang berlabuh di kerajaan Tambora. Ada yang tinggal untuk beberapa saat lamanya. Ada pula yang tinggal dalam kurun waktu yang lama. Tanpa terasa kerajaan Tambora menjadi ramai oleh para Pelaut dan Saudagar dari berbagai negeri.

Pada suatu ketika rakyat Tambora dikejutkan dengan datangnya beberapa perahu yang mengangkut puluhan orang yang baru pernah mereka lihat. Pakaian orang-orang itu sangat berbeda dengan pakaian yang dikenakan para pedagang dan pelaut yang selama ini mereka lihat. Orang-orang itu berpakaian serba putih dan bersorban. Rata-rata mereka berjenggot dengan roman muka yang putih bersih.

Namun ada hal yang unik yang terus diamati oleh warga dari orang-orang yang berjubah itu. Mereka selalu mengerjakan ritual ibadah yang sangat berbeda dengan kebiasaan mereka. Sebelum matahari terbit mereka melakukan ritual ibadah dengan cara bersama-sama dan dipimpin oleh salah seorang yang tertua di antara mereka. Jika yang di depan berdiri maka berdirilah rekannya di belakang, demikian pula jika yang di depan ruku dan sujud serta menengadahkan tangan ke arah langit.

Kebiasaan seperti itu terus dilakukan oleh orang-orang yang berjubah itu sebanyak lima kali sehari semalam. Yaitu pada saat sebelum matahari terbit. Siang hari ketika matahari tegak di atas kepala, Sore hari menjelang matahari terbenam di ufuk barat, setelah matahari terbenam dan pada malam harinya. Dan tidak hanya itu saja mereka membuka sebuah buku tebal dan melantunkan secara bersama-sama.

Waktu terus bergulir. Kian lama masyarakat Tambora terutama yang tinggal di wilayah pesisir memeluk agama Islam. Pimpinan orang-orang yang berjubah itu mereka panggil dengan nama Kiyai Saleh. Demikian pula anggota-anggotanya dipanggil pula dengan nama Kiyai. Yang bernama Anwar dipanggil Kiyai Anwar. Yang bernama Amin dipanggil dengan nama Kiyai Amin. Begitu juga dengan yang lainnya.

Pengikut ajaran Kiyai Saleh semakin banyak. Mereka sepakat secara bergotong royong membangun tempat ibadah. Namun ada pula yang tidak setuju dan tidak sejalan dengan ajaran Kiyai Saleh. Mereka adalah orang-orang yang merasa sangat sulit untuk melupakan dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama seperti menyembah batu, pohon-pohon besar dan memakan daging anjing dan babi.

Bagi mereka ajaran Kiyai Saleh sangat membatasi gerak gerik mereka. Sehingga mereka pun sepakat untuk menolak ajaran itu. Dengan berbagai cara mereka menghalang-halangi rekan-rekannya yang ingin menemui Kiyai Saleh untuk memeluk agama Islam. Mereka merencanakan tipu muslihat kepada Kiyai Saleh dan pengikutnya.   Pada hari yang telah ditentukan kenduri besar-besaran itu dilaksanakan. Kiyai Saleh beserta pengikutnya hadir di tempat itu selepas menunaikan shalat Isya berjama’ah. Dari aromanya saja makanan-makanan yang disuguhkan itu sudah terasa lezat. Dan ditambah lagi setelah mereka menyantap masakan itu. Kiyai Saleh dan para pengikutnya pun menyantap makanan itu dengan lahap.

Tanpa rasa curiga sedikitpun Kiyai Saleh mengambil daging anjing yang sudah dicampur dengan daging kerbau serta rusa. Raja Gaur dan pejabat kerajaan tersenyum dan saling memandang wajah masing-masing yang menandakan bahwa jebakan dan tipu daya mereka berhasil. Setelah jamuan selesai, barulah mereka memberitahu Kiyai Saleh bahwa daging yang disantap itu adalah daging anjing dan babi. Kiyai Saleh terlihat murka.

Tepat waktu shalat subuh, mereka mengambil air laut untuk berwudhu. Lalu mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dalam doa-doa yang dipanjatkan usai shalat subuh, Kiyai Saleh memohon kepada Allah SWT agar Raja Gafur dan rakyatnya yang telah membuat tipu daya itu dibinasakan.

Hingga terbit matahari, Kiyai Saleh dan Pengikut-Nya terus mengucap Doa-Doa. Sebuah Gempa Bumi yang teramat dahsyat mengguncang kerajaan Tambora. Sebuah letusan yang maha Dahsyat dimuntahkan dari puncak gunung Tambora. Dunia menjadi gelap gulita di pagi yang sebelumnya cerah. Secepat kilat banjir lahar menerjang ke segala penjuru.

Istana Kerajaan Tambora luluh lantah, orang-orang lari berhamburan dikejar banjir lahar itu. Air laut naik ke daratan menenggelamkan semua yang ada. Dalam sekecap kerajaan Tambora tenggelam bersama lahar dari Gunung Tambora dan air laut yang terus menerjang meluluhlantahkan seisi kerajaan.

Kini kerajaan Tambora tinggal kenangan. Orang-orang hanya melihat padang pasir dan hamparan savanna yang luas mengitari gunung Tambora di ujung timur tanah Bima. Keangkuhan dan Tipu daya telah membinasakan sebuah kerajaan yang makmur dan tentram itu. Allah SWT Maha Kuasa atas segala yang diciptakan-Nya.

 

4 thoughts on “Cerita Detik-detik Menjelang Letusan Tambora

  1. kelambu Maret 8, 2011 / 3:39 am

    Cerita ini sumbernya dari mana ya ? Tolong di berikan referensinya.

    Trims

    • Romantika Bima Maret 8, 2011 / 3:50 am

      sory lupa dimuat, referensinya ada dalam kitab BO Kerajaan Bima yg juga mengutip syair idrus. kemudian saya juga menulis cerita bergambar untuk anak2 terinsipirasi dari kisah itu dengan judul ” Murka Sang Kiyai “

  2. Wasiadi H F September 27, 2011 / 3:34 pm

    Ceritax kurang dikit Mas,, menurut guru saya, ia bilang,, yang saya makan ini bukan anjing, tapi kambing,, lalu orang tambora bilang,, apa buktinya? mereka lalu mendgar suara anjing di perut mereka, dan suara kambing d perut kiai,, lalu dgan kiai pergi mngglkan acara trsbut dan mmnta pada Allah

    • Romantika Bima September 28, 2011 / 4:39 am

      iy. memang satu versi begitu.. tp setelah sy wawancarai beberapa narasumber yg lain seperti dalam naskah itu dah. karena para kiyai itu mengetahui bahwa mereka telah mendapat tipu muslihat dan memakan daging anjing, akhirynya mereka murka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s