Tradisi Ngge’e Nuru Dalam Pernikahan Adat Bima-Dompu

Ngge’e nuru maksudnya calon suami tinggal bersama di rumah calon mertua. Ngge’e artinya tinggal, nuru artinya ikut. Setelah pria sudah diterima lamarannya dan  bila kedua belah pihak menghendaki, sang pria diperkenankan tinggal bersama calon mertua di rumah calon mertua. Dia akan menanti bulan baik dan hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.

Datangnya sang pria untuk tinggal di rumah calon mertua inilah yang disebut dengan Ngge’e Nuru. Selama terjadinya ngge’e nuru, sang pria harus memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik kepada calon mertuanya. Bila selama ngge’e nuru ini sang pria memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang tidak sopan, malas dan sebagainya, atau tak pernah melakukan shalat, lamaran bisa dibatalkan secara sepihak oleh keluarga perempuan. Ini berarti ikatan sodi angi diantara dua remaja tadi putus.

Selama Ngge’e Nuru si pemuda tidak boleh berkomunikasi langsung dengan gadis tunangannya. Kalau ada hal yang penting yang ingin di sampaikan , harus melalui orang lain. Menurut adat, tabu bagi si pemuda untuk berkomunikasi langsung dengan gadis tunangannya tanpa ada orang lain sebagai perantara dan saksi.

Selama ngge’e nuru si pemuda harus membantu orang tua gadis (calon mertua) dalam mengurus dan mengerjakan sawah, kebun dan hewan ternak. Upacara ngge’e nuru mengandung tujuan luhur lagi mulia, antara lain sebagai berikut.

    1. untuk melatih kesabaran dan keuletan pemuda sebagai calon suami dan pemimpin rumah tangga sehingga kelak akan menjadi suami dan kepala rumah tangga yang sabar serta ulet.
    2. Masa perkenalan antara calon pemuda dengan calon mertuanya. Sehingga kelak dikemudian hari akan terjalin hubungan yang intim antara menantu dengan mertua.
    3. Masa persiapan bagi pemuda bersama orang tuanya, untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam upacara pernikahan. Teruatama dalam pengadaan dan pembangunan Uma Ruka (Rumah untuk penganten) dan masa nika (emas kawin) atau co’i (mahar)
    4. Masa yang sangat menentukan kelangsungan sodi angi (pertunangan) antara pemuda dan gadis

Hubungan sodi angi akan terputus bila:

1.      Pemuda ternyata memiliki sifat tercela seperti malas beribadah   dan bekerja, suka berjudi, mencuri dan berjina atau mencintai gadis lain.

2.       Si pemuda tidak terampil dalam bidang kanggihi ro kanggama (pertanian) dan ntadi ri ntedi (pertenakan). Si gadis itu terampil dalam bidang mbako ro lowi (masak – memasak), muna ro medi (bertenun), mura ro pako (menanam dan memanen), maka hhubungan sodi angi akan putus.

Kalau hubungan sodi angi terputus karena hal – hal seperti tersebut di atas, maka orang tua dan keluarga akan mersa aib dan malu. Banyak diantara orang tua yang Paki Weki ( mengasingkan diri) dari lingkungannya karena sudah melanggar nilai ” Maja Labo Dahu “ sebagai fu’u mori (pilar kehidupan).

Menurut adat Bima-Dompu, “londo iha” (selarian) merupakan perbuatan yang melanggar hukum agama dan adat. Karena itu perbuatan “londo iha” harus dicegah dan kalau sampai terjadi, maka kedua penganten akan menerima hukum adat yang berat.

Kasus wa’a rai siwe (kalondo siwe) termasuk pelanggaran adat berat yang harus memperoleh hukum yang berat, terutama bagi si pemuda dan orang tua. Mereka telah memaksa seorang gadis untuk dijadikan istri.

Pada masa lalu sering terjadi pertumpahan darah dan pembunuhan akibat kasus londo iha dan terutama wa’a rai siwe atau kalondo siwe. Berbeda dengan adat orang sasak (lombok) yang menganggap londo iha hanyalah cara untuk mempercepat proses pernikahan.(Upacara Adat Pernikahan Masyarakat Bima-Dompu, M. Hilir Ismail dan Alan Malingi )

12 thoughts on “Tradisi Ngge’e Nuru Dalam Pernikahan Adat Bima-Dompu

  1. dou dapatica November 22, 2010 / 1:37 am

    masih adakah budaya seperti itu sekarang??

    • Romantika Bima Desember 3, 2010 / 12:07 pm

      punah, tp perlu digalakkan kembali dalam konteks kekinian…

      • fitri September 15, 2015 / 2:25 am

        Apa hukuman bagi orang bima jika menikahi berbeda suku

    • Romantika Bima Januari 21, 2011 / 7:05 am

      tolong dimuat sumberbnya, kalo diposting lagi diblognya.

  2. Uly Hasnun Maret 4, 2011 / 8:31 am

    bisa tuliskan lagi sesuatu ttg londo iha dan waa rai siwe,,kayanya seru bisa buat sinetron hahahahah apalagi mpe pertumpahan darah

  3. ma'ruf Juni 6, 2011 / 5:14 pm

    tlng muat tentang keunikan bhs bima seperti rahi made, lembo ade, nci’i wura dll. pasti lbh seru. mksh

  4. ma'ruf Juni 6, 2011 / 5:16 pm

    tolong sampaikn salam buat muma hilir isma’il. sy prnh mnjadi penari di sanggar beliau. skrng sy brtugs di kal-tim

  5. judieku Juni 18, 2011 / 10:27 am

    Kerennn dah,,, Ane sangat menyarankan pernikahan Bima dilaksanakan dengan benar2 sesuai ada MBOJO, ga sperti skr, kebanyakan hanya menggunakan acar resepsi lagu2 Band, sungguh beda dengan keadaan di jawa, mereka masih menjunjung tinggi ada pernikahan leluhur beserta lagu daerahnya.

    • Romantika Bima Juli 18, 2011 / 9:42 am

      yups, setapak demi setapak saya lakukan dan memberi pemahaman untuk wisata dan budaya demi kemajuan daerah Dana Mbojo tercinta.

  6. fitri September 15, 2015 / 2:26 am

    Apa hukumannya menikah jika bukan dengan suku bima

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s