Balada Sang Peniup Sarone

Lelaki tua itu masih tetap tegar meski dalam usia yang sudah renta. Dia adalah saksi pasang surut perkembangan seni budaya Mbojo. Jeko panggilan akrab lelaki tua ini. Sehari-hari hidup dari upah yang didapat dari hasil meniup silu dan Sarone, karena hampir seluruh hidupnya diabadikan dengan meniup Silu dan Sarone.

Jeko adalah sala seorang sosok yang hingga saat ini masih peduli dan mencintai seni budaya tradisional Mbojo. Kesedihan tanpak di raut wajah lelaki tua ini jika melihat perkembangan seni budaya tradisional Mbojo yang semakin punah. “ Seperti pepatah Hidup segan Matipun Tak Mau “ urainya ketika saya berkunjung ke kediamannya di dusun Wenggo Kelurahan Penanae.
Hidup sebagai peniup Silu dan Sarone memang tidak menggiurkan. Penghasilan sebenarnya masih jauh dari harapan. Karena orderan untuk meniup Sarone tidaklah setiap hari. Kalau lagi musim hajatan tentu penghasilannya cukup untuk makan dan keperluan hidup sehari-hari. Tapi kalau musim hajatan pernikahan, sunatan dan acara-acara lainnya sepi, Jeko terapksa bekerja di ladang atau menjadi kuli. Itulah panggilan hidup yang dilakoninya sejak istrinya meninggal dunia dan anaknya hijrah ke Jakarta.
Jeko berharap ada kepedulian dari Pemerintah dan elemen terkait untuk upaya pelestarian Seni budaya Mbojo. Misalnya dengan cara menfasilitasi pembentukan sanggar-sanggar seni budaya di sekolah-sekolah dan memberikan bantuan alat musik tradisional kepada sekolah-sekolah termasuk mengundang para seniman sebagai tutor. Langkah itu diyakininya sangat baik untuk melestarikan budaya Mbojo yang berada diambang kepunahan akibat kelalaian generasinya.

Apakah Sarone itu ?

Sarone adalah sebuah alat musik tiup dari Kabupaten Bima Dompu. Alat musik ini termasuk golongan aerofon yang berlidah. Menurut jumlah lidahnya termasuk tipe klarinet karena lidahnya hanya satu, yang menurut bahasa setempat, lidah ini disebut Lera. Bentuk tabungnya adalah konis ( makin lama makin besar)
Sarone, dibuat dari dua bahan pokok yaitu buluh ( jenis bambu kecil) dan daun lontar. Lolo dan anak lolo terdiri atas bulu.. Pada lolo terdapat 6 (enam) bongkang ( lubang) di atas, dan satu lubang di bawah. Cara melubangi dilakukan dengan menggunakan kawat besar yang dibakar. Jarak antara lubang yang satu dengan yang lainnya diukur dengan mengambil ukuran keliling lolo. Sedang lubang yang ada di bawah, jaraknya ½ (setengah)dari jarak antara dua lubang diatas.
Sarone ada yang berlubang lima di atas dan ada yang berlubang 6 (enam) di atas. Sedang lubang dibawah tetap satu. Untuk yang mempunyai lima lubang, nada – nadanya adalah, do, re, mi, fa dan sol. Bila sarone ditup, nada do diperoleh dengan menutup semua lubang, baik lubang diatas maupun lubang di bawah. Nada re diperoleh dengan membuka lubang paling bawah.
Nada mi diperoleh dengan membuka dua lubang nada fa dengan membuka tiga lubang. Sedang nada sol diperoleh dengan menutup lubang kedua dari atas, sementara lubang – lubang yang lain dibuka. Pada serune yang memiliki enam lubang, bertambah satu nada yaitu nada si.

Iklan

4 thoughts on “Balada Sang Peniup Sarone

  1. dhara zhamawa Oktober 21, 2010 / 12:58 pm

    kalo disumbawa papen jaku namanya 🙂

    • Romantika Bima Oktober 22, 2010 / 2:00 am

      kalo di amerika Jeko Jackson namanya. he.he.he…

  2. Isti November 6, 2010 / 7:57 am

    Wah, aku baru tau nih.. alat musik dan ksenian harus trus dilestarikan..
    thanks ya,, untuk tugas skul nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s