Tiang Kasipahu

Jika kita berkunjung ke Museum Asi Mbojo( Dulu Istana Bima), kita akan menemukan sebuah Tiang bendera yang tingginya sekitar lebih dari 50 meter yang dipancang di halaman sebelah barat Asi Mbojo atau di sebelah selatan Lare-Lare(Pintu Gerbang). Orang-orang menyebut Tiang ini dengan nama Kasipahu karena dulu memang tiang ini dibuat dari kayu jati alam yang bernama Jati Kasi Pahu yang berasal dari hutan Tololai Wera. Namun pada tahun 2003, tiang ini roboh karena lapuk dan bagian atasnya patah. Ketua Majelis adat Dana Mbojo Hj. St. Maryam R. Salahuddin, SH (Puteri Sultan M. Salahuddin) mengganti tiang bagian atas yang patah itu dengan kayu jati alam dari kecamatan Wawo.

Bagaimana sejarah berdirinya Tiang ini dan kenapa diberinama tiang Kasipahu ?

Dalam catatan sejarah, Bima pernah memiliki armada laut yang kuat dan disegani di nusantara timur terutama di perairan Flores. Armada laut ini pertama kali dibentuk pada masa pemerintahan Manggampo Donggo dan Ma Wa’a Bilmana pada Abad XV. Armada ini dipimpin oleh Armada laut yang bernama Rato Pabise. Dari nama inilah angkatan laut Bima diberinama Pabise yang terus berkembang hingga menjadi alat kekuasaan kerajaan Bima untuk mengembangkan wilayah hingga ke kepulauan Solor. Sehingga dalam sejarah Bima dikenal dengan Pabise Ma Ka piri Solor (Pabise yang menguasai Solor).

Pada masa pemerintahan Sultan Abdullah (1854 – 1868 M) Armada Angkatan Laut Bima mengalami kesulitan konsolidasi akibat tekanan dari Kolonial Belanda. Berkali-kali Belanda memaksa Sultan Abdullah untuk menandatangani kontrak perjanjian dagang dan masalah hegemoni di laut Flores termasuk intervensi terhadap Armada Laut Bima, namun tetap ditolak oleh sultan Abdullah. Menyadari kondisi yang tidak menguntungkan itu, Sultan Abdullah bersama Ruma Bicara( Perdana Menteri) Muhammad Ya’kub menyusun langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas angkatan perangnya.

Namun pada perkembangan berikutnya Wazir Muhammad Ya’kub melakukan tindakan yang amat drastis, antara lain :

  1. Membubarkan Angkatan Laut Kesultanan Bima, agar tidak dapat diperalat oleh Belanda untuk menghancurkan pejuang Makassar, Bugis, Ternate, dan Tidore yang dianggap sebagai bajak laut oleh Belanda.
  2. Para Pejuang Makassar dan Bugis dilindungi, bahkan diberi kebebasan untuk mendiami daerah Manggarai, disamping melakukan perlawanan terhadap Belanda, juga harus melakukan dakwah.
  3. Gerak gerik Belanda dibatasi serta diawasi
  4. Upeti sedikit demi sedikit dihilangkan.

(Peranan Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara hal 136, M. Hilir Ismail)

Tindakan tersebut memang sangat berdampak pada perkembangan perlawanan terhadap Belanda pada masa selanjutnya. Perwira Angkatan Laut Bima yang disebut Amaral Selatan juga terpencar dan hidup terpisah. Meski berkat adanya tanda pengenal dan kode khusus Amaral Selatan berupa Bendera Oranye dan Tawa-Tawa ( Gong Kecil) yang merupakan kode kesatuan mereka di laut yang kembali mempersatukan mereka.

Untuk mengenang pembubaran Armada Laut itulah Sultan Abdullah dan Wazir Ruma Bicara Muhammad Ya’kub mendirikan monumen Tiang Bendera di depan Istana Bima yang menyerupai Tiang Layar Kapal Perang Angkatan Laut Kesultanan Bima. Kayu tiang itu juga dinamakan Kasi Pahu karena diambil dari Jati Kasipahu. Sebuah jenis kayu jati alam khas Bima yang juga memiliki legenda yang menggambarkan kedekatan hubungan antara Bima dengan Makassar sejak dulu. Dalam legenda itu diceritakan tentang seorang putera Raja Gowa yang terdampar di hutan Tololai Wera untuk mencari ayah dan bundanya yang ternyata adalah Raja Bima. Puteri itu dibesarkan oleh Raja Gowa setelah ditemukan terdampar di perairan Gowa. Namun pada akhirnya Sang Puteri beserta seluruh pengikutnya berubah wujud menjadi kayu jati  sebelum bertemu dengan ayah bundanya.

(Sumber : 1. Ensiklopedia Bima, Muslimin Hamzah, 2. Peranan Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara, M. Hilir Ismail, 3. Jati Kasipahu, Alan Malingi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s