Maskot Daerah Di Kota Agropolitan

Sejak tahun 2003, rencana pembangunan kantor baru mulai dicetuskan. Berbagai pertemuan atau rapat digelar oleh jajaran Pemkot Bima untuk menentukan langkah-langkah yang perlu diambil. Langkah pertama adalah menentukan lokasi, dan kemudian dicapai keputusan, kantor baru  dibangun di lahan yang berada di sebelah timur bangunan kantor Bupati Bima di jalan Soekarno Hatta Raba Bima.

Untuk membuat desain bangunan, Pemerintah Kota Bima menggunakan jasa arsitek profesional. Setelah lokasinya sudah dipastikan, yang harus dilakukan selanjutnya adalah pembebasan lahan yang dimulai dengan proses negosiasi besaran ganti rugi dengan para pemilik tanah. Berikutnya adalah tahap pengurukan. Swakelola proyek pengerjaan pengurukan tanah menelan anggaran lebih dari satu milyar. Kebutuhan kubikasi penimbunan memang besar, karena sebagian lahan tersebut adalah areal persawahan.

Selanjutnya menentukan pelaksana kegiatan pembangunan kantor. Untuk ini dilakukan lelang secara terbuka, yang diikuti oleh lima rekanan yang semuanya berasal dari luar Bima, yaitu tiga rekanan dari Surabaya, satu dari Malang, dan satu dari Mataram. Proses pelelangan terlaksana sesuai dengan Kepres Nomor 80, dengan dipublikasikan melalui surat kabar Media Indonesia tertanggal 26 November tahun 2007, dan dimenangkan oleh PT. Jaya Etika Teknik. Sesuai dengan kontrak, PT yang memenangkan tender akan mulai melakukan proses pembangunan, mulai dari pengerukan, pada tanggal 19 Desember 2007. Berdasarkan hasil verifikasi Panitia Lelang, PT. Jaya Etika Teknik diputuskan sebagai pemenangnya dengan nilai penawaran sebesar Rp. 4,794 Miliar, sesuai dengan pagu dana dalam APBD Kota Bima Tahun 2007 yaitu sebesar 5 milyar rupiah. Sesuai dengan kemampuan anggaran daerah, pembangunan kantor yang disebut sebagai GEDUNG PUTIHNYA BIMA ini  dilakukan secara bertahap.

Untuk pelaksanaan pembangunan tahap kedua, kembali dilakukan tender pada tanggal 26 November hingga 19 Desember 2007. Seperti pada tender tahap pertama, ada lima rekanan yang melakukan penawaran, dan kembali dimenangkan oleh PT Jaya Etika Teknik dengan masa pelaksanaan dari tanggal 19 Desember 2007 hingga 19 Juni 2008. Pagu dana untuk pembangunan tahap kedua ini juga sebesar 5 milyar rupiah. Setelah tahap kedua selesai, pembangunan kembali dilanjutkan untuk menuntaskan bangunan utama, dengan waktu pelaksanaan bulan Maret hingga Agustus 2009, tepatnya tanggal 17 Agustus, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Untuk tahap lanjutan ini pagu dananya sebesar 10,5 milyar rupiah. Walikota serta para pejabat teras Pemerintah Kota Bima beberapa kali melakukan peninjauan untuk melihat sejauh mana proses pembangunan telah dilaksanakan. Minggu ketiga bulan Mei 2009, tahap pembangunan Kantor Walikota telah memasuki tahap pemasangan kubah. Tahapan ini merupakan salah satu tahapan yang paling sulit karena memerlukan perencanaan dan perhitungan konstruksi yang cermat dan matang. Pembangunan tahap berikutnya, atau tahap ketiga, direncanakan akan dimulai pada April 2010 untuk menuntaskan bangunan tambahan. Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku, Kota Bima akhirnya dapat memiliki sebuah kantor pemerintahan yang megah dan dapat menjadi maskot daerah, yang diharapkan akan mampu menunjang peningkatan kinerja Pemerintah Daerah dalam menjalankan tiga fungsinya, yaitu fungsi pemerintahan, fungsi pembangunan, dan fungsi pelayanan masyarakat.(diedit  dari www.humaskotabima.blogspot.com)

2 thoughts on “Maskot Daerah Di Kota Agropolitan

  1. iskandar BinoLLy Juli 9, 2010 / 12:20 pm

    memang “white house” kantor walikota bima merupakan bangunan yang diharapkan bisa menjadi maskot KOTA BIMA..akan tetapi sangatlah disayangkan karena kalau dilihat dari kenyataan bentuk fisik bangunannya tidaklah lebih dari sebuah bangunan yang sederhana dengan skala besar..hal ini dikarena dari tinggi bangunan yang kurang representatif dari maket yang ada..ditambah lagi dengan penempatan kusen-kusen dan pintu kayu yang membuat wajah atau aura gedung yang bernilai milyaran rupiah ini benar-benar tampak sebagai bangunan “SEDERHANA DENGAN SKALA BESAR”…kalau sudah seperti ini masih pantaskah “BANGUNAN ALA WHITE HOUSE” tersebut dijadikan sebagai “LANDMARK sebuah KOTA”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s