Jompa Lambang Supermasi Pangan Bima

Bima pada masa lalu adalah sebuah kerajaan Maritim sekaligus Agraris. Letaknya sangat strategis bagi jalur pelayaran di wilayah Nusantara timur. Pulau-pulau dan teluk-teluk kecil mengitari daerah ini. Gunung, bukit dan hamparan lembahnya adalah penyangga abadi bagi kebutuhan pangan masyarakatnya. Salah satu bukti supemasi pangan di daerah ini adalah ditemukannya Jompa dan Lengge (Lumbung)  atau sejenisnya diberbagai dusun dan desa.

Pada masa lalu, Jompa memiliki multi fungsi. Bangunan sederhana ini berfungsi sebagai tempat menyimpan padi menghadapi musim kering atau paceklik serta mengantisipasi bahaya banjir agar stok makanan tetap tersedia. Disamping itu Jompa atau Lengge juga dibagian bawahnya berfungsi sebagai tempat untuk memelihara ternak seperti unggas dan kambing. Pada masa-masa pra sejarah Lengge dan Jompa juga berfungsi sebagai tempat tinggal.

Struktur Jompa merupakan miniature dari rumah adat Bima setelah mendapat pengaruh dari budaya Makassar. Jompa memiliki empat Tiang, berbentuk segi empat dengan ukuran satu setengah meter kali satu setengah meter atau dua meter kali dua meter. Atapnya terbuat dari daun alang-alang yang dikeringkan dan dirajut tebal. Dinding Jompa adalah papan-papan yang berasal dari pohon Jati Alam yang kuat dan tahan lama. Demikian pula tiang-tiang penyangganya. Sehingga sampai sekarang Bangunan Jompa ini masih ada di desa-desa meskipun hanya tinggal beberapa saja yang dapat ditemukan di setiap dusun dan desa.

Menurut Sejarahwan M. Hilir Ismail Jompa mulai ada semenjak masyarakat Bima mengenal pola bercocok tanam dengan sistim menetap setelah meninggalkan pola bertani dengan sistim Nomadden (Berpindah-pindah).  Diperkirakan Jompa ini dibangun dalam pola masyarakat Paguyuban tepatnya pada masa Ncuhi yaitu masa dimana masyarakat Bima dipimpin oleh Tokoh kharismatik yang memiliki keahlian, kesaktian dan juga kepintaran terutama dalam hal bercocok tanam. Masa Ncuhi ini dalam pembabakan sejarah Bima disebut masa Proto Sejarah atau Ambang Sejarah yaitu masa transisi antara zaman prasejarah dengan zaman Sejarah. Dari analogi di atas, bias diprediksi bahwa Jompa sebenarnya telah ada pada sekitar Abad ke 14 Masehi.

Di beberapa wilayah seperti di kecamatan Lambitu (Sambori, Kuta, Teta, Tarlawi) di kecamatan Wawo, Donggo dan Soromandi Jompa dan Lengge ditemukan meskipun hanya beberapa saja yang difungsikan sebagai tempat menyimpan padi atau hasil panen lainnya. Di kelurahan-kelurahan di pinggiran Kota Bima pun Jompa masih ditemukan meskipun tidak lagi berfungsi sebagaimana dulu.

Namun Jompa dan Lengge adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kenangan dan romantika sejarah Bima yang panjang dan berliku. Dia adalah serpihan kenangan terindah dari masa lalu beserta pendukungnya karena pada malam hari ketika musim panen tiba, muda mudi mengumpulkan dan mengikat batang-batang padi untuk disimpan di atas Jompa sambil bersenandung, berpantun dan bersyair diiringi musik Biola dan Gambo(Gambus)  untuk mempersiapakan hidup menghadapi masa-masa sulit. Inilah sebuah kearifan dan keluguan para pendahulu kita yang akan terus dikenang hingga akhir masa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s