Kitab BO Yang Semakin Lapuk

Salah satu bukti tertulis pasang surut serta dinamika perjalanan sejarah Bima adalah Kitab BO. Keadaan Kitab sejarah tersebut kini menghawatirkan dan perlu langkah penyelematan dari semua pihak terhadap dokumen-dokumen penting yang merekam hitam putihnya sejarah Bima pada masa lalu. Jika ini tidak dilakukan, anak cucu kita akan kehilangan sesuatu yang berharga warisan leluhurnya. Mereka akan menjadi orang asing di tanahnya sendiri.

Saat ini Kitab BO yang asli memang tersimpan di Museum Samparaja Bima. Meskipun sudah ada upaya-upaya membukukan BO ini oleh Ibu Siti Maryam Rachmat dan Henry Chamberloir. Tapi sebenarnya masih banyak tulisan-tulisan dalam BO yang belum diterjemahkan dan diuraikan. Ini tentunya perlu mendapat perhatian serius dari semua kalangan. Oleh karena itu, catatan ini saya angkat ketika melihat dokumen foto kunjungan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud, MD ke Museum Samparaja Bima.

Sebagai gambaran perlu saya kemukakan dalam catatan ini. Istilah BO belum diketahui dengan pasti. Ada yang berpendapat bahwa BO mungkin berasal dari Bahasa Belanda STAM BOOM yang diterjemahkan sebagai silsilah keturunan. Namun ada juga yang berpendapat BO berasal dari Kata Tambo yang berarti Sejarah.Pendapat lain mengatakan bahwa BO berasal dari kata Bahasa Inggris Book.

Menurut Almarhum H. Abdullah Tayib, BA dalam Bukunya Sejarah Bima Dana Mbojo BO berasal dari kata Tambo yang berarti Sejarah. Hal ini dengan pertimbangan antara lain isinya mengandung catatan kejadian sejarah, bahasa dan aksara melayu yang dipergunakan merupakan perwujudan keintiman hubungan Bima dengan kerajaan di pesisir timur Sumatera.

Kitab BO ditulis pertama kali pada masa pemerintahan Raja Manggampo Jawa. Versi lain mengemukakan bahwa BO ditulis pada zaman Tureli Nggampo La Mbila anak Bilmana menggunakan aksara Bugis dan Bahasa Bima di atas Daun Lontar. Sisa BO lontar itu masih tersisa hingga tahun 1935. Pada tahun 1050 H Sultan Abdul Kahir I memperbaharui BO menggunakan kertas menjadi buku dengan aksara Arab-Melayu.

Menurut M. Hilir Ismail bahwa Kitab BO yang pertama ditulis pada masa pemerintahan Raja Manggampo Jawa pada abad ke-14 oleh salah seorang Juru Tulis Istana yang bernama Ajar Panuli. Kitab BO ini ditulis dalam Aksara Jawa Kuno. Namun sayang Kitab BO ini sudah tidak ditemukan lagi. Penulisan selanjutnya pada masa pemerintahan Raja Manggampo Donggo dengan menggunakan Aksara Makassar. Dan barulah pada Masa Abdul Khair Sirajuddin pada abad ke-17 BO ditulis oleh Bumi Parise(Juru Tulis Istana) seperti yang dijumpai saat ini. BO juga ada di tengah-tengah masyarakat yang ditulis oleh Gelarang yang dibantu oleh Matua Ma Tengi Sara di setiap desa dan kampung semacam sebuah laporan kepada Sultan seperti BO Nggana Ro Nggina( Kelahiran), BO Nika Ra Neku( kegiatan perkawinan), BO Ntadi Ro Ntedi ( Pertanian), BO Ngango Ra Ngora ( Masalah perkelahian), dan peristiwa-peristiwa lainnya yang dilaporkan kepada Sultan melalui Bumi Parise dan dikumpulkan kemudian dilaporkan kepada sultan pada setiap bulan ramadhan. Kenapa dilakukan pada bulan ramadhan ? Hal itu terkandung maksud agar laporan itu mengandung nilai kejujuran yang tinggi karena ditulis dan dirangkum pada bulan ramadhan.

Kitab BO adalah milik nasional yang harus diselamatkan dari kepunahan. Sebab masih banyak tabir sejarah Bima dan Negara ini yang perlu diungkap dari Kitab BO. Semoga saja ada pihak-pihak yang peduli.(sumber : Museum Samparaja)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s