U’A PUA Dipersimpangan Zaman

Hari ini aku betul-betul sedih menyaksikan atraksi dan Upacara Adat Hanta U’A Pua yang sepi pengunjung. Perayaan yang pernah spektakuler di masa lalu itu kini sepertinya hanya tinggal puing-puing kenangan.

Salah satu fakta yang tak terbantahkan adalah ketidaktauan masyarakat tentang perayaan UA PUA. Hari ini masyarakat Bima kaget bahwa dari kampung melayu hingga Asi Mbojo ada perayaan U’A Pua. Inilah bukti bahwa sosialisasi dan promosi kegiatan yang masih sangat dangkal di kalangan Panitia pelaksana. Ini menjadi sebuah catatan penting bahwa perayaan seperti ini harus betul-betul tersosialisasi dengan apik baik dalam kepentingan pelestarian budaya maupun promosi wisata.

Seharusnya pada acara-acara seperti ini yang dihadiri oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, ditampilkan berbagai atraksi budaya sambil menanti kedatangan rombongan penghulu melayu bersama rumah mahligai yang mengusung penghulu melayu, panari lenggo mone dan lenggo siwe yang akan menyampaikan Kitab Suci Alqur’an kepada Sultan Bima. Bunyi dan alunan gendong, Gong serta Serunai baru mulai tampak sesaat sebelum rombongan penghulu melayu memasuki Istana Bima. Inilah yang menyedihkan saya dan menjadi tanda tanya besar dalam benak saya tentang eksistensi kesenian tradisional Bima di tengah arus modernisas saat ini.

Perayaan U’A PUA dan pelestarian kesenian tradisional ini adalah salah satu upaya untuk melestarikan warisan yang tak ternilai dari para pendahulu Dana Mbojo. Perlu ada sebuah gerakan bersama untuk pelestarian ini misalnya dengan memberikan bantuan alat-alat musik tradisional kepada sekolah-sekolah dan kampus-kampus yang ada di Bima dan mendorong serta menfasilitasi pembentukan komunitas dan sanggar-sanggar seni budaya tradisional Bima. Hanya dengan cara itu, eksistensi seni budaya ini akan terus dapat kita pertahankan mengingat para seniman tradisional saat ini sudah banyak yang udzur dan butuh regenerasi.

Hanta UA PUA dan kesesnian tradisional Bima kini berada pada sebuah persimpangan. Sekarang tinggal kita yang memilih. Akankah dia dilestarikan untuk generasi mendatang atau tetap seperti ini, hilang perlahan ditelan perubahan Zaman ?

2 thoughts on “U’A PUA Dipersimpangan Zaman

  1. Lis Lilis Maret 3, 2010 / 2:42 am

    sebenarnya bagus bangat adanya U’A Pua tapi kenapa U’A Pua sekarang hanya di anggap sebelah mata saja, dimana budaya dulu selalu mengadakan dan merayakan itu trsbut, tapi skrang udah hlang perlahan-lahan, akankah dia akan kembali seperti sedia kala lagi???

    • alanmalingi Maret 4, 2010 / 12:47 pm

      lis, perlu sebuah gerakan bersama untuk peduli budaya mbojo ini. aset sejarah dan budaya kita sangat byk. inilah kelalain generasi yang harus kita ingatkan kembali. Selama ini saya terus melakukan upaya mengangkat budaya Mbojo, mungkin dengan cara inilah ada kesadaran dan kepedulian untuk mengangkatnya…trims atas kunjungan dan komentarnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s