Oleh: Alan Malingi | Maret 11, 2013

Mengenal Pakaian Adat Pejabat Istana Bima

ImageSebagai sebuah daerah kerajaan dan kesultanan, Bima memiliki banyak warisan budaya. Salah satunya adalah pakaian adat. Tata busana ini merupakan aturan protokoler yang turun temurun dikenakan masyarakat Bima. Khusus di lingkungan Istana, ada aturan tata busana yang telah ditentukan Majelis Adat Sara Dana Mbojo yaitu pakaian para pejabat Majelis Adat, termasuk Sultan dan Perdana Menteri. Pakaian adat pejabat mejelis hadat adalah pakaian para pejabat pemerintahan kesultanan Bima. Jenis ragamnya disesuaikan dengan jenjang kepangkatan dan tugas masing – masing pejabat. Pakaian tersebut, hanya boleh dipakai ketika menjalankan tugas atau waktu mengikuti upacara hari – hari besar kesultanan dan upacara adat yang disebut “rawi ne’e ma tolu kali samba’a”. yaitu upacraa adat besar yang dilaksanakan tiga kali setahun. Meliputi ndiha Molu (Maulid) yang dimeriahkan dengan upacara Ua Pua, Ndiha Aru Raja To’I (hari raya idul fitri) dan Ndiha Aru Raja Na’e (hari raya idul adha).

                  Pakaian adat mejelis hadat, terdiri dari berbagai jenis sesuai dengan kepangkatan para pejabat, yaitu sebagai berikut :

  1.  Pakaian Sultan, Meliputi :

a)    Pakaian kebesaran yang dipakai ketika di tuha ro lanti (dinobat dan dilantik) menjadi sultan, terdiri dari :

     Mahkota (songko masa)dari emas dihiasi berlian dengan ragam hias bunga samobo dan bunga satako. Simbol kecerlemangan otak dan pikiran sultan bersama masyarakat.

     Samparaja, keris pusaka raja atau sultan yang terbuat dari besi bertuah, sarung dan hulu keris dibuat dari emas dan intan permata dihiasi ragam hias bunga samobo dan bunga satako. Simbol keberanian dan keperkasaan sultan bersama rakyat.

     Baju pasangai (jas tutup) berwarna hitam dihiasi dengan sulaman benang emas dan perak.

     Celana panjang (sarowa dondo) berwarna sama dengan warna baju.

     Paju ro’o ta’a (payung daun lontar). Dibuat dari daun lontar dihiasi dengan aksesoris emas dan perak, sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran seluruh masyarakat yang bernaung dibawah kekuasaan kesultanan Bima.

     Dipi umpu, yaitu tikar yang dianyam dengan halus dibuat dari daun lontar, dihiasi dengan sulaman benang emas dan perak. Tempat duduk sultan ketika di tuha ro lanti dan dalam menjalankan tugas sehari – hari.

 

b)    Pakaian Harian Sultan

      Siki lanta adalah pakaian yang dipakai dalam menjalankan tugas sehari – hari, yang terdiri dari :

  1.                                        i.      Baju ja tutu lanta (baju jas tutup putih). Kancing baju dibuat dari emas
  2.                                      ii.      Sarowa dondo lanta (celana panjang putih).
  3.                                     iii.      Siki bersulam benang emas
  4.                                   iv.      Baba masa (ikat pinggang dari emas)
  5.                                     v.      Sampari masa (keris, hulu dan sarungnya dai emas)
  6.                                   vi.      Songko pangge ta’a pinggi masa (songkokpangge ta’a yang pada pinggir dan pucuknya dihiasi dengan emas.

               Selain siki lanta, pada waktu menghadiri upacra adat, sultan sering memakai “pasangi”, yaitu baju dan celana dari satin berwarna hitam. Kelengkapan lain sama dengan kelengkapan pamakaian siki lanta.

 

  1. Pakaian Rumah Bicara (Perdana Menteri)

            Jenis dan warna serta aksesoris hampir sama dengan pakaian  harian sultan yang berbeda hanyalah ukuran berat emas yang dijadikan hiasan pada keris dan songko pangge ta’a antara keduanya.

  1. Pakaian Tureli (Menteri), Jenelli, Rato Dan Bumi

            Jenis pakaian yang dipakai oleh tureli, jeneli, rato dan bumi hampir sama dengan pakaian ruma bicara, yang membedakannya adalah kerat dan berta emas yang menjadi hiasan pada keris dan songko pangge ta’a.

  1. Pakaian Galara (Gelarang) sederajat dengan Kepala Desa Atau Lurah, memakai busana ja tutu me’e (jas tutup hitam), terdiri dari :

a)    ja tutu me’e (jas tutup hitam), pada lehernya dihiasi sulaman benang emas.

b)    Sombolo songke (dester songket) berwarna kuning emas dan coklat dengan ragam hias kakando dan pado waji. Diluar sambolo ditutup dengan kain putih simbol kesucian dan keihklasan hati dalam menjalankan tugas.

c)    Keris, hulunya ditutup dengan pasapu monca (sapu tangan kuning), mengandung makna keris bukan untuk membunuh tetapi untuk melindungi rakyat dan negeri dari serangan musuh.

About these ads

Responses

  1. Tulisan keren. tapi, Akan lebih seru kalau ada fotonya pak.. :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.