Oleh: Alan Malingi | Mei 17, 2011

Sekilas Tentang Patu Mbojo

         (Dikutip Dari Buku Galery Pantun Bima-Dompu Karya Alan Malingi)

Upaya untuk mengumpulkan dan membukukan Patu Mbojo-Dompu merupakan salah satu rangkaian dari upaya pelestarian budaya lisan ini agar tidak hilang dari generasinya. Upaya seperti ini sebenarnya telah dilakukan oleh putra-putra daerah Mbojo-Dompu yang peduli terhadap keberadaan dan kelestarian Budaya Mbojo terutama syair dan pantun sebagai budaya lisan yang telah hidupa dan berkembang dalam jiwa masyarakat pendukungnya selama berabad-abad lamanya.


Selama dua  dekade terakhir telah ada rintisan upaya membukukan Patu Mbojo- Dompu antara lain oleh Almarhum Prof. Abdul Karim Sahidu, Dkk dan dilanjutkan oleh Bapak Anwar Hasnun dengan menerbitkan buku  “ Struktur dan Isi Pantun Bima “ . Kehadiran buku tersebut yang dipaparkan secara detail mengenai struktur dan isi Pantun Bima sangat bermanfaat dan memberikan pengetahuan kepada publik di Bima- Dompu terhadap keberadaan Patu Mbojo itu sendiri.

Untuk itu, penulis mengutip beberapa intisari pemikiran Bapak Anwar Hasnun dalam buku “ Struktur dan Isi Pantun Bima “ terutama yang berkaitan dengan sejarah, fungsi, isi, irama, serta jumlah baris  dalam Patu Mbojo sebagai berikut : 

Patu Mbojo(Pantun Bima)  adalah jenis sastra lisan Bima yang masih berkembang sampai sekarang, dari pelosok desa sampai masyarakat kota. Dalam proses sosialisasi masyarakat, seperti acara perkawinan, menanam padi atau menanam bawang dan kegiatan lain yang menyangkut hiburan masyarakat, pantun Bima memiliki porsi tertentu. Dalam syair Rawa Mbojo (Lagu-lagu berbahasa Bima)  yang menggunakan biola, gambus, atau gabungan biola dan gambus, biola ketipung, syair lagu yang mereka gunakan adalah pantun. Di samping itu pantun Bima dii pergunakan dalam situasi tertentu, seperti untuk menasehati anak bagi orang tua, penganten baru sebagai pembekalan dalam membina hidup baru, dilakukan dirumah dalam jumlah yang terbatas oleh orang tua terentu.

Menyikapi posisi pantun Bima yang berkembang di tengah – tengah masyarakat yang tetap mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan masyarakat pemiliknya. Sebab, semasih masyarakat Bima menggunakan bahasa daerah Bima sebagai alat berkomunikasi sekaligus sebagai alat ekspresi jiwa secara estetis pantun Bima tetap tak terpisahkan dengan jiwa masyarakat Bima.

Ada dua fungsi pantun Bima yang sangat dominan sekarang yaitu sebagai media pendidikan dan media hiburan. Sebagai media pendidikan, bukan pendidikan formal tetapi nonformal seperti pendidikan budi pekerti, pendidikan Agama. Pantun Bima sebagai media pendidikan adalah mengungkapkan eksistensi manusia dari berbagai aspek kehidupan dengan berpijak kepada 4 landasan. Pertama, hubungan manusaia dengan dirinya, kedua, manusia dengan sesamanya, ketiga hubungan manusia dengan tuhannya, empat, hubungan manusia dengan lingkungan alamnya.

Pantun Bima hadir bersama masyarakat pendukungnya, meski tiidak diketahui siapa penggagas dan pengucap pertama karena bentuknya lisan yang telah dikatagorikan sebagai sastra lisan. Namun demikian, amanah yang diemban tetap berpegang kepada prinsib “milik bersama dan diwariskan secara turun temurun”. Isinya dihayati, dipahami dan dilaksakan sesuai pesan tersirat dan tersurat.

Isi Patu Mbojo

Isi atau kandungan pantun Bima berisi (bertema) pendidikan, keagamaan seperti sholat ketuhanan, surga dan neraka, naik haji serta pantun berisi akhirat, percitaan. Menguraikan tentang isi (tema) pantun tersebut tetap mengacu kepada pesan yang dikandung kata setiap baris, baris setiap bait, kemudian secara keseluruhan masing –masing bait.

Bahasa daerah Bima meskipun fonem sama dengan fonem bahasa Indonesia, tetapi memiliki perbedaan bunyi dan perbedaan arti. Seperti fonem / b / dan / d /, fonem / b / dan / d / sesuai bunyi aslinya, fonem / b / dan / d / bunyinya agak ringan, bunyi implusif (letupan kedalam). Misalnya,  Fonem / b / dan / d / yang diucapkan dengan ringan (inplusif) diberikan tanda (-) diatasnya.

Masalah terjemahan ditempuh dua cara, pertama mengikuti / menterjemahkan menuruut urutan kata sesuai potensi yang dimiliki kata yang bersangkutan. Kedua menjelaskan maksud yang terkandung dalam kata yang bersangkutan dengan tidak memahami urutan kata. Cara yang kedua dilakukan karena makna kata pertama kadang – kadang mirip / tercakup pada kata yang kedua, sebab penempatan kata ddalam pantun Bima disamping keserasian makna, juga keserasian bunyi. Kata – kata yang memiliki keserasian bunyi tetap memilki perbedaan arti. Dalam menyikapi hal tersebut setiap bait pantun tetap di ulas makna dan tema yang dikandungnya.

Bait Dan Baris Dalam Patu Mbojo

Menurut Aminudin, baris / larik pada umumnya merupakan satuan yang lebih besar dari pada kata dan mendukung satuan makna tertentu. Dalam pantun Bima baris yang satu mempunyai hubungan erat dengan baris yang lainnya.

Kumpulan baris dalam pantun disebut bait, atau satuan yang lebih besar dari baris disebut bait. Menurut Altenbernd, bait adalah satuan bait yang timbul secara berturut – turut serta saling berkaitan dengan kerangka persajakan (A. Karim Sahidu, DKK).

Jumlah baris pantun Bima tidak tetap, mulai dari tiga baris sampai enam baris sebait. Jumlah baris yang banyak dijumpai tiga barris dan empat baris. Pantun Bima yang lima baris dan eman baris sebait hanya sedikit jumlahnya. Beberap cntoh pantun yang tiga baris, empat baris dan lima baris.

       Patu Tiga Baris          : Dongaku Wura ade Nahu Sawero

                                                  Dongaku ntara ade nahu kantero 

                              Ade lalai samada sia ma lao

                              (Kupandang langit hatiku bimbang

                                                  Kutatap bintang hatiku menggantung

                                                  Mengenang dirinya yang telah pergi jauh )

 

       Patu Empat Baris      : Ridi Rumasi dine-emu kambeke

                                                Dodopu ninumu di saninu

                                                Warasi ninumu warajampa Ruma

                                                Warasi Nggomi poda wara Ruma

                                

                             (Bila Tuhan ingin ditanyakan

                                                 Lihat bayanganmu pada cermin

                                                Adanya bayangan tanda adanya  tuhan

                                                 Adanya engkau pertanda adanya tuhan)

Patu Lima Baris                     : Auku didina dou ma made

                                                 Haju sarigi tanda ncai saroga

                                                 Na ncuri ro’ona samba’a salela

                                                  Dipoke sai ndai jabara’i

                                                  Disangko ara ndai muhamma

 

                                                ( Apa pesan orang yang meninggal

                                                  Kayu Sarigi pintu surga

                                                  Daunnya keluar setahun sehelai

                                                   Untuk dipetik oleh jibril

                                                  Dijadikan kopiah Arab oleh Muhammad )

Irama Dalam Patu Mbojo

Irama adalah gerakan berturut – turut secara teratur, turun naik lagu (bunyi) yang beraturun (ritme). Aturan yang terjadi karena perulangan kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek bunyi, keras lembut tekanan dan tinggi rendah nada dan pantun.

Menurut Djoko Pradoko, irama timbul karena perulangan bunyi berturut – turut dan berfariasi baik oleh irama, perulangan kata, perulangan baris, tekanan kata, sifat – sifat konsonan dan fokal serta kelompok sistansis.

Antara bunyi dan irama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam pantun Bima (A. Karim Sahidu, DKK). Irama sebagai ungkapan emosi merupakan syarat keindahan, tanpa irama kurang memberikan arti dalam pengungkapan pantun Bima.

Sebab irama mempunyai fungsi tersendiri dalam memberikan arti terhadap sebuah pesan. Kekuatan pantun Bima disamping memiliki potensi kata, bunyi irama juga mampu menciptakan suasana sehingga setiap pesan yang disampaikan mampu memberikan arti secara total litas.

Proses penciptaan irama bagi penutur pantun Bima melalui pengolahan fokal dan konsunan yang ditata dan diramu secara fariasi dan berulang – ulang, disamping kombinasi pasangan kata, frase serta baris.

            Kidi ka kidi poda nggomi weki

Dahu ka dahu poda  nggomi ede

Indo poda dana mada ngaha nggomi

 

(Berdirilah untuk menentukan dirimu

Takutlah aduhai hati

Tiada  tanah yang tidak memakanmu)

Pantun tersebut kita saksikan bunyi k, p, ngg pada kata “kidi” (berdir), “nggomi” (engkau), “poda” (benar). Meskipun berdiri sendiri (tanpa pasangan) bunyi, tetapi mampu menciptakan irama, dan memaksa penutur untuk mengatur tempo pengucapan pada tiap – tiap baris.

Perhatikan contoh berikut :

Monca kanggado mai tantanda dou mangguda

Rakasi mangge aina lampa manggi

Nditio kai betana amania mabatu

(Si cantik mari pergi menonton orang menanam

Tiba (bila)  sampai di pohon asam jangan

Jalan pelan

Untuk melihat keuletan  pemuda yang ikut)

Menciptakan dan mencari pasangan kata dalam pantun Bima bukan asal – asalan, dalam pengertian dicari kata yang mirip / sama bunyinya, dengan prinsip pesan apa yang ingin di sampaikan dalam pasangan kata tersebut.

Kata “kanggado”, “mangge” “beta-na”, temponya / ritmennya agak tinggi bila dibandingkan dengan kata “manggudu”, “manggi”, “batu”.

Watija sinciku badawa’a sonco

Watija tulaku badawa’a tolo

Katula te’e weki mbui pu to’i

 

(Tidak menyesal karena tidak membawa oleh – oleh

Tidak menolak karena tidak membawa kebun

Kutolah karena diriku masih kecil)

Pantun disebut beberapa kata diulang, hal ini dimaksudkan untuk untuk memperoleh makna, juga menciptakan irama tertentu.

Perbedaan Patu Mbojo Dengan Pantun Melayu

Menurut Anwar Hasnun, struktur Patu Mbojo kebanyakan tiga sampai empat baris setiap bait, meskipun ada juga yang lima sampai enam baris tetapi dalam jumlah yang terbatas. Dari segi persajakan tidak terikat seperti pantun Melayu, namun pantun Bima lebih mementingkan keserasian dan keterpaduan bunyi. Kata yang dimiliki patu Mbojo memiliki makna konotatif dan denotatif. Dalam menempatkan dan memilih kata, penutur patu mbojo dulu sangat selektif, sehingga keserasian, bunyi, irama dan makna merupakan hal yang sangat penting. Bahasa kiasan yang digunakan sangat dominan dan bervariasi, seperti menggunakan gaya perulangan, perbandingan, sinisme, dan pesonifikasi. 

            Contoh Pantun Melayu :

           

Kalau Ada Sumur Di ladang

Bolehlah kita menumpang mandi

            Kalau ada umur yang panjang

Bolehlah  kita berjumpa lagi          

 

Contoh Patu Mbojo- Dompu

 

Aina mbou baloa sambea

Niki padasa raka kaimu dosa

Ncarasi cambe jabara’i ma cambo

Ncarasi renta jabara’i ma rente

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 105 pengikut lainnya.